Setiap bangsa membawa benih kebesarannya sendiri—dan juga benih kehancurannya.
Di antara gemerlap gedung pencakar langit dan gegap gempita perayaan
kemerdekaan, kadang terselip tanya yang sunyi: berapa lama sebuah peradaban bisa
bertahan sebelum tergerus oleh dirinya sendiri?
Romawi pernah berdiri sekitar seribu
tahun, megah dan tak tergoyahkan, akhirnya hancur bukan oleh musuh
dari luar yang kuat, melainkan karena kebusukan dari dalam. Kini, ketika Indonesia
melangkah di usia delapan dekade, riuh dengan perpecahan, kesenjangan, dan
korupsi, pertanyaan itu menggema dikepala
apakah kita sedang berjalan di jalan
yang sama dengan romawi?
BAGIAN A – Keresahan
Kita hidup di zaman yang aneh: segala sesuatu tampak megah di permukaan,
tetapi rapuh di dalam. Ekonomi tumbuh, tapi ketimpangan makin dalam. Internet
membuat semua orang bisa bersuara, tapi juga menciptakan badai kebencian yang
tak henti henti.
Kota-kota besar berkilau dengan pusat perbelanjaan dan apartemen
mewah, sementara di pinggiran, rakyat berebut sisa subsidi, bertahan dari hari
ke hari.
Indonesia, seperti Romawi di puncak kejayaannya, tampak penuh tenaga muda dan
kreativitas. Namun di balik wajah itu indah itu, sistem-sistem dasarnya kelihatan retak.
Layanan publik yang lamban, hukum yang bisa dibeli, dan politik yang
lebih mirip panggung sandiwara. Seolah negara ini tak lagi menjadi rumah
bersama, melainkan sebuah pasar raksasa di mana moral dan kekuasaan diperjualbelikan.
Seperti Romawi, kita memuja kemakmuran namun melupakan keadilan. Warga
berjuang sendirian, memikul beban hidup yang berat tanpa kepastian. Sementara
segelintir elite membangun dinasti politik dan bisnis, menanam akar dalam
setiap institusi. Media sosial, yang dulu diharapkan menjadi alat pembebasan,
kini berubah menjadi arena gladiator digital—tempat fitnah, provokasi, dan
kebodohan beradu tepuk tangan.
Rakyat kecil semakin kehilangan rasa percaya. Mereka tidak lagi berharap
pemimpin datang membawa perubahan. Mereka bertahan dengan cara masing-masing:
berdagang kecil, mencuri waktu istirahat, menutup telinga dari berita yang
memuakkan. Di balik kesabaran itu, ada kelelahan kolektif yang terus
menumpuk—semacam menyala nya api kecil yang menunggu tiupan angin sejarah.
Romawi pun dulu begitu. Rakyat kehilangan iman pada senat yang korup, tentara
menjual kesetiaan mereka kepada siapa pun yang membayar paling tinggi, dan
kaisar berganti dalam intrik darah.
Kekuasaan menjadi panggung pribadi, bukan
sarana melayani. Di titik itu, Romawi tidak runtuh karena satu perang besar,
melainkan karena tak ada lagi yang percaya pada cita-citanya.
Indonesia kini berada di persimpangan yang serupa: antara terus bertahan
dengan sistem yang bobrok tapi stabil, atau berani membangun tatanan baru dari
reruntuhan moral.
Kita tidak sedang diserang dari luar, melainkan dari
dalam—oleh ketidakpedulian yang menular, oleh keserakahan yang dijadikan
norma, oleh rasa “tidak apa-apa” terhadap kebusukan yang menahun.
Mungkin bangsa tidak runtuh dalam satu malam. Ia membusuk perlahan, seperti
buah yang dibiarkan di meja makan—tetap utuh di luar, tapi busuk di dalam. Dan
bila kita menolak untuk mencium baunya, sejarah akan mengulang pelajarannya
dengan cara yang lebih keras.
Semua ide ini, dimulai dari sini, baca juga
BAGIAN B – Tafsir Para Tokoh
Daron Acemoglu dan James Robinson, dalam Why Nations Fail, menyebutkan bahwa
peradaban hancur bukan karena takdir geografis atau kekayaan alam, melainkan
karena institusi yang eksklusif—sistem yang hanya menguntungkan segelintir
orang sambil memiskinkan yang lain. Itulah yang menimpa Romawi; itulah pula
yang kini membayangi Indonesia.
Romawi menjadi korban dari kejeniusannya sendiri. Ia membangun kekuasaan yang
begitu besar hingga tak mampu lagi mengendalikannya. Jalan-jalan megah, hukum
yang rumit, tentara profesional—semua yang dulu menjadi simbol keagungan
justru menjadi beban ketika moral dan tanggung jawab menghilang. Romawi bukan
sekadar kehilangan kaisar yang baik; ia kehilangan makna mengapa kaisar itu
ada.
Indonesia, dalam cara yang lebih lembut tapi tak kalah berbahaya, tengah
mengalami gejala serupa. Demokrasi kita tidak mati; ia hanya direkayasa.
Pemilu dijalankan, tetapi dengan arah yang sudah diskenariokan oleh modal dan
jaringan kekuasaan. Kebebasan berbicara ada, tapi dikontrol oleh algoritma dan
buzzer. Kita hidup dalam “kebebasan yang diawasi”, mirip seperti warga Romawi
yang masih bisa bersorak di Colosseum sementara hak-hak mereka digerogoti
diam-diam.
Filsuf Arnold Toynbee pernah berkata bahwa peradaban runtuh bukan karena
dibunuh, tapi karena bunuh diri—karena kehilangan kemampuan untuk menjawab
tantangan moral dan spiritual zaman. Romawi gagal menjawab keruntuhan moral
yang diciptakannya sendiri. Indonesia pun kini diuji: mampukah kita
memperbaiki sistem sebelum kebusukan jadi tradisi?
William Scheidel dalam The Great Leveler menulis bahwa ketimpangan sosial
hanya benar-benar menurun melalui empat hal: perang besar, revolusi, wabah,
atau keruntuhan total. Ironis, karena sejarah manusia tampaknya butuh bencana
untuk kembali seimbang. Lalu apakah kita menunggu bencana itu datang baru
sadar bahwa ada yang harus diubah?
Dalam tafsir yang lebih eksistensial, kita bisa meminjam pandangan Nietzsche:
setiap bangsa akan mencapai titik di mana moralitas lamanya menjadi beban.
Bila tidak menciptakan nilai baru, ia akan tenggelam bersama nilai lamanya.
Indonesia sedang berjuang di titik ini—antara tradisi yang membelenggu dan
modernitas yang belum matang.
Seperti Romawi yang terlalu nyaman dengan kejayaan masa lalu, kita pun
terjebak dalam nostalgia: tentang kejayaan nusantara, tentang Pancasila yang
katanya sakral, tentang masa lalu yang dipuja tapi tak dipahami. Kita
merayakan simbol-simbol kebesaran tanpa membangun substansinya. Seakan
mengulang ritual Romawi akhir yang terus berpesta sementara kota terbakar di
kejauhan.
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa keruntuhan tidak selalu berarti akhir.
Kadang ia justru menjadi rahim bagi lahirnya tatanan baru. Ketika Romawi Barat
runtuh, Eropa menemukan kembali makna komunitas dan spiritualitas dalam
reruntuhannya. Ketika krisis menelan Orde Baru, Indonesia menemukan demokrasi.
Mungkin keruntuhan bukan kehancuran mutlak, melainkan fase metamorfosis.
Maka pertanyaannya bukan sekadar
“apakah Indonesia akan runtuh seperti
Romawi,” tetapi“apakah kita siap lahir kembali setelah keruntuhan itu?”
Karena sejarah tidak menunggu bangsa yang ingin abadi. Ia hanya menyisakan
ruang bagi mereka yang mau berevolusi.
BAGIAN C – Pertanyaan Terbuka
Ada sesuatu yang sunyi namun menakutkan dalam kesadaran bahwa sejarah bisa
berulang. Kita menyaksikan retakan demi retakan dalam sistem, namun sebagian
besar memilih diam—entah karena takut, entah karena lelah berharap. Kita
belajar dari Romawi bahwa ketika rakyat berhenti peduli, peradaban mulai mati,
bahkan sebelum temboknya runtuh.
Mungkin Indonesia tidak akan hancur seperti Romawi secara fisik. Tidak akan
ada barbar yang menyerbu dari luar. Tapi keruntuhan moral, ketidakpercayaan
terhadap hukum, dan apatisme sosial adalah bentuk invasi yang lebih halus. Ia
menjajah dari dalam kepala kita sendiri.
Apakah kita masih punya iman terhadap ide bangsa? Atau semuanya tinggal
formalitas administratif di atas kertas konstitusi? Di jalan raya, orang tak
percaya pada polisi; di pasar, tak percaya pada timbangan; di layar berita,
tak percaya pada apa pun. Jika tak ada lagi yang bisa dipercaya, apa artinya
kata “negara”?
Kita mungkin tak bisa menyelamatkan Indonesia dengan pidato atau slogan. Tapi
kita bisa memulainya dari kesadaran sederhana: bahwa peradaban bukan dibangun
oleh monumen, melainkan oleh kejujuran yang kita pertahankan sehari-hari.
Bahwa negara bukan sesuatu di luar kita, tapi cermin dari tabiat kita sendiri.
Romawi jatuh bukan karena Tuhan meninggalkannya, tetapi karena ia meninggalkan
nilai-nilai yang membuatnya besar. Indonesia pun bisa bertahan—bila kita mau
menyalakan kembali kesadaran itu, bahkan dalam hal sekecil menolak korupsi,
menegakkan keadilan, dan berbicara jujur ketika semua orang diam.
Keruntuhan mungkin tak terhindarkan bagi yang menolak berubah. Tapi bagi yang
mau belajar, sejarah selalu memberi jalan pulang.
Penutup
Mungkin suatu hari nanti, sejarawan akan menulis tentang Indonesia sebagaimana
mereka menulis tentang Romawi: tentang bangsa yang pernah besar, namun
tersandung oleh dirinya sendiri. Atau mungkin, mereka akan menulis tentang
kebangkitan sebuah negeri yang nyaris runtuh, tapi memilih berubah.
Semua bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini—pada keberanian untuk
menatap cermin dan mengakui bahwa kita tidak sebaik yang kita kira. Sebab
bangsa tak runtuh karena dosa, melainkan karena keangkuhan yang menolak
mengakuinya.
Dan bila pada akhirnya sejarah harus mengulang dirinya, semoga kali ini kita
bukan menjadi reruntuhan, tapi menjadi mereka yang menulis bab selanjutnya.
Referensi
Acemoglu, D., & Robinson, J.A. (2012). Why Nations Fail: The Origins of
Power, Prosperity, and Poverty. Crown Publishing.
Buku ini menjelaskan bahwa
keruntuhan peradaban berakar pada institusi yang eksklusif—yang menumpuk
kekayaan dan kekuasaan pada segelintir elite, menciptakan jurang sosial yang
makin dalam.
Scheidel, W. (2017). The Great Leveler: Violence and the History of Inequality
from the Stone Age to the Twenty-First Century. Princeton University Press.
Scheidel menyoroti bahwa ketimpangan sosial sepanjang sejarah hanya berkurang
melalui guncangan besar—perang, revolusi, wabah, atau kejatuhan total—dan
menegaskan bahwa kesetaraan jarang lahir dari kedamaian.
Udah saatnya kita cuma cari orang waras bukan cuma sekedar terkenal
BalasHapusTapi susah masyarakat kita ngeliat orang baik dikit aja langsung suka tampa cari info detailnya, giliran yang disuka ketauan gak waras, masyarakat kita baru nyalahin dia
HapusSelama masyarakat mau bersatu dan tidak mementingkan ego sendiri terus menerus maka bisa terwujud indonesia yang kuat
BalasHapus