WADUHMAS.COM

Mikir dulu baru bicara

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]


Apakah Kemalasan Itu Berkah


Ada hari-hari ketika manusia ingin menjadi produktif, lalu gagal total hanya karena kasur terlihat terlalu filosofis untuk ditinggalkan. Di titik itu, kemalasan bukan lagi dosa, tapi semacam aliran spiritual—tenang, hangat, dan menunda segala hal sampai besok yang entah benar-benar datang atau tidak.

Kita hidup di zaman yang memuja kecepatan, namun sering jatuh cinta pada jeda. Aneh, tapi nyata, Kita diajari untuk berlari, tapi tubuh kadang memilih duduk sambil menatap langit-langit, bertanya dengan lirih: apakah diam itu selalu berarti kalah?

Atau jangan-jangan, di balik malas yang sering kita maki, tersembunyi sesuatu yang justru menyelamatkan?



BAGIAN A — Realitas


Manusia modern hidup dalam kalender. Bangun dengan alarm, tidur dengan rasa bersalah. Jika sehari tidak menghasilkan apa-apa, rasanya seperti mencuri waktu dari semesta. Kita terbiasa mengukur nilai diri dari seberapa sibuk kita terlihat. Semakin penuh jadwal, semakin terasa “hidup”. Padahal sering kali, yang penuh bukan hidupnya, tapi kepalanya.

Media sosial ikut menambah tekanan. Di sana, orang lain selalu tampak rajin. Bangun pagi, lari lima kilometer, membaca buku filsafat berat, lalu menutup hari dengan jurnal syukur. Sementara kita? Bangun siang, membuka ponsel, dan tiba-tiba sudah sore. Dari situlah kata “malas” mulai berubah dari sifat menjadi vonis moral.

Menariknya, kemalasan jarang benar-benar malas. Banyak orang terlihat malas bukan karena tidak mau bergerak, tapi karena terlalu lelah untuk bergerak. Lelah fisik, lelah mental, lelah eksistensial. Dunia terus meminta: lebih cepat, lebih banyak, lebih baik. Tapi jarang bertanya: apakah kamu masih sanggup?

Di tempat kerja, kemalasan dianggap musuh. Padahal, sering kali yang disebut malas adalah orang yang tidak lagi melihat makna. Ia datang, duduk, menyelesaikan tugas sekadarnya, lalu pulang dengan jiwa yang ditinggal di lift. Bukan karena ia tak mampu, tapi karena ia tak merasa perlu berlari untuk sesuatu yang tak ia yakini.

Ada juga kemalasan yang lahir dari kebingungan. Ketika terlalu banyak pilihan, manusia justru diam. Mau mulai dari mana? Mau jadi siapa? Mau bergerak ke arah mana? Akhirnya, tubuh memilih tidak bergerak sama sekali. Bukan karena nyaman, tapi karena lumpuh oleh kemungkinan.

Fenomena burnout membuat batas antara malas dan sakit menjadi kabur. Psikologi modern mengenal kelelahan mental kronis yang membuat seseorang kehilangan motivasi, konsentrasi, bahkan harapan. Namun di masyarakat, semuanya diringkas jadi satu kata pendek: malas. Kata yang ringan diucapkan, tapi berat ditanggung.

Kita lupa bahwa manusia bukan mesin. Mesin memang rusak kalau berhenti. Manusia justru rusak kalau tak pernah berhenti. Anehnya, sistem sosial kita dirancang seolah sebaliknya. Istirahat dianggap hadiah, bukan kebutuhan. Diam dianggap pemborosan, bukan proses.

Di titik ini, kemalasan menjadi semacam alarm sunyi. Ia muncul ketika ada yang tidak selaras antara tuntutan luar dan kapasitas dalam. Ia bukan selalu musuh. Kadang ia hanya pesan yang tidak kita dengarkan karena terlalu sibuk merasa bersalah.

BAGIAN B — Malas, Diam, dan Seni Menunda


Dalam sejarah pemikiran, kemalasan punya reputasi buruk. Dalam tradisi Kristen abad pertengahan, ia disebut "Acedia" dosa yang membuat jiwa lesu dan enggan bergerak menuju kebaikan. Tapi menariknya, para rahib yang membahas acedia tidak berbicara soal rebahan tanpa tujuan, melainkan tentang kehilangan makna spiritual. Acedia adalah kehampaan, bukan sekadar tidak bekerja.

Filsafat Timur punya nada berbeda. Dalam Taoisme, ada konsep wu wei, sering disalahartikan sebagai “tidak melakukan apa-apa”. Padahal maknanya lebih halus: tidak memaksa. Bertindak selaras dengan alur alam, bukan melawannya. Dalam kerangka ini, diam bisa menjadi tindakan paling bijak. Berhenti bukan karena malas, tapi karena sadar.

Filsuf modern seperti Bertrand Russell bahkan menulis esai berjudul In Praise of Idleness. Ia mengkritik budaya kerja berlebihan yang menganggap kesibukan sebagai kebajikan tertinggi. Menurutnya, dunia akan lebih manusiawi jika orang bekerja lebih sedikit dan punya lebih banyak waktu untuk berpikir, bermain, dan hidup. Sebuah gagasan yang terdengar malas, tapi justru radikal.

Ada paradoks menarik: banyak kemajuan besar lahir dari “kemalasan”. Otomatisasi diciptakan karena manusia tidak mau mengulang pekerjaan membosankan. Algoritma lahir dari keinginan menyederhanakan. Bahkan ilmu pengetahuan berkembang karena seseorang malas menerima jawaban lama dan memilih duduk lebih lama memikirkan ulang.

Dalam psikologi, ada konsep default mode network, jaringan otak yang aktif justru ketika kita tidak fokus pada tugas tertentu. Saat melamun, berjalan tanpa tujuan, atau menatap kosong, otak memproses pengalaman, menghubungkan ide, dan membangun makna. Kreativitas sering muncul bukan saat kita memaksa, tapi saat kita membiarkan pikiran mengembara.

Masalahnya, budaya kita tidak memberi ruang aman untuk menganggur secara sadar. Diam harus punya alasan. Istirahat harus produktif. Bahkan rebahan pun kini diberi label: self-care, agar tidak terasa berdosa. Kita jarang mengizinkan diri untuk malas tanpa justifikasi.

Padahal, tidak semua kemalasan perlu disembuhkan. Ada kemalasan yang perlu didengar. Ada diam yang menyelamatkan kita dari hidup yang salah arah. Seperti tubuh yang demam untuk melawan infeksi, jiwa kadang “malas” untuk melawan absurditas.

Tentu, tidak semua malas itu berkah. Ada kemalasan yang melumpuhkan, yang lahir dari ketakutan, penyangkalan, atau keputusasaan. Tapi menyamaratakan semua malas sebagai kegagalan adalah kesalahan kategoris. Sama seperti menyebut semua hujan sebagai banjir.
Kuncinya bukan menghapus kemalasan, melainkan menafsirkan.

Apakah ia tanda kelelahan? Apakah ia protes diam-diam? Atau justru undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya ulang: mengapa aku melakukan semua ini?

Di titik ini, kemalasan berubah dari musuh menjadi cermin. Ia tidak memberi jawaban, tapi memaksa kita melihat. Dan sering kali, yang kita lihat bukan kelemahan, melainkan kebutuhan yang lama diabaikan.

BAGIAN C — Refleksi


Mungkin masalahnya bukan pada malasnya, tapi pada cara kita bersikap terhadapnya. Kita cenderung memerangi kemalasan dengan cambuk motivasi. Kata-kata keras. Target besar. Janji pada diri sendiri yang jarang ditepati. Lalu saat gagal, kita menambah satu lapis kebencian pada diri sendiri.

Bagaimana jika pendekatannya dibalik? Bukan melawan, tapi mendengar. Duduk sebentar bersama rasa malas itu. Menanyakan asalnya, bukan mengusirnya. Apakah tubuhmu lelah? Apakah pikiranmu jenuh? Atau hatimu sedang kehilangan alasan?

Ada perbedaan halus antara malas dan menolak hidup. Yang satu adalah jeda, yang lain adalah menyerah. Jeda memberi napas. Menyerah mematikan arah. Tantangannya memang tidak sederhana: kapan harus berhenti, kapan harus bergerak.

Refleksi ini menuntut kejujuran yang tidak nyaman. Kadang kita menyebut diri malas padahal sebenarnya takut gagal. Kadang kita berlindung di balik istirahat padahal sebenarnya menghindari tanggung jawab. Tapi ada juga saat kita memaksa diri bergerak padahal yang dibutuhkan hanyalah tidur.

Manusia bukan proyek yang harus terus dioptimalkan. Kita adalah makhluk yang ritmenya naik-turun. Ada musim berlari, ada musim berdiam. Alam mengerti itu. Pohon tidak berbuah sepanjang tahun, tapi tidak ada yang menuduhnya malas.

Mungkin berkah dari kemalasan adalah ini:
Ia memaksa kita berdamai dengan keterbatasan. Mengakui bahwa tidak setiap hari harus gemilang. Tidak setiap waktu harus berarti. Kadang, cukup bertahan juga sudah cukup.
Dalam keheningan malas, kita bisa menemukan ulang suara yang hilang: suara tubuh, suara nurani, suara pertanyaan lama yang tertimbun kesibukan. Dan dari sanalah, gerak yang lebih jujur bisa lahir. Bukan gerak karena tuntutan, tapi karena pilihan.


Baca juga, Memaknai ide




Penutup


Maka, apakah kemalasan itu berkah? Pertanyaan ini mungkin tidak butuh jawaban pasti. Ia seperti kabut pagi: tidak menghalangi jalan sepenuhnya, tapi memaksa kita berjalan lebih pelan.

Di dunia yang terus menyuruh kita berlari, kemalasan bisa menjadi satu-satunya bahasa yang tersisa untuk berkata, “cukup dulu.” Bukan untuk berhenti selamanya, tapi untuk mengingatkan bahwa hidup bukan lomba tanpa garis akhir.

Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan apakah kita terlalu malas, melainkan: apakah kita terlalu keras pada diri sendiri? Apakah kita memberi ruang untuk menjadi manusia, bukan mesin yang kebetulan bernapas?

Di antara dorongan untuk terus maju dan keinginan untuk diam, ada ruang tipis bernama kesadaran. Di sanalah kemalasan tidak lagi ditakuti, dan kerja tidak lagi dipuja berlebihan. Hanya ada manusia yang belajar mendengar ritmenya sendiri—pelan, tidak sempurna, tapi hidup.

Referensi


Beberapa kajian ilmiah mendukung gagasan bahwa istirahat dan jeda mental memiliki peran penting dalam kesehatan psikologis dan kreativitas.

Penelitian oleh Maslach & Leiter (2016) Menunjukkan bahwa burnout bukan sekadar kelelahan, tetapi ketidaksesuaian kronis antara individu dan tuntutan kerja.

Studi tentang default mode network oleh Raichle et al. (2001)
Menjelaskan bahwa otak tetap aktif dan bermakna saat tidak fokus pada tugas eksternal. 

Selain itu, riset oleh Westman & Eden (1997)
Menunjukkan bahwa pemulihan psikologis melalui istirahat berdampak signifikan pada performa jangka panjang.

1 komentar:

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib