Apakah cinta pada orang tua selalu harus dibayar dengan rupiah?
Di sebuah rumah sempit di pinggiran kota, seorang anak muda menunda makan malamnya. Gajinya belum cukup untuk menutup semua cicilan, sementara ibunya menunggu kiriman untuk pengobatan. Di kamarnya yang pengap, ia menatap atap, tak tahu lagi harus memilih siapa yang duluan diberi makan: anaknya, dirinya, atau orang tuanya.
Ketika kasih sayang berubah menjadi tuntutan yang membebani, maka di situlah kita menyaksikan tragedi sunyi generasi sandwich. Generasi yang berdiri di antara dua tuntutan hidup, menanggung masa depan dan masa lalu sekaligus, tanpa sempat hidup di masa kini.
Ketika Hidup Hanya Tentang Bertahan
Istilah sandwich generation menggambarkan orang-orang yang secara bersamaan merawat anak-anak mereka dan orang tua yang telah lanjut usia. Mereka dijepit seperti sepotong daging di antara dua lapis roti, terus ditekan dari dua arah tanpa waktu untuk bernapas.
Tidak semua bantuan itu bersifat sukarela. Banyak yang dilahirkan dalam kultur harapan tak tertulis: bahwa anak yang berbakti adalah anak yang membayar semua. Bahwa cinta berarti mengorbankan diri tanpa batas, tanpa protes. Tapi benarkah cinta harus seperti itu?
Penelitian Pierret (2006) menunjukkan bahwa tekanan finansial pada generasi sandwich memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan mental. Mereka mengalami stres berkepanjangan, kelelahan emosional, bahkan kehilangan produktivitas. Ironisnya, semakin mereka berkorban, semakin tuntutan itu dianggap hal biasa oleh lingkungan sekitar.
Kasih Sayang yang Dikorbankan Demi Kewajiban
Budaya timur kerap menjunjung tinggi nilai hormat dan bakti kepada orang tua. Namun ketika nilai ini ditarik ke dalam sistem ekonomi yang kejam—dengan harga sewa rumah, pendidikan, dan kesehatan yang terus melonjak—bakti itu berubah menjadi tagihan.
Seorang anak yang hanya berpenghasilan pas-pasan bisa merasa bersalah hanya karena tidak mampu memenuhi semua kebutuhan orang tuanya. Ia merasa berdosa bukan karena melakukan kesalahan, tapi karena gagal menjadi penyelamat. Padahal, ia sendiri butuh diselamatkan.
Sebagian orang tua memang tak berniat membebani anak. Namun tidak sedikit pula yang menjadikan anak sebagai "investasi masa depan", dengan harapan semua pengorbanan mereka akan dibayar kembali. Narasi semacam ini menjamur di banyak media motivasi: “Sukses itu kalau bisa membahagiakan orang tua.” Tapi mengapa kebahagiaan itu harus ditakar dengan uang?
Yang Terjepit Tak Selalu Bersalah
Generasi sandwich bukanlah generasi yang lemah, melainkan generasi yang dipaksa kuat dalam sistem yang tidak adil. Mereka tidak punya privilege seperti generasi sebelumnya yang bisa membeli rumah dengan satu kali gaji. Tidak pula punya kemewahan seperti generasi muda yang bisa bebas mengejar impian karena tak memikul masa lalu siapa pun.
Beban itu bukan hanya soal uang. Ia adalah rasa bersalah yang tak pernah habis, dilema moral yang tak selesai-selesai.
“Kalau kamu tidak kirim uang, siapa yang urus mereka?”
“Tapi kalau kamu terus begini, bagaimana hidup anakmu?”
Dan begitulah, setiap malam mereka tidur dengan dua kecemasan: kehilangan orang tua dan kehilangan dirinya sendiri.
Bisakah Kita Keluar dari Lingkaran Ini?
Mungkin bukan solusi instan yang kita butuhkan, tapi keberanian untuk bicara. Untuk berkata bahwa cinta tak selalu harus berbentuk uang. Bahwa merawat tidak selalu berarti mengorbankan masa depan sendiri. Bahwa orang tua pun perlu belajar melepaskan, sama seperti anak belajar memberi.
Generasi sandwich butuh ruang untuk menjadi manusia. Untuk hidup, bukan sekadar bertahan. Untuk mencintai, bukan hanya membayar.
Atau mungkin… dunia memang tak pernah adil bagi mereka yang lahir dengan beban warisan cinta yang belum lunas.
Referensi Ilmiah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar