WADUHMAS.COM

Mikir dulu baru bicara

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

 NKRI Itu Rusak di Mana Sih Sebenarnya?


Kadang kita membuka berita bukan hanya untuk mencari kabar, melainkan untuk memastikan bahwa dunia masih sanggup membuat kita geleng kepala.


Ada judul yang sepertinya tidak hanya diliput, melainkan itu cerminan diri. Sekalinya kita baca, kita tertawa kecil. Dua detik kemudian, dada terasa agak berat. Karena ternyata, realitas memang sering lebih liar daripada parodi.




Refleksi


Berita dengan judul “Dua Polisi Bandar Lampung Bantu Begal Truk, Makelarnya Petugas Dishub, Pembelinya Anggota DPRD” terdengar seperti lelucon yang ditulis terlalu maksa. Tapi justru karena terdengar berlebihan, ia memang mau menampar kita


Bahwa rernyata korupsi tidak selalu berdiri sendirian. Ia bisa berjalan beriringan, saling kenal, saling tutup mata, lalu saling memberi jalan.


Yang membuat orang terdiam bukan hanya soal adanya aksi kejahatan, melainkan karena lapisan-lapisan yang semestinya menjaga ketertiban justru ikut terseret dalam rantai yang sama.


Bayangkan, Polisi, Dishub, sampai Wakil Rakyat, seolah semua pintu yang kita harap jadi pagar malah berubah jadi lorong. Di titik itu, rakyat bukan cuma kehilangan barang, tapi juga kehilangan rasa aman. Dan kehilangan rasa aman itu anehnya sunyi: tidak selalu gaduh, tapi lama-lama mengikis rasa percaya.


Fenomena seperti ini juga menunjukkan betapa rapuhnya moral kita ketika kekuasaan bertemu peluang. Satu pihak butuh akses, pihak lain butuh pemasukan, lalu semuanya dipoles jadi transaksi yang tampak biasa saja.


Tragisnya, kejahatan semacam ini sering tidak datang dengan wajah garang, melainkan dengan senyum administratif yang rapi. Seperti angin kecil yang diam-diam memindahkan daun.


Maka meme semacam ini bukan sekadar bahan tertawa. Ia adalah cara masyarakat mengatakan:


“Dari sini kami melihat semuanya”


Kadang humor seperti ini adalah bentuk perlawanan yang paling jujur, karena ketika logika sudah terlalu capek menjelaskan, tertawa adalah pelampiasan rasa marah.


Penutup


Barangkali yang paling menakutkan bukan berita itu sendiri, melainkan betapa mudahnya kita terbiasa membacanya.


Lalu pertanyaannya ya tetap sama:


Saat sesuatu yang salah terasa sudah terlalu sering, masihkah kita marah, atau perlahan mulai menganggapnya hal wajar?


Referensi

KompasTV

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib