Permainan rupanya bukan hanya kartu atau roda skatboard, melainkan permainan ada juga yang pakai dorongan, harapan,
dan waktu juga dipakai, sedang dia adalah ruang tempat nilai berkelana. Kita berdiri di depan mesin
keputusan yang halus: otak.
Di sinilah rasa ingin tahu bertabrakan dengan
ketamakan, dan di sinilah dopamin seringkali jadi agen yang tak terduga.
Ketika perjudian berubah dari hiburan menjadi lubang hitam kehidupan
seseorang, pertanyaannya bukan hanya soal moral atau ekonomi, melainkan: apa
yang terjadi di dalam sirkuit saraf yang membuat seseorang terus menekan
tombol judi meski semua bukti menunjukkan kerugian?
Artikel ini membacakan sebuah peta
ilmiah, Kayser (2019), untuk menelusuri bagaimana dopamin berperan dalam tarian
berbahaya itu, lalu menabrakkannya ke realitas sosial kita yang lebih riuh dan
brutal.
Perkenalan Jurnal
Kayser, A. (2019). Dopamine and Gambling Disorder: Prospects for Personalized
Treatment.
Artikel singkat namun padat ini ditulis oleh Andrew Kayser, seorang
neurolog dari UCSF, dan muncul sebagai tinjauan yang menelaah hubungan antara
sistem dopaminergik mesocorticolimbik dan gangguan berjudi.
Fokus utamanya
bukan sekadar membuktikan bahwa dopamin “terlibat”, melainkan memetakan
bagaimana variasi individual dalam fungsi dopamin dapat menjelaskan perbedaan
perilaku dari antisipasi hadiah hingga ketidakkonsistenan menimbang risiko serta implikasi terapeutik yang mungkin terjadi, termasuk bagaimana obat yang
memodulasi dopamin dapat dipersonalisasi untuk memperbaiki kontrol impuls dan
pengambilan keputusan.
Ringkasnya: Kayser menawarkan peta yang menghubungkan
neuroscience dasar dengan kemungkinan intervensi klinis.
BAGIAN A - Temuan dan Ide Kunci
Dalam tinjauannya Kayser merapikan bukti yang selama ini berputar: dopamin
tidak hanya “membuat kita senang”; dopamin memodulasi bagaimana otak
memprediksi imbalan, merespons ketidakpastian, dan menimbang nilai jangka
pendek versus panjang. Pada level sirkuit, neuron dopamin mesolimbik
meningkatkan reward anticipation, intensifikasi harapan yang membuat satu
putaran lagi terasa rasional, padahal secara objektif tak demikian. Lebih
jauh, variasi genetik dan fungsi dopamin pada individu menjelaskan mengapa
sebagian orang lebih rentan mengalami peningkatan sensitivitas terhadap
ketidakpastian (ambiguity) dan penguatan acak, yang membuat terciptanya dua bahan bakar utama mesin
perjudian.
Kayser juga menunjukkan paradoks terapeutik: obat yang menambah dopamin di
daerah frontal dapat memperbaiki kontrol kognitif yang membantu menimbang
konsekuensi jangka panjang—sementara obat yang meningkatkan dopamin di
striatum bisa memperkuat motivasi terhadap reward jangka pendek. Ini membuka
wacana personalisasi terapi; bukan sekadar memberi “obat dopamin” tetapi
memilih agen yang memodulasi wilayah dan aspek dopamin yang relevan untuk
pasien tertentu. Kayser menengarai bahwa metrik endofenotip, misalnya tingkat
impulsivitas, respons terhadap ketidakpastian, atau aktivitas kortikal
tertentu,bisa menjadi penentu respons terapi.
Hal yang mengejutkan: bukti empiris langsung yang mengaitkan kadar dopamin
basal dengan keparahan gangguan berjudi tidak begitu konsisten. Artinya, bukan
hanya jumlah dopamin, melainkan kapan, di mana, dan bagaimana dopamin
dilepaskan yang menentukan efeknya. Selain itu, ada bukti klinis bahwa agen
dopaminergik (terkadang obat yang digunakan untuk penyakit Parkinson) dapat
memicu perilaku impulsif termasuk perjudian pada beberapa pasien
Fenomena yang
menyoroti betapa rapuhnya keseimbangan antara motivasi, kontrol, dan imbalan.
Kayser menutup bagian temuan dengan optimisme berhati-hati: neuroscience
menyediakan alat untuk memetakan endofenotip dan menargetkan intervensi,
tetapi bukti intervensional yang kuat masih perlu diperbanyak sebelum
personalisasi terapi dapat diterapkan luas.
BAGIAN B - Kritik
Kayser memberi kita peta; sekarang mari kita baca peta itu sambil mencurigai
legenda. Sebagai opini jurnal, saya melihat dua hal: penerangan yang berharga
dan blind spot metodologis yang sering diabaikan oleh literatur neurosains
populer.
Pertama, pujian. Menempatkan perhatian pada endofenotip adalah langkah
strategis: daripada menuduh 'karakter' pasien, pendekatan ini menanyakan
fungsi neurobiologis konkret, berupa impulsivitas, evaluasi risiko, sensitivitas
terhadap ketidakpastian yang bisa diukur dan diuji. Itu memberi kita alat
untuk membedakan antara orang yang berjudi karena kemiskinan struktural dan
mereka yang terjerat oleh perubahan sirkuit dopamin. Ini bukan hanya hal
teknis, tapi juga etis: pengobatan yang berhasil harus mempertimbangkan
konteks sosial, bukan sekadar menekan gejala.
Namun, kritiknya juga tajam. Neurosains sering tergoda untuk menjadi narasi
deterministik: “otak rusak, maka perilaku rusak.” Kayser berhati-hati, tetapi
bahaya interpretatif tetap ada, khususnya saat temuan neuromodulator
dikomodifikasi menjadi solusi farmakologis. Mentransformasikan ketidakpastian
sosial, kesenjangan ekonomi, akses usaha, pendidikan yang menjadi masalah “sirkuit
dopamin” bisa memudarkan tanggung jawab politik dan struktur. Dalam bahasa
korporat: kita tak boleh mengonversi problem sistemik menjadi masalah
deliverable klinis tunggal.
Kedua, ada masalah ekologi validitas. Banyak studi yang membentuk argumen
Kayser menggunakan tugas laboratorium yang terkontrol, seperti tugas probabilitas,
delay discounting yang memetakan komponen keputusan.
Tetapi berbeda dengan kehidupan penjudi
di dunia nyata penuh nuansa: iklan yang memicu fantasi, tekanan teman, hutang
mendesak, dan teknologi platform yang dirancang untuk membuat interaksi terus
berulang. Mengklaim bahwa satu modul dopamin menjelaskan perilaku dalam
konteks digital yang kompleks adalah klaim yang terlalu ambisius.
Terlihat efek boomerang dalam wacana terapi. Jika penelitian
mendorong penggunaan modulator dopamin untuk “memperbaiki” pengambilan
keputusan, industri farmasi melihat peluang pasar; regulasi dan etika bisa
tertinggal. Kita sudah melihat obat dopaminergik memicu gangguan kontrol
impuls pada pasien Parkinson, fenomena yang menegaskan bahwa intervensi
neuromodulator itu pedang bermata dua. Kayser mengakui ini, tetapi rekomendasi
kebijakan untuk pemantauan jangka panjang dan batasan penggunaan masih terasa
samar.
Secara pribadi, sebagai pengamat sosial-budaya, saya cenderung membaca temuan
ini sebagai peringatan bahwa otak manusia tidak terisolasi. Dopamin bukan
hanya molekul; ia adalah mediator antara struktur (ekonomi, teknologi) dan
pengalaman subyektif. Jadi solusi yang bermartabat harus menggabungkan terapi, farmakologis bila diperlukan, dan dengan kebijakan publik: akses ke layanan
konseling, kontrol iklan perjudian, pendidikan finansial, dan pengurangan
eksposur platform yang memicu perilaku kompulsif.
Akhirnya, analogi: membaca dopamin semata sebagai penyebab adalah seperti
menyalahkan kunci pada pintu yang macet tanpa memperhatikan korosi, desain,
dan lingkungan di mana pintu itu dipasang. Kayser memberi kita alat membuka
kotak hitam saja, tetapi kotak itu berada di dalam rumah yang lebih besar:
masyarakat yang memproduksi kebutuhan, kesepian, dan kesempatan. Tanpa
memperbaiki rumah, membuka kotak hitam saja mungkin tak menghentikan
kebakaran.
BAGIAN C - Realitas Kita (Indonesia, media sosial, relasi)
Tarik napas. Di Indonesia, di mana lotere resmi minor, tetapi judi informal,
taruhan, dan platform daring merajai dimana mana, narasi Kayser harus dikontekstualkan.
Kita
bukan sekadar komunitas pengguna lab; kita adalah masyarakat dengan
ketimpangan ekonomi, norma agama yang kuat, dan budaya gotong-royong yang
kadang menutup-nutupi masalah individu. Gambaran dopamin ini memberi lensa:
beberapa perilaku berjudi mungkin berakar pada sirkuit saraf, tetapi
manifestasinya dimediasi oleh kemiskinan, stigma, dan platform digital yang
berevolusi pesat.
Pertama, pada level sehari-hari: game mobile, loot box, dan mekanik
microtransaction merancang pengalaman yang sangat mirip mekanika
slot, ketidakpastian, hadiah acak, interval yang terstruktur agar pemain terus
bermain. Ketika perusahaan teknologi merancang pengalaman ini untuk
engagement, mereka pada dasarnya memanfaatkan sistem dopamin kita. Jadi wacana
tentang “kecanduan” sering kali berpotongan langsung dengan desain produk yang
profit-driven. Di sini, Kayser memberi dasar biologis untuk menuntut regulasi
produk digital: bukan hanya moralitas, tapi perlindungan konsumen dari desain
yang mengeksploitasi kecenderungan neurobiologis.
Kedua, budaya dan agama. Di banyak komunitas Indonesia, perjudian dianggap
tabu; korban sering disalahkan atau dikucilkan. Argumen neurosains memberi
kesempatan untuk menggeser narasi dari moralitas tunggal ke pemahaman
medis-sosial, mengurangi stigma dan membuka akses pengobatan. Tapi waspada:
label “biologis” kadang kembali dimanfaatkan oleh politik identitas untuk
merasionalisasi pendekatan represif, yang mengurung atau menghukum tanpa
rehabilitasi
karena “orang yang bermasalah” dilihat sebagai bahaya moral. Kita
harus menuntut kebijakan berbasis bukti: rehabilitasi, bukan hanya hukuman.
Ketiga, kerentanan karena obat. Di Indonesia, akses obat neuromodulator yang
digunakan untuk kondisi neurologis kena pada praktik medis yang mungkin
longgar. Kasus global yang menunjukkan dopamin agonists (mis. pramipexole)
memicu perilaku impulsif menjadi peringatan: intervensi farmakologis tanpa
pemantauan dapat memperburuk masalah sosial berupa hutang, kekerasan rumah tangga,
bunuh diri.
Di sini peran regulator dan praktik dokter menjadi kunci;
rekomendasi Kayser soal personalisasi terapi harus disandingkan dengan
kebijakan yang melindungi pasien dan masyarakat.
Keempat, politik dan ekonomi. Ketika industri perjudian atau platform digital
menyumbang pemasukan signifikan yang tentu saja secara langsung atau tak langsung bertabrakan dengan kepentingan
politik yang mungkin akan menimbulkan konflik.
Argumentasi neurosains bisa digunakan dua
arah: untuk mengadvokasi pembatasan industri demi kesehatan publik, atau
sebaliknya untuk menegaskan tanggung jawab individu dan menghindari regulasi.
Kekuatan narasi menentukan kebijakan: apakah kita memilih polis berbasis
perlindungan publik atau retorika individual yang menyalahkan korban?
Terakhir, relasi manusia. Keluarga yang melihat anggota terjerat judi sering
mengalami stigma dan beban ekonomi; pemulihan memerlukan jaringan sosial,
bukan hanya pil. Intervensi efektif menggabungkan terapi perilaku, dukungan
ekonomi, dan penguatan hubungan, karena mengubah sirkuit sosial sama pentingnya
dengan mengubah sirkuit saraf. Kayser memberi titik masuk neurologis dan itu
berguna tetapi solusi yang berkelanjutan harus merangkul ranah sosial, hukum,
dan budaya.
Penutup
Dopamin memberi kita kerangka biologis untuk memahami bagaimana harapan dan
ketidakpastian bisa menjadi racun lambat; namun, membaca otak tanpa membaca
konteks sosial adalah separuh cerita. Jika ilmu menempatkan kita pada tahap
pemahaman yang lebih dalam, apakah kita akan menggunakan pengetahuan itu untuk
mengobati, mengafirmasi, atau mengkomodifikasi?
Dan siapa yang berhak
menentukannya, apakah para dokter, regulator, atau perusahaan, atau masyarakat yang dirundung
kerugian?
Pertanyaan itu menggantung, menunggu jawaban yang bukan hanya
ilmiah, tetapi juga etis dan politis.
Referensi
Kayser, A. (2019). Dopamine and Gambling Disorder: Prospects for Personalized
Treatment. Current Addiction Reports. doi:10.1007/s40429-019-00240-8.
Profile Kayser. A

Tidak ada komentar:
Posting Komentar