Ada saat-saat ketika hidup terasa seperti sebuah drama yang sudah ditulis sebelum kita memainkan peran kehidupan. Kita bangun, bekerja, jatuh cinta, kehilangan, merawat mimpi, lalu tiba-tiba bertanya dalam hati: “Kalau semua sudah ditentukan, mengapa aku harus repot-repot berusaha?”
Pertanyaan itu datang diam-diam, seperti angin yang menyusup ke sela-sela pintu kamar pada malam lengang. Ia muncul ketika pekerjaan terasa sia-sia, ketika rencana tidak berjalan, atau ketika orang lain melaju begitu cepat sementara kita masih bergulat di titik yang sama. Pertanyaan itu bukan tanda kelemahan; ia muncul karena manusia ingin memahami tempatnya dalam semesta. Dan di sinilah renungan itu bermula.
BAGIAN A - Realitas
Manusia modern hidup dalam arus cepat. Kita seperti berada di tengah kota yang tidak pernah tidur, di mana suara klakson, notifikasi layar, dan jadwal yang menumpuk saling bertabrakan. Di tengah hiruk pikuk itu, ada sebuah kegelisahan yang perlahan tumbuh: perasaan bahwa apa pun yang kita lakukan terasa kecil dibandingkan putaran besar dunia. Banyak orang bekerja keras bertahun-tahun, tapi tetap berada di lingkaran yang sama, seolah tidak ada pintu keluar yang benar-benar terbuka. Lalu muncul bisikan batin: mungkin jalan sudah dipatok sejak awal.
Baca juga, apakah harus jadi kaya baru menabung?
Di media sosial, kehidupan orang lain tampak seperti cerita sukses yang dirangkai dengan pencahayaan sempurna. Sementara itu, kita menatap cermin dan melihat seseorang yang masih berjuang. Narasi “kamu bisa jadi apa saja” terdengar seperti iklan motivasi yang makin lama makin hambar. Sebagian orang mulai berkata pada dirinya sendiri, “Kalau sudah takdir, percuma berusaha. Yang kaya makin kaya. Yang beruntung makin beruntung. Yang sial tetap sial.” Kalimat semacam itu bergerak seperti kabut yang menutupi kejernihan pikiran.
Di jalanan kota, ada tukang ojek yang bekerja dari pagi sampai tengah malam, tapi tetap sulit mengumpulkan tabungan. Ada pegawai toko yang tidak pernah terlambat namun gajinya tidak cukup untuk menutupi kebutuhan dasar. Ada anak muda yang rajin belajar tetapi kalah oleh sistem yang berpihak pada koneksi. Kita melihat ketimpangan itu dan merasakan beratnya kenyataan. Kita mulai bertanya, apakah hasil benar-benar berasal dari usaha, ataukah hanya sekadar permainan probabilitas semesta?
Lalu ada kisah-kisah lain: seseorang yang pernah jatuh bangun akhirnya berhasil karena satu pertemuan kecil yang kebetulan—atau takdir, kata sebagian orang. Seorang pekerja biasa mendapat peluang naik jabatan karena bosnya memerhatikan satu detail yang bahkan ia sendiri tidak sadar telah ia lakukan. Sebagian dari kita menganggap peristiwa itu sebagai kerja keras yang bertemu momentum. Sebagian lain melihatnya sebagai takdir yang bekerja di balik layar.
Kehidupan modern tidak memberi kita banyak waktu untuk berhenti dan merenung. Kita didorong untuk bergerak terus, seolah berhenti sebentar saja berarti tertinggal. Dalam semesta yang bergerak cepat seperti ini, pertanyaan tentang takdir dan usaha sering muncul dari rasa lelah. Lelah karena merasa tidak memegang kendali. Lelah karena usaha tampak tidak berbanding lurus dengan hasil. Lelah karena dunia terlalu luas, terlalu acak, dan terlalu sulit dipahami.
Namun keresahan ini tidak berhenti pada rasa pasrah. Ada sisi lain dalam diri manusia yang terus memberontak. Ada keinginan kuat untuk percaya bahwa tindakan kita bukan sekadar percikan kecil yang hilang ditelan gelombang besar. Bahwa kita tetap punya ruang untuk memilih, meski dunia ini tampak ditentukan oleh hal-hal di luar genggaman kita. Keresahan semacam ini bukan sekadar keluhan; ia adalah upaya untuk memahami peran manusia di tengah tarian besar yang disebut kehidupan.
BAGIAN B - Tafsir
Dalam sejarah panjang pemikiran manusia, pertanyaan tentang takdir dan usaha bukanlah hal baru. Ia sudah dibahas oleh para filsuf, sufi, ilmuwan, bahkan penyair. Meski bahasa mereka berbeda-beda, akhirnya mereka bertemu pada satu hal: manusia selalu mencoba memahami ruang kebebasannya.
Di filsafat Yunani, ada Stoisisme—aliran yang percaya bahwa dunia dipenuhi hal-hal yang berada di luar kendali manusia. Bagi mereka, takdir adalah arus sungai yang tidak bisa kita hentikan. Namun manusia tetap bisa memilih bagaimana ia berenang di arus itu. Epictetus mengatakan bahwa manusia tidak berkuasa atas peristiwa, tapi manusia berkuasa atas responsnya. Di titik ini, usaha menjadi semacam strategi batin: bukan untuk mengubah takdir, tetapi untuk mengubah kualitas diri saat menjalani takdir.
Di dunia Timur, pemikiran serupa hadir dalam berbagai bentuk. Dalam sufisme, takdir bukan tembok, melainkan jalan. Rumi menulis bahwa manusia berjalan dalam labirin yang digerakkan cinta. Ia tidak pernah memaksa manusia untuk berhenti, tetapi mengajak manusia untuk mengenali ke mana langkahnya sendiri mengarah. Dalam pandangan ini, usaha bukan untuk melawan takdir—tapi untuk menemukan makna dari takdir itu. Usaha menjadi cahaya kecil yang membuat jalan gelap lebih bisa dilewati.
Di abad modern, filsafat eksistensialisme datang dengan suara yang lebih lantang. Sartre menyatakan bahwa manusia “dikutuk untuk bebas”. Meski dunia penuh batas, setiap pilihan tetap ditanggung oleh individu. Bahkan tidak memilih pun tetap sebuah pilihan. Dalam kerangka ini, takdir tidak pernah benar-benar memenjarakan manusia; yang membuat manusia terbelenggu justru ketakutannya sendiri. Sartre menekankan bahwa eksistensi kita dibentuk oleh tindakan, bukan rencana kosmik yang tidak bisa diubah.
Lalu ada dunia ilmu pengetahuan yang memandang perdebatan ini dari sudut berbeda. Para ahli neuroscience mengungkap bahwa sebagian keputusan manusia dipicu oleh proses biologis bawah sadar sebelum disadari oleh pikiran. Sebagian orang menafsirkan temuan ini sebagai bukti bahwa kehendak bebas hanyalah ilusi. Namun sebagian lain melihatnya sebagai bukti bahwa manusia memiliki pola internal yang bisa dibentuk melalui latihan, lingkungan, dan pengalaman. Dalam sains, usaha adalah variabel yang jelas: perubahan terjadi ketika manusia mengubah perilakunya.
Jika takdir diibaratkan sebagai peta, maka usaha adalah cara manusia menempuh jalan yang ada di peta itu. Dua orang bisa berjalan di rute yang sama, namun pengalaman mereka berbeda—tergantung kecepatan, ketahanan, sudut pandang, dan keberanian mengambil keputusan. Takdir menyediakan medan, usaha menentukan kualitas perjalanan.
Ada analogi yang indah dari seorang guru tua:
“Takdir adalah angin. Kamu bisa melawan, kamu bisa mengikuti, atau kamu bisa menyesuaikan layar kapal agar engkau tetap bergerak menuju tujuanmu.”
Kapal yang sama, angin yang sama, tetapi hasil berbeda.
Mungkin inilah yang membuat manusia terus berusaha meski dunia tidak selalu adil. Usaha bukan sekadar alat untuk mendapatkan hasil; usaha adalah cara manusia mendefinisikan dirinya. Upaya yang kita lakukan membentuk kita menjadi seseorang yang berbeda dari kemarin. Mungkin itu alasan mengapa manusia tetap bergerak meski tidak yakin akan hasilnya: karena bergerak adalah cara paling jujur untuk hidup.
BAGIAN C - Pertanyaan Terbuka
Ketika malam tiba dan dunia mereda, pertanyaan tentang takdir kembali duduk di samping kita. Ia tidak datang membawa ancaman, hanya keheningan yang membuat kita kembali menatap diri sendiri. Mungkin hidup memang penuh hal yang tidak bisa kita pilih: di mana kita lahir, keluarga yang membesarkan kita, atau peluang yang diberikan dunia. Namun di sela-sela ketidakpastian itu, masih ada ruang kecil di mana kita bisa memutuskan langkah.
Kadang manusia tidak butuh jawaban filosofis untuk bergerak; manusia hanya butuh alasan sederhana untuk tidak berhenti. Ada orang yang tetap bekerja meski tidak yakin kapan hidupnya berubah. Ada yang terus belajar meski tidak tahu apakah peluang akan datang. Ada yang mencintai meski takut kehilangan. Semua itu dilakukan bukan karena manusia yakin bisa mengubah takdir, tetapi karena manusia ingin hidup sepenuhnya.
Barangkali takdir bukan sesuatu yang harus dimengerti secara tuntas. Mungkin ia seperti bayangan yang mengikuti kita: tidak bisa ditinggalkan, tapi juga tidak menghalangi langkah. Yang membuat bayangan tampak besar adalah ketakutan kita sendiri. Yang membuatnya mengecil adalah keberanian mengambil langkah pertama, bahkan saat dunia terasa gelap.
Mungkin usaha manusia bukan tentang menjamin hasil, tetapi tentang menjaga kewarasan. Tentang membuat kita merasa bahwa hidup ini bukan hanya rangkaian kebetulan tanpa makna. Tentang memberi kita alasan untuk bangun setiap pagi, meski dunia terasa berat. Usaha adalah bentuk pernyataan batin: bahwa hidup ini layak dijalani.
Dan ketika kita bertanya, “Untuk apa berusaha jika semuanya sudah ditakdirkan?”, mungkin jawabannya bukan sebuah teori besar. Mungkin jawabannya hanya satu kalimat kecil yang pelan: karena tanpa usaha, kita berhenti menjadi diri kita. Tanpa gerak, kita menghilang dari peta. Tanpa pilihan, kita menjadi penonton dalam hidup sendiri.
Penutup
Hidup berjalan dengan campuran aneh antara hal-hal yang bisa kita pilih dan hal-hal yang memilih kita. Jalan itu tidak pernah benar-benar jelas, tetapi selalu cukup terang untuk satu langkah ke depan. Barangkali takdir bukan dinding, melainkan kabut. Dan satu-satunya cara untuk tahu apa yang ada di baliknya adalah dengan bergerak perlahan.
Tidak ada yang tahu apa yang menunggu di ujung jalan. Ada hari ketika usaha terasa sia-sia, dan ada hari ketika usaha kecil memberi perubahan besar. Dunia tidak pernah sepenuhnya adil, tetapi manusia terus berjalan karena di dalam diri kita ada sesuatu yang menolak diam.
Pada akhirnya, mungkin bukan tentang siapa yang paling cepat atau paling beruntung. Mungkin hidup hanyalah tentang bagaimana seseorang tetap melangkah meski jawabannya tidak pasti. Dan pertanyaan itu tetap bergema:
Jika semuanya sudah diguratkan, apa arti gerak kecil yang kita lakukan hari ini?
Mungkin jawabannya tersimpan dalam langkah yang kita ambil setelah ini.
Referensi
1. Baumeister, R. F., & Masicampo, E. J. (2010). “Conscious Thought Is for Facilitating Social and Cultural Interactions: How Mental Simulations Serve the Animal–Culture Interface.” Psychological Review.
2. Shariff, A. F., & Norenzayan, A. (2012). “Free Will and Determinism Across Cultures.” Annual Review of Psychology.
3. Nahmias, E., Morris, S., Nadelhoffer, T., & Turner, J. (2005). “Surveying Freedom: Folk Intuitions About Free Will and Moral Responsibility.” Philosophical Psychology.
4. Vohs, K. D., & Schooler, J. W. (2008). “The Value of Believing in Free Will: Encouraging a Belief in Determinism Increases Cheating.” Psychological Science.
5. Haggard, P. (2019). “The Neurocognitive Bases of Human Volition.” Annual Review of Psychology.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar