Kesabaran Itu Kalah oleh Apa?
Ada satu nasihat yang hampir selalu terdengar ketika hidup sedang terasa berat:
“Sabar.”
Sabar menghadapi pasangan.
Sabar menghadapi keadaan.
Sabar menghadapi masalah.
Sabar, karena katanya kesabaran itu tidak ada habisnya.
Anehnya, manusia juga mengenal kalimat yang berlawanan:
“Sabarku sudah habis.”
Lalu sebenarnya yang mana yang benar?
Apakah kesabaran memang tidak memiliki batas, atau sebenarnya manusialah yang memiliki batas tetapi sering terlalu malu mengakuinya?
Kita sering menganggap orang yang bertahan sebagai orang yang paling kuat. Padahal kita tidak pernah tahu berapa banyak malam yang ia lewati sambil menahan kecewa, berapa kali ia menangis diam-diam, atau berapa banyak bagian dari dirinya yang perlahan ia korbankan agar sebuah hubungan tetap berdiri.
Ada seorang istri yang memilih bercerai setelah suaminya mengalami stroke dan bertahun-tahun berada dalam kondisi sakit. Ia kemudian memilih memusatkan hidupnya kepada anak-anaknya.
Di sisi lain, ada pula seorang suami yang menceraikan istrinya setelah mereka memiliki lima anak, karena ia ingin menikahi mantan kekasihnya.
Dua cerita. Dua keputusan. Dua manusia yang mungkin memiliki alasan yang tidak sepenuhnya kita ketahui.
Dan dari sana muncul pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar siapa yang salah dan siapa yang benar:
Kesabaran itu sebenarnya kalah oleh apa?
Bagian A - Kesabaran Bukan Baterai Tanpa Batas
Kita sering membicarakan kesabaran seolah-olah ia adalah sebuah wadah ajaib.
Masukkan masalah sebanyak apa pun, katanya masih ada ruang.
Dikecewakan sekali, sabar.
Dikecewakan dua kali, sabar lagi.
Bertahun-tahun menghadapi keadaan yang sama?
“Ya namanya juga rumah tangga.”
Seakan-akan manusia dibuat dari baja dan tidak memiliki batas.
Padahal kesabaran bukan berarti seseorang tidak merasa lelah. Kesabaran justru sering berarti seseorang merasakan kelelahan itu, tetapi memilih untuk tidak membiarkannya mengendalikan tindakan.
Karena itu, sabar tidak sama dengan tidak terluka.
Orang yang sabar tetap bisa menangis.
Orang yang sabar tetap bisa kecewa.
Orang yang sabar tetap bisa marah.
Dan orang yang sabar pun pada suatu titik mungkin berkata:
“Aku sudah tidak sanggup.”
Kalimat itu tidak otomatis berarti ia orang jahat.
Dalam hubungan, kemampuan mengelola emosi juga berkaitan dengan kepuasan hubungan. Sebuah penelitian terhadap pasangan yang menjalani terapi menemukan bahwa kesulitan dalam regulasi emosi tertentu berkaitan dengan tingkat kepuasan hubungan, baik pada diri sendiri maupun pasangan.
Maka mungkin selama ini kita terlalu sederhana memahami kesabaran.
Kita mengira masalahnya adalah:
“Apakah kamu masih sabar?”
Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang terjadi pada dirimu selama kamu bersabar?”
Sebab ada kesabaran yang membuat seseorang semakin matang.
Tetapi ada pula keadaan yang membuat seseorang perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan di situlah persoalannya menjadi jauh lebih rumit.
Bagian B - Ketika Sakit Mengubah Bentuk Sebuah Pernikahan
Bayangkan seseorang menikah dengan janji sederhana:
“Dalam keadaan sehat maupun sakit.”
Lalu beberapa tahun kemudian, penyakit benar-benar datang.
Bukan demam tiga hari.
Bukan flu seminggu.
Tetapi stroke.
Tubuh berubah. Aktivitas berubah. Keuangan mungkin berubah. Peran suami dan istri berubah. Bahkan cara mereka berbicara satu sama lain mungkin berubah.
Kemudian waktu berjalan.
Satu tahun.
Dua tahun.
Tiga tahun.
Di luar rumah, orang mungkin hanya melihat satu hal:
“Kasihan suaminya.”
Tetapi di dalam rumah itu mungkin ada cerita lain.
Ada istri yang juga lelah.
Ada anak yang membutuhkan perhatian.
Ada kebutuhan ekonomi.
Ada pekerjaan rumah.
Ada kebutuhan emosional yang tidak lagi terpenuhi.
Dan pada suatu titik, sang istri memilih pergi dan memusatkan hidupnya kepada anak-anak.
Apakah ia jahat?
Kita tidak tahu.
Apakah ia sepenuhnya benar?
Kita juga tidak tahu.
Sebab kita tidak hidup selama tiga tahun di dalam tubuh dan pikirannya.
Tetapi kita bisa memahami satu hal:
merawat seseorang dalam waktu panjang bukan hanya menguras tenaga tubuh, tetapi juga tenaga jiwa.
Di sinilah kesabaran bertemu dengan batas manusia.
Kita sering berkata, “Kalau cinta, pasti bertahan.”
Tetapi cinta bukan benda yang cukup hanya dengan diletakkan di atas meja.
Ia harus dirawat.
Ia membutuhkan tenaga, komunikasi, dukungan, dan kadang-kadang bantuan dari orang lain.
Sebab bahkan orang yang paling mencintai pun bisa kelelahan.
Dan mungkin itulah salah satu hal paling menyedihkan tentang manusia:
kita bisa mencintai seseorang dan tetap merasa tidak sanggup menjalani keadaan bersamanya.
Kedua hal itu ternyata bisa hidup dalam hati yang sama.
Bagian C - Tetapi Ada Kesabaran yang Kalah oleh Keinginan
Namun tidak semua cerita tentang habisnya kesabaran memiliki bentuk yang sama.
Ada pula kisah tentang seorang suami yang meninggalkan istrinya setelah mereka memiliki lima anak karena ingin menikahi mantan kekasihnya.
Di sini kita menemukan pertanyaan yang berbeda.
Apakah benar kesabarannya habis?
Atau sebenarnya ada sesuatu yang lain?
Mungkin bukan kelelahan.
Mungkin bukan penderitaan.
Mungkin hanya karena hatinya menginginkan kehidupan yang berbeda.
Dan ini bagian yang agak pahit untuk dibicarakan:
Tidak semua orang yang mengatakan “aku sudah tidak bahagia” sedang berada dalam keadaan yang membuatnya tidak mungkin bertahan.
Kadang manusia hanya menginginkan sesuatu yang baru.
Hubungan lama terasa biasa.
Orang lama terasa tidak menarik.
Kemudian seseorang dari masa lalu datang membawa nostalgia.
Tiba-tiba masa lalu terlihat lebih indah daripada kenyataan.
Padahal kita semua tahu, nostalgia adalah editor yang sangat baik.
Ia menghapus pertengkaran, menghilangkan kebosanan, memotong bagian buruk, lalu menyisakan adegan terbaik.
Akhirnya seseorang bisa mengira:
“Mungkin dia adalah orang yang seharusnya bersamaku.”
Padahal mungkin yang dirindukan bukan orangnya.
Melainkan perasaan ketika masih muda.
Karena itu, kesabaran juga bisa kalah oleh keinginan.
Dan ketika keinginan menjadi lebih besar daripada tanggung jawab, seseorang dapat membuat keputusan yang konsekuensinya tidak hanya ditanggung oleh dirinya sendiri.
Dalam sebuah keluarga dengan lima anak, misalnya, perceraian bukan lagi hanya cerita tentang dua orang dewasa.
Ada lima kehidupan lain yang ikut berubah.
Bukan berarti seseorang harus mempertahankan pernikahan dalam keadaan apa pun.
Tidak.
Tetapi keputusan besar semacam itu seharusnya membuat kita berhenti sebentar dan bertanya:
“Apakah aku benar-benar sedang keluar dari hubungan yang sudah tidak sehat, atau aku hanya sedang mengejar sesuatu yang terasa lebih menyenangkan?”
Karena keduanya terlihat mirip dari luar.
Tetapi sebenarnya sangat berbeda.
Penelitian tentang pasangan juga menunjukkan bahwa kemampuan mengatur emosi dan merespons emosi pasangan berkaitan dengan kualitas hubungan. Dalam penelitian terhadap 277 orang, perilaku seperti mendengarkan dengan terbuka, menghargai pasangan, dan membantu mengatur emosi pasangan berkorelasi positif dengan kepuasan hubungan.
Mungkin karena hubungan bukan hanya tentang:
“Apakah aku masih bahagia?”
Tetapi juga:
“Apakah keberadaanku membuat orang yang bersamaku merasa dihargai, didengar, dan aman?”
Sebab kalau ukuran hubungan hanya kebahagiaan pribadi, mungkin tidak ada pernikahan yang benar-benar aman.
Manusia bisa bosan.
Manusia bisa berubah.
Manusia bisa tertarik kepada orang lain.
Tetapi kedewasaan justru mungkin dimulai ketika kita sadar bahwa tidak semua keinginan harus diwujudkan hanya karena ia terasa kuat.
Penutup
Jadi, kesabaran itu kalah oleh apa?
Mungkin bukan oleh waktu.
Bukan pula semata-mata oleh penderitaan.
Kesabaran mungkin kalah ketika seseorang merasa bahwa ia terus berjuang sendirian.
Ia kalah ketika luka tidak pernah dibicarakan.
Ia kalah ketika seseorang tidak lagi melihat adanya harapan.
Ia kalah ketika tubuh dan pikiran sudah terlalu lelah.
Dan kadang-kadang, kesabaran kalah oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana:
keinginan.
Keinginan untuk hidup yang berbeda.
Keinginan untuk dicintai orang lain.
Keinginan untuk kembali menjadi diri sendiri.
Atau sekadar keinginan untuk berhenti merasa sakit.
Karena itu mungkin kita tidak perlu terlalu cepat memuji orang yang bertahan, dan tidak perlu terlalu cepat menghakimi orang yang pergi.
Kita tidak pernah tahu seluruh perjalanan yang membawa seseorang sampai pada keputusan terakhirnya.
Tetapi ada satu hal yang mungkin layak kita renungkan.
Jika suatu hari orang yang kita cintai berkata,
“Sabarku sudah habis,”
mungkin pertanyaan pertama yang seharusnya kita ajukan bukan:
“Kenapa kamu tidak sabar?”
Melainkan:
“Sejak kapan kamu merasa harus bersabar sendirian?”
Sebab hubungan yang sehat bukan tentang mencari siapa yang paling kuat menahan penderitaan.
Ia tentang dua manusia yang sama-sama berusaha agar tidak ada salah satu dari mereka yang harus terus-menerus menjadi korban demi mempertahankan hubungan.
Dan mungkin kesabaran yang paling indah bukanlah kesabaran yang bertahan sampai mati.
Melainkan kesabaran yang membuat dua orang belajar memperbaiki sesuatu sebelum salah satunya benar-benar kehabisan alasan untuk tinggal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar