Revolusi, sebuah kata yang bergaung seperti bass suara drum di lorong sejarah, kadang
terdengar seperti lagu lama yang diputar ulang: liriknya serupa, nadanya sama,
hanya penyanyinya berganti.
Namun di balik nostalgia itu ada denyut yang tak
selalu sama: rasa tidak adil yang menebal, teknik komunikasi baru, dan pasar
makna yang bergerak cepat. Kita hidup di era di mana protes bisa viral dalam
satu malam dan narasi dapat dipolitisasi dalam hitungan jam; apakah itu
perubahan nyata atau sekadar remix estetika dari amarah lama?
Mari kita
dekonstruksi pengalaman manusia modern yang merasa gerak kolektif tak lagi
relevan, sambil menimbang teori-teori yang memberi peta dan kembali pada hati
yang bertanya.
Bagian A - Realitas
Di kota-kota dan lorong-lorong digital, pengalaman akan ketidakadilan
seringkali sama-sama personal dan tersentral: seorang pekerja gig yang
mendapati pendapatan tak menentu, seorang pelajar yang menatap beasiswa yang
tersapu, atau ibu yang kehilangan ruang publik aman untuk anaknya bermain. Ini
bukan hanya statistik; ini adalah keping-keping kehidupan yang membuat orang
terjaga malam. Kita menghidupi sebuah paradoks: konsumsi informasi terus meningkat, sehingga kesadaran kolektif mulai naik, sementara tingkat ketidakpercayaan
terhadap institusi juga naik. Hasilnya adalah kegelisahan yang cair dan menyebar: ia
menyebar pada jaringan pertemanan, hashtag, dan grup chat sebelum sempat
menemukan bentuk organisasi yang tahan lama.
Teknologi memperpendek jarak antara kemarahan dan respons. Suatu video yang
mengungkap ketidakadilan dan mengundang jutaan reaksi; tetapi reaksi itu
seringkali bersifat spasmodik: solidaritas yang instan, lalu terlupa.
Revolusi
tradisional menuntut infrastruktur sosial: jaringan, organisasi, kepemimpinan
yang mampu mengubah kemarahan menjadi tuntutan yang terstruktur. Sekarang,
mobilisasi sering dimulai sebagai irama spontan, tanpa struktur yang jelas, seperti flash mob yang intens tapi cepat pudar.
Dalam pengalaman sehari-hari,
banyak orang merasa tindakan kolektif berubah menjadi bentuk hiburan politik:
energi emosional disalurkan, namun tidak selalu ke arah transformasi
institusional.
Ada juga dimensi psikologis: kelelahan aktivisme. Ketika setiap isu menuntut
perhatian yang sama, individu menjadi selektif; prioritas ditentukan oleh
kedekatan emosional dan kapasitas attention economy. Selain itu, narasi
revolusi sering dipangkas menjadi mitos heroik yang membuat orang biasa merasa
peran mereka kecil atau usang.
Di sisi lain, beberapa komunitas menemukan
bentuk perlawanan baru yang pragmatis: advokasi hukum, litigasi strategis,
pembentukan koperasi lokal, atau politik mikro di tingkat administratif. Ini
bukan drama panggung besar, melainkan pergeseran taktis yang pelan namun
mungkin lebih tahan lama.
Bagian B - Analogi
Jika kita membaca ulang 'revolusi' lewat kacamata teori, muncul beberapa peta
berbeda. Ada pendekatan klasik yang menekankan sebab struktural, ketimpangan
ekonomi, krisis legitimasi, atau perubahan demografis yang mencoba
menjelaskan kenapa massa bangkit pada titik tertentu.
Louis Gottschalk,
misalnya, pada karyanya yang berpengaruh mengurai faktor-faktor penyebab
revolusi sebagai kombinasi tuntutan akan perubahan dan kondisi pemicu
tertentu; ia menaruh perhatian pada dinamika provokasi dan opini publik yang
memadat. Pemahaman semacam ini berguna karena menuntut kita melihat akar,
bukan hanya gejolak di permukaan.
Ada juga bacaan yang lebih kontemporer: studi tentang bagaimana revolusi
menular di wilayahbantarnegara, bukan lewat ide-ide murni, tetapi melalui kebocoran
kondisi material, solidaritas transnasional, dan inspirasi taktis. David
Calnitsky dan rekan menyajikan analisis tentang bagaimana efek-efek revolusi
yang 'di sebelah' dapat mengubah medan politik domestik; argumen semacam ini
mengingatkan kita bahwa revolusi adalah fenomena terembed dalam jaringan
global yang lebih luas, bukan sekadar ledakan domestik yang hermetik.
Analogi yang membantu: revolusi sebagai badai vs. revolusi sebagai pembentukan
geologi. Model badai menekankan intensitas, kecepatan, dan dampak yang
dramatis. Model geologi berbicara tentang akumulasi—perubahan lambat yang
akhirnya menggeser lapisan-lapisan sosial. Kedua metafora itu valid; masalah
muncul ketika narasi publik hanya mengidolakan badai, karena badai mudah
diverifikasi sebagai spektakuler sementara proses geologis memerlukan
kesabaran politik.
Di ranah pemikiran politik, tokoh-tokoh berbeda ada yang menonjol. Dari Marx yang
menilik revolusi sebagai hasil kontradiksi kelas bawah dan atas sampai pemikir konstruktivis
yang menilai peran budaya dan framing dalam memobilisasi.
Namun ada konsensus
parsial: revolusi efektif ketika mampu menyelaraskan dua hal, legitimasi
kolektif dan kapasitas organisasi. Tanpa legitimasi, gerakan tetap terpinggir;
tanpa kapasitas organisasi, tuntutan tetap menjadi desir yang tak membawa
perubahan struktural.
Jurnal-jurnal modern memberi beragam warna pada bacaan ini. Ada publikasi yang mengkhususkan diri pada sejarah revolusi dan studi interdisipliner, memberikan
ruang bagi kajian perbandingan dan sumber primer. ada pula jurnal gerakan
sosial yang lebih partisi patoris, yang menghubungkan akademisi dan aktivis
untuk refleksi praktis.
Ruang publik akademik ini sangat penting: ia mencegah reduksi
narasi menjadi hitungan retorika semata dan memfasilitasi pembelajaran taktis
dari pengalaman berbeda.
Pada level praksis: apakah revolusi hari ini seharusnya dikejar sebagai
'badai' spektakuler? Atau dibangun sebagai kerja berkelanjutan, membangun
jaringan, institusi alternatif, dan strategi legal yang mengikis pijakan elit?
Pilihan ini bukan hanya strategis tapi juga etis: revolusi yang menghancurkan
tanpa rencana transisi sering kali meninggalkan kehancuran sosial; perubahan
yang perlahan namun inklusif mungkin lebih sulit, tetapi bisa meminimalkan
trauma kolektif. Di sinilah kita harus memakai prinsip desain kebijakan:
iterate cepat, mengukur dampak, dan scale macam apa yang bekerja, bahkan dalam politik
perubahan sosial.
Baca juga, Kelelahan dalam revolusi
Bagian C - Refleksi Batin
Kembali ke diri kita: bagaimana rasanya menjadi manusia yang berharap pada
perubahan? Ada kebingungan: antara keinginan untuk ikut andil dalam tindakan monumental dan
kebutuhan akan rutinitas yang membuat hidup tetap berjalan. Di ruang batin,
pertanyaan revolusi berubah menjadi soal reputasi moral:
Apakah saya berdosa
jika memilih keamanan pribadi daripada ikut protes?
Apakah ada aib dalam
merawat keluarga dan menolak risiko politik? Jawabannya biasanya tidak
hitam-putih. Menjaga hidup bukan tanda pengkhianatan, melainkan bentuk politik
lain.
Pertanyaan lain: apakah kita cukup jujur pada diri sendiri tentang apa yang
kita mau? Banyak orang ingin 'perubahan' tanpa tahu bentuknya; mereka
menginginkan keadilan, tetapi definisi keadilan berbeda-beda. Tanpa
klarifikasi nilai, tindakan kolektif mudah terpecah. Maka kewajiban pertama
adalah membuat peta bersama: mendefinisikan masalah, menyepakati tujuan
operasional, dan memilih strategi yang cocok dengan kapasitas. Ini terdengar
birokratik,bahkan 'seperti perusahaan',tetapi organisasi tanpa planning mudah
menjadi simbolisme.
Ada juga aspek estetika dan budaya: musik protes yang lama tetap relevan
karena memelihara imaginasi kolektif; namun lagu baru perlu ditulis agar
generasi saat ini merasa terwakili. Revolusi bukan hanya soal institusi; ia
soal bahasa, lagu, dan cerita yang mampu menyentuh kehidupan sehari-hari. Oleh
karena itu transformasi kultural tak kalah penting: pendidikan kritis, ruang
seni publik, dan narasi yang mengedukasi tentang hak dan tanggung jawab.
Akhirnya, ada hal paling pribadi: bagaimana kita menakar kesabaran? Revolusi
sebagai geologi menuntut waktu, disiplin, dan kompromi. Jadi mungkin tugas
kita bukan semata mencari badai, tetapi menanam batu bata: membangun komunitas
lokal yang adil, memperkuat jaringan solidaritas, mengadvokasi kebijakan yang
konkret. Ini bukan romantisme pasif; ini politik yang berfokus pada kapasitas.
Dalam bahasa manajemen: fokus pada outcome, bukan hanya on-brand actions.
Refleksi batin menuntun pada pertanyaan terbuka: bagaimana kita mendesain
bentuk perlawanan yang tidak mengorbankan manusia yang kita sayangi? Hal ini
memaksa kita membuat trade-off etis dan strategis—mencari keseimbangan antara
impian epik dan pekerjaan kantor harian. Pilihan itu tidak universal; ia
bergantung pada konteks, sejarah, dan kapasitas komunitas. Tetapi satu yang
pasti: revolusi yang berhasil harus memperluas ruang kemungkinan bagi lebih
banyak orang, bukan hanya mengganti aktor-aktor lama dengan aktor baru tanpa
perubahan substansial.
Penutup
Maka apakah revolusi hanya lagu lama yang diputar lagi? Tergantung bagaimana
kita mendengarkan. Jika kita hanya menepuk-beat nostalgia, ya—kita akan
terjebak pada chorus yang sama. Tetapi bila kita menulis bait baru, mengubah
komposisi, dan membangun instrumen yang kuat—maka lagu itu berubah menjadi
arsitektur zaman. Revolusi boleh menjadi badai; atau ia bisa menjadi lapisan
batu yang akhirnya mengangkat tanah. Yang perlu kita tanyakan pada diri
sendiri bukan sebatas: kapan badai akan datang? Melainkan: batu apa yang siap
kita letakkan hari ini sehingga, ketika badai datang, ia tidak menghancurkan
tetapi membentuk.
Referensi
Calnitsky, D., & Wannamaker, K. (2024). The revolution next door. British
Journal of Sociology.
Gottschalk, L. (1944). Causes of Revolution. American Journal of Sociology,
Vol. 50, No 1.
Age of Revolutions
Jurnal peer-reviewed, sumber kajian revolusi komparatif dan sejarah.
Interface: A Journal for and About Social Movements
Jurnal akses-terbuka yang menghubungkan aktivis dan peneliti.
Socius: Sociological Research for a Dynamic World. Jurnal open-access ASA
untuk kajian sosiologis kontemporer.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar