Di tengah kota yang berdenyut cepat — aplikasi yang selalu butuh update, feed yang menuntut perhatian, memori yang tercecer di awan — ada sebuah bangunan yang mencoba menaruh kembali kepingan-kepingan masa lalu.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berdiri seperti sebuah janji: bahwa ingatan kolektif layak disimpan bukan hanya dalam server, tetapi juga di rak, di katalog, di halaman yang bisa disentuh.
Namun apakah bangunan megah itu masih berbicara kepada kita sebagai rumah ingatan, atau sekadar facade untuk sekedar ritual seremonial literasi yang tak lagi disentuh generasi yang serba tergesa?
Tulisan ini terinspirasi dari membaca kegaduhan itu, kita mendalami maknanya lewat lensa filsafat dan menutup dengan pertanyaan yang meresap.
BAGIAN A - Realitas
Kota besar mengajarkan kita dua pelajaran:
satu, betapa cepatnya informasi bergerak;
dua, betapa mudahnya kita kehilangan jejak.
Sehari-hari seorang warga kota bisa mengonsumsi teks setebal novel, seratus potong berita, dan ratusan komentar singkat — semuanya lewat layar yang sama. Daya ingat kolektif makin tersebar: sebagian tersimpan di memori individu, sebagian di rantai repost, sebagian lagi lenyap ketika akun dihapus. Dalam situasi seperti ini, peran fisik perpustakaan berubah. Dulu, perpustakaan adalah satu-satunya gudang buku dan arsip; sekarang ia harus bersaing dengan mesin pencari, platform digital, dan kebiasaan membaca yang berubah menjadi konsumsi fragmen.
Pergeseran ini tak hanya soal medium. Ia juga soal makna: apakah menyimpan materi adalah sama dengan menjaga ingatan? Banyak koleksi digital kini dapat diakses tanpa pernah menyentuh kertas; pencarian metadata lebih cepat daripada membuka indeks; dokumen dilindungi oleh enkripsi dan backup.
Namun pengalaman membuka halaman, membaca catatan margin, atau berdiri dalam ruang yang bau buku, membawa jenis perhatian lain — perhatian yang pelan, yang membentuk memori yang berbeda. Perpustakaan modern dipaksa berperan ganda: menjadi server dan menjadi taman bagi pembacaan yang mendalam.
Di Indonesia, Perpustakaan Nasional telah berusaha menjembatani dua permintaan konyol ini. Gedung yang di kawasan Merdeka itu didirikan sebagai simbol yang megah, futuristik, dan mudah dipotret untuk promo kota. Simbol seperti itu penting; ia menunjukkan prioritas negara terhadap literasi dan arsip kebangsaan. Tetapi simbol tanpa di akses berarti panggung kosong.
Realitas di lapangan memperlihatkan tantangan: jam operasional yang terbatas bagi pekerja harian, birokrasi akses koleksi tertentu, dan hambatan bahasa atau literasi yang membuat sebagian besar masyarakat merasa perpustakaan bukan untuk mereka. Ada pula masalah sumber daya manusia: pustakawan yang terbeban administrasi lebih banyak daripada waktu untuk memfasilitasi program literasi kontekstual.
Fenomena lain yang muncul adalah dualitas publik–privat: koleksi penting seringkali tersebar di kantor kementerian, perpustakaan kampus, dan koleksi pribadi.
Baca juga, Buku Rich dad Poor Dad
Perpustakaan nasional seharusnya menjadi titik temu, tetapi mengelola interoperabilitas (kerja sama) antara institusi bukanlah pekerjaan mudah. Dalam konteks psikologis, masyarakat modern juga menunjukkan kecenderungan outsourcing memori—mengandalkan perangkat untuk mengingat hal-hal praktis dan mengosongkan ruang mental untuk hal-hal lain. Ketika memori eksternal menjadi terlalu nyaman, apakah kita masih menjaga kebiasaan kolektif merawat catatan untuk bersama?
Akhirnya, ada kekhawatiran eksistensial yang muncul, ingatan bangsa bukan hanya soal dokumen, melainkan praktik kolektif—ritual mengunjungi situs sejarah, membaca buku tentang masa lalu, mendiskusikan arsip. Jika perpustakaan menjadi monumen tanpa interaksi, ia menjadi ingatan yang membeku.
Rumah ingatan sejatinya hidup ketika ada denyut: kunjungan pelajar, penelitian warga, pameran, cerita lisan yang menempel pada buku-buku tua. Tanpa banyaknya denyut itu, bangunan besar hanyalah ruang kosong dengan rak berdebu — sebuah estetika tanpa kegunaan.
BAGIAN B - Analogi
Jika kita membaca Perpustakaan Nasional sebagai sebuah metafora politik dan filosofis, ia adalah tubuh kolektif yang menampung fragmen jiwa sebuah bangsa. Filsafat ingatan—dari Plato yang membayangkan jiwa sebagai gua yang menyimpan bayangan, hingga Halbwachs yang memperkenalkan konsep “collective memory”—memberi kerangka untuk memahami fungsi institusi ini.
Ingatan kolektif bukan sekadar akumulasi fakta; ia adalah jaringan praktik sosial yang mereproduksi identitas. Perpustakaan menjadi node dalam jaringan tersebut: ia memfasilitasi, menantang, dan kadang membentuk versi sejarah yang akan diwariskan.
Analogi yang mungkin berguna: perpustakaan sebagai jantung arsitektural memori. Jantung yang memompa darah—informasi—ke seluruh tubuh dalam hal ini kebutuhan ilmu. Jika arteri informasi tersumbat (karena disfungsi akses, ketidaktelitian koleksi, atau kesenjangan literasi), maka tubuh sosial kehilangan nutrisi kulturalnya.
Modernitas telah memberi kita stent—sebuah alat untuk memperbaiki aliran darah dengan teknologi—tetapi stent itu pun perlu pemeliharaan, begitu pula perpusnas kita: perbaikan tata kelola data, kebijakan akses terbuka, perlindungan terhadap reproduksi yang mungkin merusak. Tanpa kebijakan etis, akses akan menjadi seleksi yang menyingkirkan suara minor, sehingga ingatan kolektif menjadi bias.
Tokoh-tokoh pemikir tentang arsip juga membantu menajamkan perspektif.
Michel Foucault berbicara tentang arsip sebagai kondisi kemungkinan pernyataan; arsip menentukan apa yang bisa diucapkan sebagai ‘kebenaran’ sejarah. Dengan sudut pandang ini, perpustakaan bukan netral; pemilihan koleksi, kurasi pameran, dan kebijakan penyimpanan mencerminkan pilihan kultural dan politik.
Oleh karena itu, menilai apakah Perpusnas “masih rumah ingatan” membutuhkan penelaahan terhadap praktik kuratorial dan aksesnya: apakah mereka inklusif? Apakah ada mekanisme untuk mengakomodasi suara lokal, minoritas, atau tradisi lisan yang tak selalu terdokumentasi?
Kita juga bisa menengok tokoh praktis: pustakawan sebagai penjaga-penjaga yang melakukan pekerjaannya di batas antara arsip dan publik.
Pustakawan modern tak lagi hanya bertugas menyimpan; mereka kini mediator teknologi, fasilitator program literasi, dan penjaga kualitas metadata. Investasi pada kapasitas manusia ini kerap terlupakan dibanding anggaran gedung megah. Filosofi desain institusi mengajarkan bahwa infrastruktur sosial—pelatihan, program publik, kemudahan akses—adalah bagian dari arsitektur yang sama pentingnya dengan beton dan kaca.
Dalam konteks Indonesia, ada kesempatan unik: negara kepulauan dengan keragaman bahasa dan tradisi lisan dapat menjadikan perpustakaan nasional sebagai platform preserver budaya. Ini bukan hanya soal menyimpan buku berbahasa Indonesia; ini soal arsip audio, transkripsi cerita rakyat, dokumentasi ritual, dan tata cara citizen-sourced archiving—memberdayakan masyarakat untuk menyumbangkan memori mereka. Konsep “house of memory” harus melampaui gedung pusat; ia harus menjadi jaringan, rekanan, dan program yang meresap ke desa, kampung, dan pulau-pulau.
Namun ada bahaya yang kita romantisasi: menganggap bahwa menyimpan setiap fragmen sama dengan menjaga martabat budaya. Pilihan kuratorial tetap perlu — tetapi pilihan itu harus transparan dan deliberatif.
Demokrasi untuk pengarsipan menuntut partisipasi publik: forum untuk menentukan prioritas koleksi, akses digital yang mudah, dan pendidikan literasi arsip. Jika Perpusnas mampu menggabungkan otoritas ilmiah dengan keterbukaan partisipatif, maka ia akan kembali dari sekadar monumen menjadi rumah yang bernafas.
BAGIAN C - Refleksi Batin
Bayangkan duduk di ruang baca lantai enam, di antara rak yang berjajar, mendengar suara langkah kaki dan halaman yang dibalik: itu bukan sekadar suasana, itu adalah ritus. Ritus menandai kontinuitas — cara kita menghubungkan masa kini dengan masa lalu. Bagi banyak orang modern, ritus itu tampak lamban, bahkan tidak relevan; kita lebih nyaman dengan highlight daripada bab. Tetapi lambat bukan berarti usang; lambat sering kali adalah media bagi kedalaman.
Pertanyaan batin yang muncul adalah: seberapa besar kita bersedia meluangkan waktu untuk memelihara ingatan kolektif? Merawat arsip membutuhkan komitmen kolektif yang tak hanya berhenti pada inaugurasi (pencatatan resmi) gedung. Ada kerja-kerja sehari-hari: pencatatan koleksi, digitalisasi yang cermat, perlindungan hak cipta dan privasi, serta dialog berkelanjutan dengan komunitas—kegiatan yang kurang spektakuler namun esensial.
Mungkin kita tak selalu melihat nilai langsungnya—sampai suatu dokumen penting yang menjelaskan sebuah kebijakan atau tradisi lenyap.
Ada pula dimensi emosional: mengunjungi perpustakaan bisa menjadi tindakan intim. Kita menempatkan diri sebagai penerus narasi, berdiri di ambang cerita orang lain. Di sinilah rasa tanggung jawab muncul—bukan hanya kepada teks, tapi kepada manusia yang hidup dan mati di dalam teks itu. Mengalami manuskrip tua atau koleksi foto keluarga memberi kesadaran akan ketergantungan kita pada ingatan yang dirawat. Ini mengubah cara kita memandang pembangunan: selain infrastruktur ekonomis, ada infrastruktur memori yang harus dijaga.
Maka muncul pertanyaan terbuka yang lembut namun menantang: apakah kita ingin ingatan bangsa diserahkan pada algoritma atau kita ingin menjaga ruang manusiawi yang selama ini merawat memori kita?
Algoritma efisien dalam menyimpan dan menampilkan, tetapi ia tidak bisa menggantikan dialog antar generasi, pengalaman membaca yang memperlambat, atau sabda lokal yang hanya hidup lewat pertemuan.
Memilih keduanya bukanlah laki-laki dan perempuan yang saling berkontradiksi—ia adalah kerja desain kebijakan: perpustakaan yang berintegrasi digital tanpa menghilangkan pertemuan fisik.
Perubahan praktis sederhana pun dapat bermakna besar: jam layanan yang ramah pekerja malam, program literasi yang datang ke komunitas dengan bahasa lokal, portal digital yang mudah diakses tanpa langganan, atau workshop arsip warga.
Langkah-langkah ini menumbuhkan kepemilikan. Ketika warga merasa bagian dari proses pemeliharaan memori, rumah ingatan tak lagi terasa asing. Sebaliknya, jika perpustakaan hanya menjadi monumen bagi pameran besar dan peresmian kenangan, rumah itu perlahan kehilangan suara-suara harian yang membuatnya hidup.
Di batin setiap pembaca, ada tugas kecil: apakah kita hanya mengagumi facade kebanggaan nasional dari jauh, ataukah kita turun tangan—mengunjungi, menyumbang, menerjemahkan dokumen lokal, atau sekadar membawa anak mencintai ruang baca? Rumah ingatan memerlukan orang yang peduli. Tanpa orang, rumah menjadi kosong. Tanpa orang, jejak pun meredup.
Penutup
Perpustakaan Nasional berdiri sebagai sebuah niat: menyimpan, merawat, dan meneruskan ingatan. Namun niat memerlukan praktik, dan praktik memerlukan partisipasi.
Gedung megah adalah simbol yang menggugah, tetapi rumah sejati tercipta dari rutinitas kecil—pustakawan yang sabar, program yang menyentuh komunitas, dan warga yang merasa berkepentingan untuk mewariskan. Jika kita meninggalkan semuanya pada teknologi semata, kita berisiko memindahkan tanggung jawab ke ruang-ruang yang tak kita pahami sepenuhnya.
Biarkan pertanyaan ini tetap menggantung :
ketika generasi mendatang membuka lembaran arsip, akankah mereka merasakan kehadiran kita — bukan hanya sebagai nama dalam buku tamu, tetapi sebagai orang yang pernah menghidupkan ruang itu? Rumah ingatan menunggu jawaban kita, dan jawaban itu terbentuk dari kebiasaan yang kita pilih hari ini.
Referensi
1. Halbwachs, M. (1992). On Collective Memory. University of Chicago Press. (Teori dasar tentang ingatan kolektif; relevan untuk memahami fungsi institusi penyimpanan memori).
2. Assmann, J. (2010). Cultural Memory and Early Civilization: Writing, Remembrance, and Political Imagination. Cambridge University Press. (Pembahasan tentang arsip sebagai pembentuk identitas kolektif).
3. Foucault, M. (1972). “The Archaeology of Knowledge.” Pantheon Books. (Teori arsip dan kondisi kemungkinan pernyataan).
4. Conway, P. (2013). “Preservation in the Digital Age: Problems and Prospects.” Journal of Documentation, 69(5), 1–20. (Tantangan digitalisasi dan tata kelola arsip modern).
5. Yakel, E. (2007). “Archival Representation.” Journal of the American Society for Information Science and Technology, 58(13), 1981–1991. (Kurikulum praktis untuk keterlibatan publik dalam arsip).
Alamat Lengkap Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan: Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta Pusat 10110.
Sekretariat / Direktorat (kantor administrasi):
Jalan Salemba Raya No. 28A, Jakarta 10430.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar