Percakapanku dengan penjual bubur
Pembukaan
Pada suatu malam saat aku sedang kencan malam dengan pacarku, kami memutuskan untuk makan malam, dilanda rasa binggung mau makan apa, terfikirlah untuk makan bubur, kami ambil piring dan bergegas berjalan ke tukang bubur.
Sang penjual pun mulai meracik buburnya ke dalam piring kami, sambil kami bersenda gurau aku menceritakan hidupku, dan dia menjawab dengan penuh tawa, berarti malam ini kamu akan medoakan nya kan?
Sebuah pembahasan sederhana ku dengan tukang bubur soal keseharian, menyadarkan ku akan beberapa hal yang sering kali kita lupa dalam hidup.
Mari kita bahas.
BAGIAN A
Dalam keseharian dimasa modern ini, kebanyakan dari kita termasuk aku hanya memikirkan soal target hidup, tidak semua, tapi banyaknya memang begini.
Beberapa contoh targetnya adalah harus dapat predikat terbaik di akademis, target perusahaan terpenuhi, target keuangan harus tercapai, bahkan mengejar seseorang harus maksimal, itu bukan lah hal buruk, itu adalah baik.
Seiring hal baik yang dikejar terus menerus, mulai timbul masalah yang kadang tidak disadari, yaitu melupakan orang orang yang dulu kita pedulikan dan kita sayangi, lalu di iringi dengan rasa kurang, kurang, kurang dalam mengejar target hidup.
Lalu kita mulai merasa bahwasan nya semua hal di sekeliling kita menyulitkan kita dalam mencapai target, mulai dari orang tua, pasangan, atasan, dunia, bahkan tuhan.
Tapi kita lupa merasakan bahwasannya ada rasa hampa muncul dalam jiwa, itu adalah cinta, kasih sayang, rasa kepedulian, dan rasa syukur.
BAGIAN B
Karena terlalu sering memikirkan soal target hidup, kita lupa tentang orang terdekat yang telah lama pergi dan kita rindukan saat awal kepergian nya. Lalu kita juga lupa bahwasan nya kita masih punya nafas untuk makan, minum, tidur.
Dalam sebuah penelitian nan jauh disana di ceritakan bahwa dengan rasa syukur yang cukup kerap memiliki kebahagiaan yang memadai, hal yang sama berlaku untuk orang orang yang tidak cukup rasa syukurnya.
Tentu dalam penelitian ini bukan bermaksud memberi tahu kita bahwa kurang bersyukur membuat hidup serasa sulit, tapi anehnya sering kali orang yang berjuang pada targetnya, mensyukuri hidupnya, menyayangi sekitar sekalipun yang sudah pergi duluan ke alam baka, memiliki peluang hidup lebih baik.
BAGIAN C
Lalu kapan terakhir kali kita mendoakan, atau mendatangi orang terkasih kita saat mereka sudah di tempat lain?
Lalu jika mereka ada yang masih hidup, kapan terakhir kita datang menjenguk dengan senyum senang karena masih melihatnya secara utuh?
Lalu kalaupun kita masih bisa melihat mereka secara utuh masihkah kita bisa menerima kerurangan yang mengerogoti tubuhnya?
Apakah cinta kasih sayang yang tulus masih bisa kita berikan, terlepas perlakuan baik buruk mereka di masa lampau?
Lalu kapankah kita berterima kasih pada tuhan dan dunia tentang hal hal yang kita usahakan maupun hal hal yang sudah kita dapatkan?
Episode sebelumnya, tentang kesombongan
PENUTUP
Pembahasan ini bukan hanya soal membeli bubur, tukang bubur, maupun aku, kamu, kita semua
pembahasan ini bukan hanya tentang doa, rasa syukur, menerima, ini lebih dari itu.
Pembahasan ini menuliskan seberapa kuat kita berusaha dalam hidup, menerima deritanya sambil tetap tersenyum dalam jiwa, bukan hanya senyum bibir.
Pembahasan ini adalah pertanyaan untuk jiwa yang masih melekat di tubuh, tentang sejauh apa kita melangkah, apakah masih manusia atau mesin pengejar target
Referensi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar