Perlukah Kepedulian Disiarkan?
Manusia zaman sekarang kadang seperti selebgram tanpa endorsement: peduli, tapi harus ada lampu sorotnya. Kita berdoa, berdonasi, memeluk kucing liar—lalu mempostingnya dengan caption penuh tanda kutip dan lope lope.
Sedikit absurd, tentu: kadang kepedulian terasa seperti topeng musim dingin yang harus dipakai agar hangatnya terasa di feed orang lain. Tapi di balik tawa kecil itu, ada kegelisahan: ketika kepedulian menjadi tontonan, siapa yang sejatinya terbantu — dan siapa yang sedang memoles citra diri?
BAGIAN A — Realitas
Di kota-kota dan timeline media sosial kita, kepedulian telah berubah wujud. Dahulu, tetangga mengantar nasi ke rumah keluarga yang kesusahan karena komunitas tahu tanggungan bersama; kini, solidaritas sering datang dalam bentuk unggahan: foto, story, atau tagar yang mengumpulkan like cepat.
Fenomena ini tak sekadar soal media — ia bergaung dari ekonomi perhatian (attention economy) di mana eksposur menjadi mata uang. Ketika perhatian itu bernilai, tindakan yang dulu bermotif murni pun bisa terseret arus pencitraan.
Ada beberapa bentuk yang muncul: ada yang benar-benar beraksi di balik layar tanpa memamerkan — lalu ada pula yang melakukan aksi simbolis, cukup untuk mengisi feed dan menenangkan nurani.
Tindakan simbolis ini tidak selalu buruk; kadang ia membuka ruang diskusi atau menggalang sumber daya. Namun problem muncul ketika intensi bergeser: dari membantu menjadi tampil.
Dalam praktik sosial sehari-hari, kita mengenal istilah seperti “performative allyship” atau “moral grandstanding” — yakni tindakan yang secara publik menegaskan moralitas pelakunya, lebih dari memperbaiki keadaan pihak yang butuh.
Studi psikologi sosial menelaah bagaimana allyship yang bersifat performatif sering didorong oleh kebutuhan reputasi dan ternyata tidak selalu memberi manfaat berkelanjutan bagi kelompok yang dimaksud.
Kesan pertama dari kepedulian yang disiarkan seringlah cepat: empati terlihat, reaksi datang, komentar mengalir. Tetapi konsekuensi jangka panjang bisa lain. Diskursus publik yang penuh grandstanding dapat mengubah kualitas perbincangan moral: dialog yang seharusnya produktif berubah menjadi arena kompetisi moral, di mana pernyataan etik dipakai sebagai alat memperbaiki posisi sosial penuturnya—bukan memperbaiki kondisi nyata.
Filosof dan peneliti moral menamai fenomena ini dan memberi peringatan tentang bagaimana ia bisa merusak kebebasan berekspresi dan bahkan menghambat perubahan substantif bila perhatian hanya terfokus pada performa bukan hasil nyata.
Di sisi lain, ada pula pembelaan terhadap apa yang sering dicela sebagai “virtue signaling”. Beberapa pemikir berargumen bahwa pernyataan moral publik—meski dipengaruhi reputasi—bisa berfungsi sebagai sinyal normatif yang menormalkan nilai baru dan memacu perubahan sosial. Intinya: perbedaannya bukan semata pada apakah kepedulian disiarkan, tapi pada struktur niat, konsekuensi, dan apakah tindakan itu diikuti oleh langkah konkret yang memberi manfaat.
Singkatnya, realitas modern menunjukkan spektrum: dari kepedulian yang tulus dan low-profile, sampai kepedulian sebagai pertunjukan. Keresahan muncul saat garis antara keduanya blur: bagaimana kita menilai keautentikan? Siapa yang mendapat manfaat?
Dan yang penting—apakah publikasi membantu atau malah menghalangi solusi?
BAGIAN B — Analogi
Untuk memahami apakah kepedulian perlu disiarkan, kita bisa meminjam lensa-lensa klasik: dramaturgi sosial Erving Goffman menulis bahwa interaksi manusia seringkali mirip panggung teater di mana setiap orang memerankan “peran” sesuai konteks.
Dalam panggung publik media sosial, kostum kita adalah unggahan, caption, dan emoji; atraksi kita adalah aksi solidaritas yang tampak.
Goffman memberi kita kerangka melihat bagaimana identitas dibentuk dalam tampilan—bahwa banyak perilaku sosial memang ditujukan untuk menciptakan kesan di orang lain, bukan sekadar memenuhi kebutuhan internal.
Dari perspektif etika, masalah kepedulian yang disiarkan menyentuh dua dimensi:
Pertama niat (intention) dan Kedua efek (consequence).
Seorang yang menolong karena ingin dilihat bukan otomatis buruk jika bantuannya efektif—tetapi masalah etisnya muncul saat niat untuk eksposur mengurangi kualitas bantuan.
Misalnya: mengumpulkan donasi publik besar-besaran yang sebagian besar tersita oleh biaya promosi, sementara penerima di lapangan minim bantuan nyata. Di sinilah etika instrumental versus etika telos bertabrakan: apakah nilai tindakan diukur dari hasil nyata, atau dari konsistensi moral pelakunya?
Ada pula dimensi sosial-politik: publikasi kepedulian bisa memperluas jaringan solidaritas. Unggahan yang menyebar bisa menggerakkan sumber daya, volunteer, atau tekanan politik yang tak akan tercapai melalui diam. Dari segi strategi, “publisitas” sering kali menjadi alat menghadapi struktur tidak adil—misalnya kampanye yang membuat isu tersebar luas sehingga kebijakan berubah.
Tapi ada risikonya: jika publik lebih tertarik pada drama emosi ketimbang fakta, isu bisa dipelintir menjadi konten cepat lalu hilang tanpa perubahan struktural.
Analoginya seperti lampu panggung di teater: lampu membuat aktor terlihat, memfokuskan perhatian. Jika lampu diarahkan pada aktor yang benar-benar berjuang, penonton akan menyaksikan pertunjukan yang bermakna. Jika lampu cuma menyorot wajah yang sedang berpose, penonton pulang tanpa mengubah apa pun. Maka pertanyaannya: siapa yang menekan tombol lampu, dan untuk tujuan apa?
Kita juga bisa berbicara dengan nada yang lebih personal—tentang citra diri. Dalam masyarakat yang menghargai visibilitas, menunjukkan kepedulian adalah cara mengonfigurasi identitas moral di hadapan orang lain. Ada keuntungan psikologis: tindakan yang terlihat sering memberi suasana batin yang menenangkan, mempertegas citra diri “seseorang yang peduli”. Tapi ketergantungan pada validasi eksternal ini berbahaya karena mengikat moralitas pada mesin pujian—bukan pada konsistensi tindakan.
Dalam kajian sosial kontemporer, istilah-istilah seperti “performative allyship” dan “moral grandstanding” telah dipopulerkan untuk menggambarkan sisi gelap publisitas kepedulian: usaha menunjukkan solidaritas yang lebih banyak berdampak pada reputasi pelaku daripada nasib pihak yang dilindungi.
Para peneliti menawarkan kerangka untuk membedakan performa kepedulian yang disiarkan dan hasil ke dunia nyata:
1. Niat
2. biaya yang ditanggung pelaku
3. Durasi komitmen,
4. Hasil bagi pihak yang membutuhkan
Empat metrik sederhana yang bisa dipakai untuk menilai apakah kepedulian yang disiarkan memang berguna.
Baca juga, Berita yang terlalu cepat
Tetapi mari jangan langsung mengutuk publikasi: ada dinamika kolektif yang sering tak terlihat. Ketika norma baru perlu ditegakkan—misalnya menentang stigma atau mendukung kebijakan inklusif—tanda-tanda publik (posting, kampanye, testimoni) berfungsi sebagai bahan bakar normatif. Bahkan jika sebagian orang menyuarakan itu demi reputasi, hasil normatif bisa memperluas ruang aman bagi kelompok yang selama ini tersisih. Jadi, kepedulian yang disiarkan dapat bersifat ambivalen: ia bisa menjadi alat manipulatif atau instrumen perubahan — tergantung struktur niat, konsekuensi, dan konteksnya.
Akhirnya, dari perspektif praktik: kita butuh kriteria sederhana untuk menilai tindakan publik: apakah aksi itu mengandung biaya nyata (waktu, tenaga, sumber daya)
apakah ada kelanjutan setelah posting pertama, dan apakah mereka yang berkuasa atau terdampak ikut diuntungkan?
Jika jawaban untuk ketiganya mayoritas “iya”, publikasi lebih mungkin produktif; jika “tidak”, ia berpotensi sekadar pertunjukan.
BAGIAN C — Refleksi Batin
Kembali ke diri: bagaimana kita—sebagai individu—harus bersikap? Ada dua hal praktis yang bisa diajukan tanpa menggurui.
Pertama, periksa niatmu. Bukan untuk menjadi hakim moral, tetapi sebagai alat introspeksi: apakah kamu membagikan karena ingin membantu atau karena ingin dilihat membantu? Suatu pengakuan jujur atas ambisi reputasi bukan merendahkan tindakan; ia menolong kita mengevaluasi apakah tindakan perlu diperbaiki agar manfaatnya lebih besar.
Kedua, ukur dampaknya. Sebelum menekan tombol share, tanyakan: apakah unggahan ini memberi informasi yang berguna, mengarahkan orang ke sumber bantuan konkret, atau justru mengalihkan perhatian dari pelaku nyata di lapangan? Sederhananya: publikasikan dengan tujuan, bukan sekadar tanda. Jika tujuannya jelas—misal menggalang bantuan yang transparan—maka publikasikan itu sah-sah saja. Jika tujuannya cuma memberi “like” pada batin sendiri, pertimbangkan untuk bekerja di balik layar.
Ada juga aspek estetika batin: kepedulian yang dipraktikkan tanpa sorotan sering terasa lebih raw, lebih hening, dan memberi kepuasan berbeda. Ia seperti menyiram tanaman tengah malam: tidak ada penonton, hanya tahu bahwa tanaman tumbuh. Kepuasan semacam itu mungkin lebih tahan lama.
Namun di era informasi, aksi yang sunyi kadang tak cukup untuk mengubah kebijakan atau mengumpulkan sumber daya. Jadi kita hidup antara dua kutub: hening yang efektif di mikro-lingkungan, dan bising yang mungkin efektif di skala makro.
Praktik sederhana yang bisa kita coba: “double-check before posting.” Setelah melakukan aksi, pikirkan dua langkah:
(1) apakah postinganmu memuat ajakan konkret atau link yang membantu pihak terdampak?
(2) apakah kamu siap mempertahankan posisi itu jika muncul kritik?
Jika jawabannya tidak, mungkin lebih baik menunda publikasi dan fokus memperkuat kontribusi nyata. Komitmen jangka panjang lebih bermanfaat daripada sorotan semalam.
Kita juga perlu memupuk empati struktural: kepedulian sejati tidak hanya soal reaksi emosional singkat, tetapi upaya memahami apa yang diperlukan untuk perubahan kebijakan, dukungan finansial berkelanjutan, pendidikan.
Menyuarakan kepedulian di feed memang membuka ruang, tetapi ruang itu harus diisi oleh tindakan yang berkelanjutan oleh para aktor yang kompeten, bukan hanya drama moral.
Pada akhirnya, kepedulian yang disiarkan adalah alat. Sama seperti pisau dapur: ia bisa digunakan untuk memasak makanan bergizi atau melukai. Pertanyaannya bukan melarang pisau, melainkan bagaimana kita memegangnya. Kita dapat memilih apakah hendak menjadi aktor yang mengandalkan lampu panggung, atau tukang kebun yang diam-diam menanam pohon agar generasi mendatang bisa berteduh.
Penutup
Kepedulian yang disiarkan bukan monolit; ia berlapis — antara niat dan efek, antara drama dan pekerjaan nyata.
Menyuarakan kepedulian di publik bisa menyuburkan norma baru, menggerakkan sumber daya, dan membuka ruang bagi suara-suara yang terpinggirkan.
Namun ia juga bisa menjadi topeng yang merusak kualitas diskursus dan mengalihkan energi dari solusi nyata.
Kita tidak perlu membunuh publikasi—cukup mengajarkannya etika: publikasikan dengan tujuan, bayar biaya nyata untuk komitmenmu, dan pastikan mereka yang paling terdampak merasakan hasilnya.
Bayangkan kepedulian seperti lampu kecil di gelap: jika diarahkan pada ladang yang harus ditanami, ia akan menuntun tangan-tangan bekerja. Jika hanya diarahkan pada muka yang memandangnya, ia hanya mencipta bayangan indah tanpa hasil.
jadi, sebelum membagikan kepedulian—cek lagi: untuk siapa lampu itu menyala? Untuk kita atau untuk ladang yang kelaparan?
Referensi
Kutlaca, M. & Radke, H. “Towards an understanding of performative allyship: Definition, antecedents and consequences.” (PDF). ResearchOnline, James Cook University.
Tosi, J. & Warmke, B. “Moral Grandstanding.” Philosophy & Public Affairs (2016).
“Virtue Signaling and Moral Progress”.
Erving Goffman, The Presentation of Self in Everyday Life (1959) — teks klasik tentang dramaturgi sosial.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar