WADUHMAS.COM

Mikir dulu baru bicara

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]


Di zaman di mana feed media sosial dipenuhi dengan foto liburan mewah, karier gemilang, dan segala rupa pencapaian yang sangat spektakuler, wajar jika kita terjebak dalam anggapan bahwa kebahagiaan adalah sebuah persoalan besar dan harus digapai bagaimanpun caranya.

Namun, sedikit sekali yang berhenti sejenak untuk menyadari: mungkin kebahagiaan terbesar muncul ketika kita menyadari keberadaan hal-hal kecil yang sering kita abaikan—seperti kemampuan tubuh untuk berfungsi normal, termasuk berjalan ke toilet ketika diperlukan.

Bayangkan, ketika kita sibuk meracik strategi mencapai mimpi besar—membeli rumah, sukses di karir, atau mengejar popularitas—tubuh perlahan memberi sinyal bahwa ia butuh perhatian.

Namun seringkali kita terlalu sibuk untuk menghargai, bahkan menganggap fungsi paling dasar seperti buang air besar (BAB) sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, tanpa sistem pencernaan yang sehat, kita mungkin akan kehilangan kebahagiaan lebih cepat dari yang kita kira.

Isi

1. Ahli Anatomi Kebahagiaan Sehari-hari

Banyak yang lupa bahwa tubuh manusia adalah sistem tinggi penuh keajaiban: detak jantung yang stabil, pernapasan yang mengisi paru-paru, dan pencernaan yang memproses makanan tanpa drama—kecuali ketika “mogok” terjadi.

Ketika sistem pencernaan terganggu, semua hal lain terasa ikut terganggu. Apapun pencapaian besar di luar sana, semua terasa hambar.

Jika kita bersyukur sederhana saja—bahwa kita masih bisa makan dengan nyaman, tidur nyenyak, dan ya, masih bisa BAB secara normal—mungkin dunia terasa lebih ringan.

2. Gratitude dan Kesehatan: Kaitan Sederhana tapi Signifikan

Penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa bersyukur tidak hanya berdampak baik secara mental, tapi juga bisa meningkatkan kesehatan fisik.

Dalam sebuah jurnal yang sangat relevan berjudul:

The Role of Emotion Regulation in Body-Focused Gratitude: Impacts on Well-Being, Body Compassion, and Behavioural Intentions. (International Journal of Applied Positive Psychology). Karya Dennis & Ogden (2025). 

Studi ini menyoroti dua jenis rasa syukur—umum dan fokus pada tubuh. Hasilnya: orang yang berlatih bersyukur atas kondisi tubuhnya (body gratitude) cenderung lebih peduli pada kesejahteraan diri, memiliki niat hidup yang lebih sehat, dan memperlihatkan body compassion—penghargaan dan kelembutan terhadap tubuh mereka sendiri. 


Menariknya, kesadaran sederhana terhadap apa yang tubuh bisa lakukan—seperti pencernaan yang berjalan lancar—dapat memperkuat keinginan untuk merawat kesehatan secara sadar, termasuk pola makan lebih sehat dan olahraga teratur.

3. Ketika Tubuh Sadar: Sakit Sederhana Itu Menggoncang

Sudah pernah merasakan sembelit seminggu penuh? Atau diare parah di tengah rapat penting? Sebagian besar orang senyum saat BAB normal, tapi satu gangguan kecil bisa saja menjadikan hari berat. Ini bukti nyata: tubuh yang “diam” adalah kebahagiaan yang sering diabaikan.

Jika kita terlalu fokus pada pencapaian besar—seperti promosi kerja atau pencapaian finansial—tubuh justru mengirim sinyal bahwa ia butuh syukur: istirahat, nutrisi, dan perhatian sederhana. Tanpa syukur itu, kita mungkin baru menyadarinya saat semuanya mulai bermasalah.

4. Syukur Biar Sadar, Bukan untuk Sesumbar

Bersyukur sejatinya tidak perlu terbuka di media sosial—tanpa perlu caption panjang soal diri. Syukur bisa dimulai dari dalam: sebelum tidur, berterima kasih pada tubuh karena telah membuatmu bertahan hari itu. Saat elemen sederhana—BAB lancar, negosiasi berjalan mulus, atau senyum tulus—itu pun tanda syukur.

Menurut psikologi positif, kebiasaan ini disebut habit of gratitude—fokus pada hal kecil yang akrab namun bermakna. Menurut model broaden-and-build (Frederickson), rasa syukur membantu memperluas pandangan, memperkuat daya tahan mental, dan membangun kebiasaan sehat yang berkelanjutan. 

5. Paradoks Mimpi Besar dan Sering Abaikan Kecil

Kita ingin hidup mewah, tapi lupa hidup dengan sehat. Kita kejar mimpi besar, tapi lupa menghargai kemampuan sehari-hari tubuh. Padahal tubuh sehat adalah kendaraan paling berharga—tanpa itu, mimpi besar pun sulit diraih.

Jika kita ingat untuk syukur atas BAB yang normal setiap pagi, itu bisa menjadi pengingat: kesehatan sejatinya adalah ladang pertama yang mesti kita rawat.

6. Ajak Baca: Latih Syukur, Jaga Kesehatan

Beberapa cara sederhana agar rasa syukur kebablasan tidak cuma mengalir lewat teoretis, tapi membumi:

Gratitude journal harian: Tulis hal-hal kecil yang kamu syukuri, misalnya “BAB normalku pagi ini”, “terbangun tanpa sakit”, atau “listrik lancar sepanjang malam”.

Ungkap syukur lewat tubuh: Ucap sebelum tidur, “Terima kasih tubuh, kau telah bekerja tanpa pamrih.”

Ajari keluarga: Bicara soal pentingnya syukur pada hal sederhana ketika di meja makan atau sebelum tidur.


Melalui praktik seperti ini, kita memberi ruang untuk senyum sederhana, menguatkan makna dan mencegah rasa cukup “menyelangit” tanpa pijakan.

Penutup: Kebahagiaan Besar Dimulai dari Syukur Kecil

Dalam mengejar kebahagiaan besar—karier gemilang, keluarga harmonis, hidup penuh makna—seringkali kita lupa pijakan paling sederhana: rasa syukur atas tubuh yang masih bisa diajak bergerak.

Dengan belajar mensyukuri hal sepele seperti BAB yang normal, kita merajut fondasi kebahagiaan jangka panjang yang stabil, bukan bara yang cepat padam.

Ketika kita mampu tertawa sehabis BAB lancar setelah semalaman susah tidur, atau mencium aroma pagi tanpa mual, itu adalah tanda bahwa tubuh masih berpihak pada kita.

Dan di momen itu, kita tak hanya hidup—kita benar-benar ada dan layak bersyukur.

Referensi:


1 komentar:

  1. Wkwk awalnya ngakak bgt liat judulnya😂
    tapi setuju sih… eeq lancar tuh rezeki yg sering kita lupain

    BalasHapus

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib