WADUHMAS.COM

Mikir dulu baru bicara

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]


“Religius tapi membenci agama lain?”

religius-waduhmas


Pembukaan


Dengan membaca judul ini anda mungkin mulai setuju bahwa ada sesuatu yang memang harus dipertanyakan dalam jiwa masing masing.


Bahwa apakah bisa kita tetap bertuhan tanpa membenci dan memusuhi yang berbeda pendapat dan pilihan, sesimpel karena tuhan maha kasih, mari kita bahas


A - Ketika Iman Bertemu Perbedaan


Kita mungkin pernah bertemu dengan seseorang yang begitu religius.

Ia hafal banyak nasihat, banyak ayat, rajin beribadah, sering berbicara tentang Tuhan, moral, kebaikan, dan bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup.

Pada awalnya, semua itu terasa menenangkan.

Namun terkadang, setelah mengenalnya lebih jauh, kita menemukan sesuatu yang agak ganjil.

Di satu sisi ia begitu mencintai Tuhan, tetapi di sisi lain ia mudah sekali marah kepada manusia yang berbeda.

Berbeda agama.

Berbeda suku.

Berbeda pandangan.

Bahkan terkadang berbeda pilihan politik atau cara menjalani hidup.

Orang yang berbeda tidak lagi dilihat sebagai manusia yang kebetulan mempunyai keyakinan lain, tetapi sebagai bagian dari kelompok yang dianggap mengancam kelompoknya sendiri.

Di titik inilah muncul sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi mungkin tidak sederhana jawabannya:

Apakah seseorang bisa menjadi sangat religius tanpa membenci mereka yang berbeda?

Sebab bukankah ada perbedaan antara mengatakan,

"Saya meyakini jalan ini sebagai kebenaran,"

dengan mengatakan,

"Karena kamu tidak memilih jalan yang sama, maka kamu bukan bagian saya."

Keduanya terlihat berdekatan, tetapi sebenarnya sangat jauh.

Yang pertama adalah keyakinan.

Yang kedua sudah mulai menjadi permusuhan.

Dan mungkin di sinilah kita perlu berhenti sebentar.

Sebab bisa jadi persoalannya bukan tentang agama itu sendiri.

Bisa jadi persoalannya adalah manusia.

B - Apakah Religiusitas Memang Menyebabkan Kebencian?


Pertanyaan ini kemudian menjadi mulai menarik ketika kita melihatnya melalui penelitian ilmiah.


Salah satu penelitian yang relevan dilakukan oleh Rachel Kollar dan Fenella Fleischmann dalam Review of Religious Research pada 2022, berjudul


“Does Religion Foster Prejudice Among Adherents of All World Religions? A Comparison Across Religions.”



Penelitian tersebut menggunakan data World Values Survey dan membandingkan hubungan antara sifat religius dan prasangka pada berbagai kelompok agama.



Menariknya lagi, hasilnya tidak sesederhana yang kita pikirkan:
semakin religius seseorang, semakin besar kebenciannya terhadap kelompok lain.



Tidak ditemukan pola universal seperti itu.



Hubungan antara religiusitas dan prasangka ternyata berbeda-beda tergantung agama, bentuk religiusitas, serta bagaimana seseorang menjalankan dan memahami keyakinannya.


Ini penting.


Karena kita sering membuat kesimpulan yang terlalu cepat.


Melihat seseorang yang religius tetapi memiliki prasangka, kemudian menyimpulkan bahwa agama menyebabkan kebencian.


Padahal penelitian menunjukkan persoalannya jauh lebih rumit.



Agama bisa menjadi bagian dari identitas seseorang. Dan ketika identitas kelompok menjadi sangat kuat, manusia dapat mulai membedakan antara “kami” dan “mereka.”



Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi dalam soalan agama.



Manusia bisa melakukan hal yang sama berdasarkan suku, bangsa, politik, kelas sosial, bahkan klub sepak bola, ya benar, sepak bola.



Kita mudah merasa kelompok kita lebih baik karena kita berada di dalamnya.


Lalu tanpa sadar, orang di luar kelompok mulai kita lihat dengan kecurigaan.


Mungkin karena itu pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi:


“Apakah agama membuat manusia membenci?”


Tetapi:


“Apa yang terjadi ketika keyakinan indah berubah menjadi identitas kelompok yang harus terus-menerus dibela?”


Sebab pada titik tertentu, seseorang mungkin tidak lagi sedang membela nilai yang ia yakini.
Ia sedang membela dirinya sendiri.


Dan ketika identitas diri sudah melebur dengan kelompok, kritik terhadap kelompok dapat terasa seperti serangan terhadap dirinya.


Di sinilah agama, seperti identitas lainnya, bisa menjadi sesuatu yang sangat indah sekaligus sangat kuat.


Ia dapat mengajarkan kasih.


Tetapi manusia juga dapat membawa ego ke dalamnya.


Dan mungkin Tuhan tidak pernah meminta ego kita untuk ikut menjadi Tuhan.


C — Tuhan, Pilihan, dan Manusia yang Berbeda


Pada akhirnya kita sampai pada pertanyaan yang lebih pribadi.


Kita semua memilih.


Memilih apa yang kita percaya.


Memilih agama.


Memilih jalan hidup.


Memilih nilai yang ingin kita pegang.



Dan bagi orang beriman, pilihan itu diyakini berada dalam ruang sanubari yang diberikan Tuhan kepada manusia.



Tetapi kalau kita percaya bahwa manusia memiliki kehendak untuk memilih, bukankah orang lain juga memiliki ruang untuk memilih?



Kita tentu boleh percaya bahwa keyakinan kita adalah yang benar.


Bahkan mungkin bagi seorang beriman, keyakinan itu bukan sesuatu yang bisa ditawar.


Namun meyakini sesuatu sebagai kebenaran mutlak tidak otomatis memberikan kita hak untuk merendahkan manusia yang belum sampai pada keyakinan yang sama.


Kita bisa berbeda tanpa harus saling membenci.

Kita bisa tidak setuju tanpa harus menjadi musuh.


Kita bisa menjaga keyakinan tanpa harus menghilangkan martabat orang lain.


Mungkin kedewasaan beragama bukan ketika kita mampu menemukan sebanyak mungkin kesalahan orang lain.



Mungkin kedewasaan justru muncul ketika kita mampu berkata:


“Aku percaya jalanku benar, tetapi aku tidak perlu membencimu karena kamu memilih jalan yang berbeda.”


Sebab jika Tuhan adalah sesuatu yang begitu besar, mengapa kita harus menjadi begitu kecil hanya karena ada manusia lain yang berbeda dari kita?


Dan barangkali, pertanyaan yang paling sulit bukanlah:


“Apakah orang lain sudah cukup religius?”


Melainkan:


“Setelah bertahun-tahun kita merasa dekat dengan Tuhan, apakah kita menjadi manusia yang lebih mampu mencintai sesama?”


Mungkin jawabannya tidak perlu kita berikan kepada orang lain.
Cukup kita tanyakan kepada diri sendiri.



Penutup



Demikian lah pembahasan mengenai perilaku bertuhan kita, memilih adalah kehendak yang diberi tuhan untuk kita, tapi bisakah kita menghormati pilihan orang lain seperti tuhan memberi pilihan padanya.


Kami tidak menggurui


kami tidak menghina


kami hanya mengajak duduk santai dan merenung


Referensi


Rachel Kollar & Fenella Fleischmann (2022)
“Does Religion Foster Prejudice Among Adherents of All World Religions? A Comparison Across Religions”


Review of Religious Research, Vol. 64, hlm. 627–653.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib