WADUHMAS.COM

Mikir dulu baru bicara

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]






Apakah kita benar benar beribadah, atau sekadar menandai diri selesai melakukan tugas dalam kehidupan? Saat alarm subuh berbunyi, tubuh bergerak, doa diucap, lalu pagi hari menyeret kita ke ruang rapat, spreadsheet, dan notifikasi tanpa jeda — ibadah tampak rapi, terjadwal, tercatat, semua seperti sebuah rutinitas orang terencana.


Namun di balik rutinitas itu muncul rasa kegelisahan halus: adakah sesuatu yang hilang ketika doa hanya menjadi ritual yang dilakukan 'seperti biasa'?


Pertanyaan ini bukan karena sudi menyingkap dosa orang lain, melainkan karena banyak dari kita merasakan vakuum — ada tindakan, ada kata, tetapi apakah ada sentuhan batin yang membuat segala gerakan itu menjadi bermakna? Mari kita telusuri, tanpa menggurui, tetapi dengan kejelasan dan empati: antara komitmen dan kebiasaan, di mana letak makna sejati ibadah?


Isi


Bagian A — Realitas


Di kota-kota besar, ibadah seringkali terbungkus oleh ritme kerja dan tanggung jawab. Ibadah pagi menjadi checklist subur: bangun, wudhu, shalat, selesai. Di kantor, bahasa berubah menjadi deliverable, KPI, dan eskalasi — semacam jargon korporat yang menular sampai ke relung spiritual.



Bagi banyak orang, ibadah tak lagi hanya dialog dengan yang transenden; ia menjadi ritual yang dimediasi oleh waktu luang yang tersisa.


Fenomena ini tidak linear: ada juga mereka yang menemukan keheningan intens lewat rutinitas yang sama. Namun, masalah problematik muncul saat formalitas berperan sebagai penghalang terhadap refleksi. Ketika doa hanya dihafal, bacaan seperti nada latar, dan motifnya berubah mulai mendekat pada ekspektasi sosial (supaya dianggap 'baik') alih-alih pencarian batin, maka ibadah kehilangan sifat melankolisnya.



Secara psikologis, manusia mencari konsistensi. Rutinitas memberi rasa aman—otak kita menyukai prediktabilitas. Tetapi ketika ritual spiritual menjadi sekadar pola yang dipelihara untuk menenangkan kecemasan sosial atau identitas, makna dapat menguap. Ada juga dimensi sosiologis: komunitas memberi tekanan normatif yang membuat ritual dipertahankan demi status moral, bukan karena dorongan batin. Ketika ibadah melayani dua fungsi—pengakuan sosial dan kebutuhan internal—seringkali yang terakhir kalah bersaing dalam budgeting waktu emosional kita.




Bukan hanya soal kesibukan. Ada generasi yang merasakan disonansi antara bahasa teks kitab dan pengalaman hidup kontemporer. Teks-teks suci menuntut kedalaman; kehidupan modern menuntut kecepatan. Ketika keduanya berpapasan tanpa interaksi mendalam, ritual mudah berubah menjadi formalitas yang terlihat estetik: indah dilihat, tipis rasanya di jiwa.


Perasaan bersalah melingkupi mereka yang menyadari hal ini, atau sebaliknya, kebanggaan palsu pada wujud ritual tanpa transformasi batin.




Bagian B — Analogi


Jika kita membaca ulang fenomena ini dengan kacamata filsafat, ada beberapa jalur interpretasi yang berguna.

Pertama, formalism versus intentionalism: formalism menekankan bentuk dan kepatuhan prosedural; intentionalism mencari makna di balik niat. Dalam tradisi etika, perbedaan itu mirip jurus antara deontologi (kewajiban) dan teleologi (tujuan).


Ibadah yang hanya formal akan mirip tindakan deontologis (kewajiban) tanpa perhatian terhadap maksud — masih 'benar' tapi mungkin tidak membangun rasa dalam batin.


Banyak tokoh spiritual dan filsuf memberi peringatan sejenis: ritual yang bermakna harus menelurkan perubahan nyata pada moral dan epistemik—mengubah cara kita melihat diri, orang lain, dan dunia.

Contoh sederhana: ritual sedekah yang penuh kalkulasi (apa untungnya untuk reputasi saya?) berbeda esensinya dengan sedekah yang lahir dari empati. Dalam konteks ibadah, niat (niyyah) bukan sekadar frase pembuka; ia adalah penggerak etis. Ketika niat rapuh, ritual cenderung menjadi façade.

Analogi: bayangkan ibadah sebagai program perangkat lunak. Jika kode ditulis rapi (ritual), itu bagus. Namun tanpa kompilasi niat—pemahaman dan pengujian—program tidak menjalankan fungsi transformasional. Dalam perusahaan, kita memuji SOP yang terstandardisasi—tapi kita juga mengharapkan outcomes yang terukur: customer delight, efisiensi, inovasi. Spiritualitas juga butuh outcome: perubahan karakter, ketenangan batin, tindakan etis. Tanpa itu, ritual hanyalah SOP rohani yang berjalan tanpa metrik kualitas.



Sejumlah pemikir modern menyodorkan konsep 'kehadiran' (presence) sebagai kunci. Kehadiran berarti terlibat sepenuhnya pada momen ibadah: bukan setengah mata memandang jam, bukan beranjak pikir ke email, melainkan ada fokus khusus pada peristiwa spiritual. Mindfulness, dalam tradisi Timur, dan khushu' dalam tradisi Islam, berkaitan erat: keduanya merujuk pada keterlibatan batin yang menjadikan tindakan suci menjadi pengalaman yang merobek kebiasaan.



Filosofi eksistensial juga mengingatkan kita bahwa tindakan menjadi bermakna ketika dihadirkan dengan kesediaan untuk bertanggung jawab atas pilihan hidup—ibadah, dalam pengertian ini, adalah aksi sesungguhnya  yang menegaskan siapa kita.



Secara historis, praktik ibadah komunitas juga berfungsi sebagai teknologi sosial—menguatkan ikatan, menyusun norma. Itu bukan hal negatif; komunitas memberi struktur penting. Masalah muncul jika struktur itu menggantikan esensi. Kita perlu kultur yang mendorong refleksi: bukan hanya "apakah ritual sudah dilakukan?", tetapi "bagaimana ritual itu mengubah saya?" Di sini peran tokoh spiritual, guru, dan pemimpin komunitas menjadi krusial: mereka dapat menginsentifkan pembelajaran batin, bukan sekadar kepatuhan formal.




Bagian C — Pertanyaan


Kembali ke diri kita sebagai manusia yang beranjak dari kantong realitas sehari-hari: apa yang bisa kita lakukan?


Pertama, evaluasi jujur terhadap motif.
Motif bukan mata yang bisa diobservasi langsung oleh orang lain; ia hanya bisa dirasa. Menyusun jurnal spiritual bisa berguna—mencatat mengapa kita beribadah hari ini, apakah karena cinta, rasa takut, atau kebiasaan. Kejujuran internal ini terasa keras pada awalnya, tetapi ia membuka jalan untuk perbaikan.


Kedua, praktik kecil yang konkret
Sebelum memulai ritual, lakukan jeda singkat—tarik napas, ingat tujuan, lafalkan niat yang bermakna. Ini bukan formalitas tambahan; ini cara untuk mensinkronkan gerak tubuh dengan orientasi batin.

Ketiga, dialog antar komunitas yang sehat
buatlah ruang tanya-jawab, sharing pengalaman, bukan sekadar pengulangan teks. Ketika komunitas memfasilitasi diskusi batin, ritual mendapatkan respirasi moral yang diperlukan.


Sikap businessman-light mungkin membantu: gunakan KPI spiritual—tetap sederhana dan empatik. KPI bukan untuk mengcommodify iman, tetapi untuk memberi feedback: apakah ritual membantu mengurangi kemarahan, meningkatkan kepedulian, atau menolong keputusan etis? Catat: "minggu ini, berapa kali saya merespon dengan sabar?" Ini bukan angka yang menghakimi tapi alat diagnosis.



Ada juga dimensi sosio-kultural: jangan buru-buru menyalahkan generasi muda karena 'tak khusyuk'; mungkin mereka merespon struktur ritual yang tidak relevan dengan pengalaman hidup mereka.


Kita dipanggil untuk meremajakan praktik—bukan mengubah teologi, melainkan menerjemahkan bahasa ritual ke bahasa kehidupan sehari-hari sehingga ia beresonansi sampai cocok. Transformasi batin sering muncul dari konteks konkret: dari empati terhadap tetangga yang kesulitan, dari tindakan kecil yang menghubungkan iman dan perbuatan.

Lakukanlah tiap sujud, tiap bacaan, tiap puasa  bukan hanya formalitas, melainkan getaran hati yang membangunkan ciptaan agar penuh kasih dan keadilan — menjawab panggilan Rasulullah SAW yang tujuan-Nya bukan hanya ritual, tapi transformasi jiwa, baca juga tentang nabi muhammad SAW, Disini.

Refleksi ini harus dilihat sebagai proses, bukan proyek setengah jadi. Perubahan batin memerlukan repetisi yang sadar—bukan sekadar repetisi mekanis. Kita perlu menjadi insinyur spiritual dan juga penulis kisah kehidupan; menyusun ulang rutinitas sehingga di dalamnya ada ruang terbuka untuk kehadiran, empati, dan penyesuaian etis. Ketika ibadah kembali menjadi ruang dialog—bukan hanya monolog ritual—ia mulai mengembalikan makna.



Penutup



Akhirnya, formalitas dan makna bukanlah musuh alami; mereka seperti dua sisi mata uang yang sama. Formalitas memberi bentuk, tapi makna memberi nilai. Kita boleh berbangga pada ritme ritual yang konsisten—asal kita tak lupa memeriksa apakah ritme itu masih bernyawa.


Mungkin lebih berguna untuk memandang ibadah sebagai laboratorium batin: tempat eksperimen sederhana, di mana niat diuji, sikap diuji, dan hati dilatih untuk peka. Jika ritual menjadi catatan yang hanya dilihat sesekali, mari ubah itu menjadi cermin yang menuntun kita melihat siapa yang kita jadi. Pertanyaannya tetap menggantung: ketika kau berdiri di hadapan ritualmu berikutnya, apakah kau akan hadir sebagai pelaku atau sebagai saksi yang tergerak?



Referensi



Abedifar, P. (2023). Formalism versus Purposivism in Islamic Jurisprudence. MDPI — Religions.

Artikel ini membahas ketegangan antara kepatuhan bentuk (formalism) dan tujuan (purposivism) dalam praktik hukum Islam, relevan untuk memahami bagaimana ritual bisa kehilangan atau mempertahankan tujuan moral dan spiritualnya.



Mir-Ahmadi, M., & Valad-Beygi, A. A. (2022). The Role of Formalism in Spread of Contemporary Religious Fanaticism. Journal of Islamic Political Studies, 4(8), 83–107.

Kajian ini mengeksplorasi bagaimana formalitas ritual dapat dimobilisasi secara politik dan berpotensi berkontribusi pada pola-pola radikalisasi ketika makna dikesampingkan. Kedua referensi ini berguna untuk pembaca yang ingin menelaah aspek teoretis dan implikasi sosial dari pergeseran antara ritual sebagai bentuk dan ritual sebagai sarana transformasi batin.


Maukah kita menghadapi cermin dalam diri dan bertanya: sudahkah niatku bersih, hatiku tergerak, hidupku berbuah kebaikan yang nyata? Ibadah bukan sekadar jalan yang kita lalui, tapi peta yang menuntun ke tujuan yang lebih dalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib