Simpanlah Sombongmu, Karena Tidak ada Orang Sombong Bisa Mengubur Diri Sendiri
PEMBUKAAN
Halo pembaca yang budiman, kali ini saya mau bercerita tentang sebuah hal, yang membuat hati tertegun.
Pada suatu hari saat aku dan tim ku sedang pergi menuju sebuah daerah yang jauh dari pusat kota, dalam perjalanan kami terjebak macet yang cukup parah hingga kami tidak bisa bergerak.
Aku merasa lelah dengan macet nya lalu aku putuskan melihat sekeliling, lalu aku melihat sebuah bus yang dibelakang nya bertuliskan
"Simpanlah Sombongmu, Karena Tidak ada Orang Sombong Bisa Mengubur Diri Sendiri"
Mari kita bahas.
BAGIAN A
Dimasa kini, kuta biasa melihat orang orang dengan pencapaian dan memamerkan nya secara bangga, lalu ada juga tipikal orang yang sebenarnya orang biasa, dengan pencapaian biasa dan mereka merasa berharga dan penting.
Dua sifat diatas memiliki persamaan yang mirip, bahwa manusia membutuhkan sebuah vadilasi, yang sialnya membuat orang orang itu menjadi lupa diri bahwasan nya dia manusia biasa.
Kebanyakan sifat sifat seperti ini semakin kuat di masa ini dengan bantuan teknologi, baik lewat foto dan video yang disebar luaskan.
Banyak pula dalam percakapan sehari hari bahwa perilaku ini sering dilihat ketika mereka berbicara, lalu secara sadar merendahkan lawan bicara, baik itu secara materi maupun non materi.
Dan tampa disadari, sang manusia ini menjadi sombong, angkuh, kejam, dan haus pengakuan tanpa mau mendengar orang lain.
BAGIAN B
Sebetulnya perilaku ini sudah ada sejak jaman dahulu, hanya saya terbatas
pada orang orang tertentu, kita tau kisah kisah seperti raja firaun, lalu
gilgamesh, lalu para kaisar romawi, dan banyak lagi.
Dengan semakin banyaknya perilaku seperti itu dimasa ini, dengan
ditambahnya pula internet semakin membuat setiap orang ingin diakui.
Marcus aurelius pernah membahas ini, bahwa apakah penting kesombongan kita,
perilaku ini milai muncul jika kita merasa hidup tidak adil dan banyak orang
curang pada kita.
Apakah penting untuk mengatakan banyaknya pencapaian kita sambil
merendahkan lawan bicara kita, apakah ada terfikir di benak kita ini suatu
hal yang akan berguna di masa depan, apakah itu hanya pikirkan untuk sekedar
membuat kita tertawa sejenak.
BAGIAN C
Apakah mungkin untuk kita para manusia bisa hidup tanpa sekalipun merasa bangga, tentu tidak.
Tapi apakah mungkin manusia bisa hidup hanya mementingkan ego sendiri dan
merendahkan, menjatuhkan siapapun di depan umum, jawaban nya hanya hati
nurani yang tau
PENUTUP
Hidup memang hanya sekali, kesalahan bisa terjadi kepada siapapun, termasuk
perilaku sombong, namun akan bahaya jika sengaja melanjutkan hal ini, karena
seperti di judul.
Simpanlah Sombongmu, Karena Tidak ada Orang Sombong Bisa Mengubur Diri
Sendiri
Karena faktanya manusia akan tetap butuh orang lain sekalipun dia
penyendiri.
Baca juga, NKRI itu rusak apanya?
Referensi
Dibawah ini ada referensi yang menambah ide kami dalam menulis artikel ini.
Wayment, H. A., Bauer, J. J., & Sylaska, K. The Quiet Ego Scale: Measuring the Compassionate Self-Identity. Journal of Happiness Studies.
Artikel ini menjelaskan quiet ego sebagai identitas diri yang lebih seimbang dan kurang defensif.
Jankowski, P. J., Sandage, S. J., Wang, D. C., et al. Longitudinal processes among humility, social justice activism, transcendence, and well-being. Frontiers in Psychology.
Studi ini mengaitkan humility dengan well-being dan transcendence.
Di Pierro, R., Mattavelli, S., & Gallucci, M. Narcissism and self-esteem: A nomological network analysis. Frontiers in Psychology.
Riset ini membedakan self-esteem sehat dari narsisisme yang lebih dekat pada grandiositas dan demeaning attitudes.
Zhang, J., Peng, J., Gao, P., et al. Relationship between meaning in life and death anxiety in the elderly: self-esteem as a mediator. BMC Geriatrics.
Artikel ini membahas meaning in life, self-esteem, dan death anxiety.
Foto hanya ilustrasi AI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar