Ada dua jenis kebiasaan yang kita warisi karena perlu, dan yang kita
pelihara karena nyaman. Buang sampah sembarangan tergolong keduanya—sebuah
singkatan canggung antara ketidaksengajaan dan kelaziman. Saat kita
melempar bungkus makanan lewat jendela motor atau menaruh gelas plastik di
sudut taman, bukan hanya benda yang jatuh; ada janji kecil yang teringkari
terhadap ruang bersama. Artikel ini bukan kuliah moral. Ini undangan
membaca apa yang terjadi ketika kebiasaan kecil bertemu sistem
besar—sebuah pembacaan praktis, terselip rasa, dan sedikit urat marah yang
konstruktif.
BAGIAN A - Realitas
Matahari pagi sering membias di tumpukan sampah — bukan karena matahari
memilih sisi tertentu, melainkan karena kebiasaan manusia menumpuknya di
sana. Di kota-kota, kantong plastik, bungkus snack, puntung rokok, dan
botol air minum menjadi aksesoris jalan: selalu ada, hampir seolah-olah
berada di sana atas nama modernitas. Perasaan risih kadang kalah cepat
oleh keletihan—ketika tubuh lelah, pikiran menawar: "sekarang saja, nanti
dibersihkan." Siapa yang membersihkan kemudian? Petugas kebersihan yang
kelelahan, relawan yang capek, atau generasi berikut yang mewarisi
estetika berantakan.
Fenomena ini bukan sekadar soal etika individu; ia muncul di persimpangan
infrastruktur, kebijakan, dan norma sosial. Di banyak tempat, ketersediaan
tempat sampah rendah di titik-titik kritis, sistem pengumpulan tidak
konsisten, dan pesan pengelolaan sampah lemah. Namun ada juga lapisan
psikologis: ketika lingkungan sudah kotor, orang cenderung meniru —
melihat sampah membuatnya terasa "normal" untuk membuang sampah. Itu bukan
alasan yang menghentikan kita, melainkan jebakan deskriptif normatif:
kebiasaan kolektif yang menyaru sebagai izin pribadi.
Benda-benda itu berbicara. Mereka memberi tahu pengamat: "Di sini boleh."
Pesan itu bukan hanya visual—ia menggerakkan rasa aman untuk melanggar
aturan halus. Dan ketika kita bilang, secara administratif, bahwa taman
atau jalan itu 'umum', kita juga mengaburkan tanggung jawab: kumpulan
individu yang merasa tindakan kecil mereka tak terhitung. Padahal, ketika
tindakan kecil-tak-terhitung itu berulang, dampaknya kolektif dan nyata:
penyumbatan saluran air, penyakit, degradasi ruang publik, dan menurunnya
harga estetika yang sebenarnya juga berpengaruh pada perekonomian
lokal—turis, investasi, dan bahkan rasa punya yang tergerus.
BAGIAN B - Filosofi
Mari mundur sejenak dan lihat sampah sebagai tanda tanya eksistensial.
Dalam wacana filsafat sosial, tindakan kecil yang berulang membentuk
tatanan; struktur tidaklah entitas yang independen—ia adalah rekaman
kebiasaan seseorang. Jika setiap warga kota menerima norma "membuang
sampah di jalan itu normal", maka norma itulah yang memberi ruh pada
ruang. Kita perlu membaca ulang: apakah ruang publik adalah aset yang
harus dimaksimalkan, atau sekadar wadah yang bisa ditolerir?
Ada dua jenis norma yang bertengkar di sini: norma deskriptif (apa yang
orang lihat orang lain lakukan) dan norma injunktif (apa yang seharusnya
dilakukan). Ketika deskriptif dan injunktif bertentangan—misalnya,
instruksi "jangan membuang sampah" sedangkan lingkungan penuh
sampah—deskriptif sering menang. Ini adalah arena pertempuran ide: antara
apa yang kita saksikan dan apa yang kita percayai benar. Penanganannya
bukan hanya soal memberi tahu orang bahwa mereka salah, melainkan mengubah
konteks sehingga tindakan yang diinginkan menjadi lebih mudah, lebih
terlihat, dan lebih dihargai.
Analoginya sederhana: bandingkan dua restoran yang sama enaknya, tapi satu
bersih dan stafnya sigap memungut piring sisa, sementara satu lagi
berantakan. Mana yang lebih mungkin dikunjungi ulang? Kebersihan adalah
sinyal — sinyal perawatan, tanggung jawab, dan kapasitas manajemen. Begitu
juga lingkungan: ketika ruang dirawat, orang cenderung merawat kembali.
Ini bukan sekadar estetika; ini soal modal sosial—kepercayaan antarwarga,
rasa memiliki, dan ekspektasi bahwa tindakan saya mencerminkan identitas
kolektif. Di sini masuk juga bahasa korporat: "brand kota" adalah janji
yang harus dipenuhi. Sebuah kota yang membiarkan sampah menumpuk mengirim
pesan buruk pada stakeholder: warganya, investor, dan pengunjung.
Tokoh-tokoh sosiologi perilaku mengingatkan bahwa perubahan besar berawal
dari percabangan kecil: pemimpin lokal yang konsisten, kampanye yang
cerdas secara psikologis, dan desain lingkungan yang memfasilitasi
kebiasaan baik. Studi empiris menunjukkan bahwa intervensi
perilaku—misalnya menambah tempat sampah di titik strategis, memberi tanda
normatif yang jelas, atau menggunakan 'nudges'—bisa menurunkan tingkat
pembuangan liar bila dirancang dengan pemahaman konteks lokal. Ini bukan
sulap; ini rekayasa pilihan yang sadar—mengatur arsitektur keputusan
supaya pilihan bertanggung jawab menjadi default.
Kita juga harus waspada terhadap solusi yang sombong: hukuman keras tanpa
perbaikan infrastruktur akan menciptakan resistensi, bukan kepatuhan.
Begitu pula kampanye moral yang memojokkan warga berisiko memicu
pembalikan perilaku—orang akan lebih sering menyangkal peran mereka
daripada berubah. Solusi berkelanjutan menggabungkan tiga pilar:
infrastruktur (tempat sampah, layanan), norma sosial (penanda, contoh
publik), dan edukasi berulang yang relevan bagi konteks sehari-hari—bukan
kuliah panjang yang didengarkan satu kali lalu lupa.
BAGIAN C - Pertanyaan Terbuka
Bayangkan menit kecil di mana Anda memegang bungkus roti; dua pilihan
melintas: menyimpannya sampai menemukan tempat sampah, atau melemparkannya
ke pinggir trotoar. Pilihan itu terlihat sepele, namun berulang kali, ia
membentuk dunia. Jika setiap orang menunda satu kebaikan kecil, dunia
terkikis oleh tumpukan kebiasaan buruk. Di tingkat personal, ada
perdebatan batin: apakah saya punya kapasitas untuk menahan diri; apakah
mengubah kebiasaan itu layak usaha? Jawabannya sering sekali kembali pada
identitas: apakah saya melihat diri saya sebagai bagian dari komunitas
atau sekedar penghuni sementara?
Ada juga rasa malu terselubung: kita tahu larangan tetapi seringkali tetap
melakukan. Rasa itu bukan bukti kegagalan moral semata, melainkan sinyal
bahwa sistem di sekitar kita tidak mendukung pilihan baik. Ketika tempat
sampah jauh, atau ketika semua orang di situ melakukannya, tindakan baik
menjadi ekstra-biaya—sebuah ektra-work yang tidak layak menurut kalkulus
malas. Maka tugas kolektif adalah mengurangi 'biaya' itu—membuat tindakan
bertanggung jawab lebih mudah daripada alternatifnya.
Pertanyaan terbuka yang layak disimpan: bagaimana mengubah ritual harian
tanpa memaksa? Bisakah kota merancang 'tekanan sosial positif'—lingkungan
yang memperkuat tindakan baik lewat kebiasaan visual, musik, tata letak,
dan kebijakan mikro yang terasa wajar? Bagaimana kita menyeimbangkan
penegakan hukum dengan empati—membantu mereka yang belum punya kapasitas
untuk berubah ketimbang hanya menghukum? Dan yang paling penting:
bagaimana memupuk rasa memiliki sehingga warga tidak lagi melihat sampah
sebagai masalah 'orang lain'?
Penutup (reflektif & menggantung)
Sejahtera bukan hanya angka di laporan keuangan—ia teranyam dari
kenyataan-kenyataan kecil: udara yang bersih, sungai yang tak tersumbat,
taman yang tak penuh bungkus. Buang sampah sembarangan adalah tindakan
mikro yang merusak jaringan itu. Mengubahnya bukan soal melipat tangan
pada kemarahan moral, melainkan merakit ulang lingkungan supaya kebiasaan
baik menjadi mudah, terlihat, dan dihargai. Akhirnya, cita sejahtera yang
pantas adalah cita yang mampu menjadikan tindakan sehari-hari selaras
dengan janji bersama. Jika itu terdengar idealis, pikirkan lagi: idealisme
adalah rencana aksi yang menunggu desain yang tepat. Siapa yang akan mulai
menata? Mungkin Anda — lewat satu bungkus yang dibawa pulang, satu tempat
sampah yang dipasang, satu percakapan yang mengubah nada.
Referensi
1. Kolodko, J. et al., Using behavioural science to reduce littering —
WRAP/Warwick report: ringkasan praktik intervensi perilaku untuk
mengurangi littering.
2. DivertNS, Litter Behaviour Research Findings kajian literatur terapan
tentang faktor-faktor perilaku dan rekomendasi kebijakan.
3. Mori, Y., Developing the littering behavior model focusing on
implementation intention (2024)
Artikel ilmiah tentang mekanisme
psikologis dan strategi niat implementasi
4. Silva, P. et al., Littering Behaviour in Multicultural Slums (2025)
Studi kasus dari jurnal Sustainability (MDPI), menyajikan bukti
kontekstual tentang perbedaan persepsi dan perilaku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar