WADUHMAS.COM

Mikir dulu baru bicara

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

Pembukaan

Apakah engkau pernah merasa menjadi angka semata? Disuruh menabung, diminta bijak secara finansial, dimotivasi untuk meraih masa depan cerah—namun ketika rekeningmu tak lagi aktif, sistem menghapusnya tanpa bertanya kabar. Tidak ada tanya: "Apakah kau masih hidup? Apakah kau baik-baik saja?" Hanya ada data. Dan data tak punya hati.

Isi

Di Indonesia, isu penghapusan rekening pasif mulai ramai diperbincangkan. Pemerintah melalui OJK dan bank-bank milik negara mendorong penertiban rekening yang dianggap "mati"—yakni tak aktif dalam jangka waktu tertentu. Secara teknis, alasan ini masuk akal: efisiensi sistem perbankan, pengamanan dana nasabah, dan penyederhanaan administratif.

Namun yang tak pernah ditanyakan: siapa pemilik rekening-rekening itu?

Bisa jadi itu adalah petani yang menabung dari hasil panennya dua tahun lalu. Atau buruh migran yang menyiapkan tabungan untuk anaknya kuliah, tapi kehilangan akses karena ponsel rusak dan tak bisa ganti nomor. Atau nenek tua yang menerima bantuan sosial—namun tak tahu cara mengecek saldo dan akhirnya dianggap pasif.

Dalam jurnal International Journal of Consumer Studies (Kim & Yang, 2022), studi di Korea Selatan mengungkap bahwa kebijakan penutupan rekening dorman sering kali menyingkirkan kelompok rentan—terutama lansia dan masyarakat berpendidikan rendah. Mereka bukan tak ingin aktif, tapi sering terhambat oleh teknologi, ketidaktahuan, atau keterbatasan fisik.

Di Amerika Serikat, laporan Consumer Financial Protection Bureau menyebutkan bahwa lebih dari 10 juta orang dewasa kehilangan akses ke rekening bank tiap tahun akibat "kebijakan rasional" seperti biaya dormansi atau penutupan otomatis. Sistem tidak membedakan mana yang tak aktif karena lalai dan mana yang tak aktif karena terluka.

Kini mari kita kembali ke Indonesia. Apa kabar mereka yang hidup di desa, yang tidak punya ATM di dekat rumahnya? Atau yang kehilangan anaknya, dan akhirnya membiarkan rekening itu tetap utuh, karena setiap rupiah di dalamnya adalah kenangan?

Sayangnya, sistem tak mengerti rasa. Ia hanya melihat kolom terakhir aktivitas dan menghitung: 18 bulan tidak ada transaksi. Lalu muncul perintah: tutup. Beban server berkurang, laporan bersih, dan target digitalisasi tercapai.

Tapi rakyat bukan spreadsheet. Rakyat bukan angka diam. Di balik setiap rekening tak aktif, bisa jadi ada kisah tentang kehilangan, tentang bertahan hidup, atau tentang mimpi yang tertunda.

Penutup

Bukankah ironis? Kami diminta menabung, disuruh mengelola keuangan. Tapi saat tak lagi bisa aktif—karena miskin, tua, atau tersisih—kami dihapus. Tak ada pemberitahuan, tak ada salam perpisahan. Seolah kami tak pernah ada.

Mungkin bagi sistem, kami hanya angka. Tapi bagi sesama manusia, bukankah setiap nama pantas didengar sebelum benar-benar hilang

Referensi :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib