WADUHMAS.COM

Mikir dulu baru bicara

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]


Pernahkah kita bertanya, mengapa satu kain bisa begitu memancing emosi berjuta manusia? Dan bagaimana mungkin, selembar gambar bajak laut membuat negara terguncang seolah harga diri dipertaruhkan?

Angin Juli membawa kabar yang aneh. Di sebuah sekolah menengah kejuruan di Sleman, sebuah bendera One Piece—bendera fiksi bajak laut dengan lambang tengkorak mengenakan topi jerami—terkibar di bawah Sang Saka Merah Putih. Bagi sebagian anak muda, mungkin ini sekadar luapan cinta terhadap anime. Tapi bagi sebagian lainnya, ini dianggap penghinaan terhadap negara. Kontroversi pun membuncah.

Ketika Identitas Disulap Jadi Kesesatan

Bendera bukan sekadar kain. Ia adalah simpul sejarah, darah, dan cita-cita. Namun dalam dunia yang terus berubah, simbol-simbol lama tak selalu dapat dimaknai utuh oleh generasi baru. Mereka yang tumbuh di era digital, lebih dekat dengan Luffy daripada Cut Nyak Dien, lebih hafal One Piece daripada teks Pancasila. Lalu siapa yang bersalah?

Dalam studi semiotik, simbol bisa bergeser makna tergantung ruang dan waktu. Seperti kata Umberto Eco, “A sign is never exhausted by the content it signifies.” Bisa jadi, bagi pelajar itu, bendera Luffy adalah lambang keberanian, semangat, dan loyalitas. Tapi sistem negara membaca beda: itu tandanya kelalaian, pelecehan, bahkan makar.

Namun sebelum meledak dalam amarah nasionalisme, bukankah sebaiknya kita bertanya: benarkah mereka melecehkan simbol negara, atau justru negara telah gagal menanamkan makna simbol itu secara hidup?

Ketika Negara Hanya Jadi Wasit, Bukan Ayah

Pemerintah cepat bereaksi. Aparat turun tangan, klarifikasi diminta, permintaan maaf dimuat. Tapi lagi-lagi, sistem pendidikan yang terlalu kaku dan kering tak ditinjau ulang. Tidak ada ruang diskusi, tidak ada pembelajaran emosional soal makna merah putih yang dibakar dalam dada.

Dalam jurnal berjudul “The Cultural Meaning of National Symbols” (Kosterman & Feshbach, 1989), dijelaskan bahwa nasionalisme yang sehat tidak dibangun dengan ancaman hukum, tapi melalui identifikasi emosional yang otentik sejak dini. Negara yang hanya hadir sebagai penegak, bukan pembimbing, akan memicu kesenjangan antara generasi dan institusi. Dan celah itu kini terwakili dalam selembar bendera bajak laut.

Antara Fiksi dan Realitas: Siapa yang Mengajarkan Kita Makna Bangsa?

One Piece bukan sekadar hiburan. Ia mengajarkan mimpi, kesetiaan, keberanian, dan perlawanan terhadap tirani. Nilai-nilai itu—yang seharusnya juga terkandung dalam semangat kemerdekaan—justru ditemukan anak-anak dalam animasi Jepang, bukan dalam buku sejarah sekolah. Ironi ini perlu direnungi, bukan dipadamkan.

Bahkan, menurut jurnal “Popular Culture and National Identity” (Tomlinson & Young, 2006), generasi muda saat ini membangun identitas nasional melalui campuran simbol-simbol global dan lokal. Maka ketika One Piece dianggap lebih relevan daripada lagu kebangsaan, bukan salah mereka. Mungkin yang perlu kita tanya: siapa yang gagal menjadikan lagu itu hidup?

Bendera Itu Menyapa, Bukan Mengancam

Apakah anak-anak ini betul ingin melecehkan negara? Ataukah mereka hanya belum dikenalkan dengan makna merah putih melalui cara yang menyentuh? Kita lupa, bahwa cinta pada negara bukan soal hafal lagu atau hormat pada upacara. Ia tumbuh lewat contoh, ruang berdialog, dan pengalaman yang membekas.

Sebagaimana seorang anak mencintai orang tua bukan karena aturan, tapi karena kasih yang terasa nyata, begitupun nasionalisme. Kita tidak bisa memaksakan cinta lewat undang-undang. Kita hanya bisa menumbuhkannya dengan rasa.

Apakah Kita Masih Bangsa yang Punya Jiwa, Atau Tinggal Simbol dan Hukuman?

Bendera Luffy di bawah merah putih seolah sedang berkata, “Aku ingin mencintai bangsaku, tapi ajarkan aku bagaimana.” Ia tidak menantang. Ia bertanya. Tapi kita membalasnya dengan pasal dan prasangka.

Mungkin, kita yang terlalu cepat tersinggung, dan terlalu lambat mengerti. Mungkin kita lupa, bahwa mencintai negeri ini tidak dimulai dari ketakutan, tapi dari rasa memiliki.

Referensi:

Kosterman, R., & Feshbach, S. (1989). Toward a measure of patriotic and nationalistic attitudes. Political Psychology, 10(2), 257–274.

Tomlinson, A., & Young, C. (2006). National Identity and Global Sports Events: Culture, Politics, and Spectacle in the Olympics and the Football World Cup. SUNY Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib