WADUHMAS.COM

Mikir dulu baru bicara

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]


"Apa gunanya menjadi sorotan, jika cahaya itu tak pernah menyinari makna?"



Pembukaan
Saat Semua Menjadi Cepat, Apakah Kita Masih Waras?

Di tengah derasnya informasi dan deru notifikasi, kita kerap terhenti bukan karena pentingnya kabar, melainkan karena sensasinya. Kita menyebutnya "viral". Kata yang dulu asing kini menjadi tolak ukur—bukan untuk kualitas, tapi untuk atensi.

Tapi sejenak, mari duduk dan bertanya diam-diam dalam hati:
Apakah segala yang viral sungguh bermanfaat? Ataukah kita hanya terpikat cahaya sesaat, lalu lupa pada kedalaman makna?

Isi:
Ketika Viral Menjadi Raja Baru di Meja Makan Perhatian

Zaman dahulu, yang disanjung adalah mereka yang bijak, kuat, atau penuh teladan. Kini, cukup satu cuplikan lucu, ganjil, atau menghebohkan, seseorang bisa menjadi tokoh nasional—tanpa perlu melalui jalan panjang pengalaman atau nilai.

Fenomena ini seakan menobatkan “viralitas” sebagai raja baru dalam struktur sosial kita. Siapa yang viral, ia yang bertahta. Tapi seperti raja yang tiba-tiba naik takhta tanpa darah biru, kadang yang dibawa hanyalah kegemparan, bukan kebijaksanaan.

Dalam sistem digital saat ini, hal-hal yang menyentuh emosi dangkal lebih mudah tersebar daripada yang membawa pemahaman dalam. Hal ini ditegaskan oleh penelitian dalam jurnal Nature Human Behaviour (Vosoughi, Roy & Aral, 2018), yang menemukan bahwa informasi palsu dan emosional menyebar jauh lebih cepat daripada informasi faktual dan netral.

Tak heran, kadang berita soal selebritas tersandung skandal bisa lebih ramai dibicarakan ketimbang inovasi anak bangsa atau laporan krisis pangan.

Namun kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan publik. Algoritma digital memang dirancang untuk menyukai keterkejutan. Apa yang membuat jantung sedikit berdebar, meski tanpa alasan yang mendalam, lebih mungkin tampil di layar kita.

Jadi pertanyaannya berubah: apakah hal yang viral itu membawa manfaat, atau sekadar memanipulasi perhatian?

Ketika Kebaikan Juga Bisa Viral

Tentu tak semua yang viral itu buruk. Di tengah banjir hal remeh, sesekali muncul percikan emas. Kisah anak kecil yang membangun perpustakaan dari botol bekas, video seorang kakek menyapu jalan tanpa upah, atau guru-guru pelosok yang mengajar dengan sepenuh hati—semuanya pernah viral dan menginspirasi.

Masalahnya adalah: mengapa itu hanya sesekali, bukan keseharian?
Mengapa yang memancing tawa atau kemarahan lebih cepat berputar, ketimbang yang menggugah batin dan mengajak berpikir?

Menurut Journal of Computer-Mediated Communication (Berger & Milkman, 2012), konten yang mengandung emosi positif seperti kekaguman atau rasa terinspirasi memang memiliki potensi viral, tetapi harus dikemas dengan tepat agar tetap memicu respons emosional. Di sinilah tantangan kita: bisa atau tidak menyampaikan kebaikan dalam bentuk yang menggugah tanpa menjadi murahan.

Simbol, Simulasi, dan Kekosongan Makna

Jean Baudrillard dalam teori “simulacra” menyebut bahwa masyarakat kini hidup dalam tiruan atas tiruan. Kita tidak lagi menyentuh realitas, tapi gambaran realitas. Viral adalah simulasi emosi: terlihat seperti kepedulian, namun kadang hanya dorongan untuk menampilkan diri di balik tagar.

Contoh kecil: seseorang merekam momen memberi bantuan pada fakir miskin, bukan untuk membangun gerakan, tapi untuk memanen simpati digital. Kebaikan itu tetaplah kebaikan, ya, tapi apa maknanya jika hanya dilakukan demi pujian sesaat?

Penutup:
Menyaring, Bukan Menolak

Dunia digital bukan musuh. Viralitas pun bukan kutukan. Ia hanyalah alat. Namun sebagaimana pedang, ia bisa melindungi atau melukai, tergantung pada tangan yang menggenggam.

Kita sebagai rakyat digital—ya, itulah kita kini—harus mulai berani menumbuhkan rasa kritis: bukan hanya apa yang kita tonton, tapi mengapa kita menontonnya. Bukan hanya apa yang ramai, tapi mengapa itu dianggap penting.

Maka viral bisa bermanfaat, jika kita yang memilih apa yang layak viral.
Bukan karena lucu, bukan karena gempar, tapi karena membawa kita sedikit lebih dekat pada nilai-nilai luhur yang semakin jarang dibicarakan.

Penutup

Namun dari semua yang viral, yang paling cepat lenyap adalah maknanya.

Kita saling berlomba membagikan potongan-potongan dunia, tapi lupa menyusun utuh kehidupan yang berarti. Apa yang hari ini kita anggap penting, esok bisa jadi hanya serpihan debu digital. Maka di tengah hiruk-pikuk yang tak pernah tidur itu, kita pun bertanya diam-diam:
Apakah semua ini sungguh membawa kita lebih dekat pada kebaikan—atau sekadar menjauhkan kita dari diri sendiri?

Sebab yang benar-benar layak viral bukanlah tawa sesaat, tapi nilai-nilai yang tetap hidup meski tak diberi tanda suka.

Referensi Jurnal:




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib