WADUHMAS.COM

Mikir dulu baru bicara

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]


Pernahkah kita merenung sejenak, di tengah gemerlap lampu yang menyala lembut, bahwa ada luka di tanah yang tak lagi bisa disembunyikan? Apakah terang malam yang kita nikmati hari ini harus dibayar dengan hancurnya akar kehidupan di baliknya?

Isi

Di bawah kaki kita terbentang dunia yang diam—tapi tidak bisu. Ia menyimpan emas, batu bara, minyak, nikel, dan tambang-tambang lainnya. Konon, di sanalah jawabannya: energi, kemajuan, pembangunan, pekerjaan. Tapi setiap galian yang membuka jalan bagi mesin dan listrik, juga membuka jalan bagi kehilangan.

Ketika sebuah bukit diratakan demi tambang, satu hutan punah. Ketika tanah dibor demi minyak, satu aliran air tercemar. Ketika batu bara diangkut keluar dari perut bumi, satu desa kehilangan langit birunya. Kita menukar hijaunya harapan dengan kelabu debu. Kita menyebutnya kemajuan, tapi bagi sebagian yang lain, ini hanyalah kerusakan yang diberi nama baru.

Penguasa berkata ini untuk negeri. Investor berkata ini untuk masa depan. Tapi rakyat yang hidup di sekitar tambang tahu rasa getirnya. Mereka melihat sungai berubah jadi racun. Mereka mencium udara yang makin berat. Mereka kehilangan sawah demi jalan masuk truk-truk besar yang tak pernah membawa pulang kebaikan.

Lalu kita bertanya: siapa yang paling diuntungkan dari tambang-tambang ini? Apakah rakyat yang tiap hari dihitung hidupnya dengan angka rupiah yang tipis? Ataukah para pemilik modal yang tinggal jauh dari kerusakan itu sendiri?

Mereka menggali bumi seolah ia tidak pernah akan habis. Seolah ia tidak akan pernah marah. Seolah tidak ada nyawa yang tumbuh di atasnya. Padahal, yang mereka gali bukan hanya batu dan minyak. Tapi akar kehidupan, ingatan tanah, dan warisan yang mestinya dijaga.

Namun kita juga tidak bisa menutup mata. Energi memang dibutuhkan. Kota-kota butuh listrik. Jalan butuh aspal. Pabrik butuh bahan bakar. Tapi benarkah tidak ada cara lain? Apakah kita tidak bisa menciptakan jalan pembangunan yang lebih lembut? Yang tidak menggali demi terang, tapi menanam demi masa depan?

Energi terbarukan, seperti matahari dan angin, telah lama menawarkan jawaban. Tapi suara mereka kadang kalah oleh suara uang yang deras dari tambang. Karena memang lebih mudah menggali daripada menanam. Lebih cepat membakar daripada membangun dengan pelan.

Padahal, bumi bukan benda mati. Ia hanya diam, bukan lemah. Jika terus diganggu, ia akan merespons. Dan mungkin, saat itu tiba, kita tidak akan siap. Banjir, longsor, kekeringan, udara beracun—semuanya sudah mulai terasa. Tapi kita masih berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.

Penutup

Kini, kita berada di persimpangan. Antara terus menggali dengan cepat dan menghadapi kehancuran lebih cepat pula, atau menahan diri, mencari cara yang lebih berkelanjutan, dan mulai menyembuhkan luka yang sudah terlanjur dalam.

Apakah kemajuan berarti memaksa bumi menyerah? Ataukah kita bisa menata ulang arti maju itu sendiri?

Kadang, yang kita anggap langkah ke depan, justru jalan pulang ke kerusakan lama.

1 komentar:

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib