WADUHMAS.COM

Mikir dulu baru bicara

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]


Kita hidup di masa di mana produktivitas bisa disubkontrakkan ke baris kode: asisten AI menyeka tugas berulang, memberikan rekomendasi instan, dan membuat presentasi yang rapi saat kita masih menyeduh kopi. Itu menyenangkan — sampai kita menyadari ada sesuatu yang lenyap pelan-pelan: naluri, kecakapan tangan, atau intuisi profesional yang dulu tumbuh lewat kegagalan. Pertanyaannya bukan hanya “apakah AI membuat hidup lebih mudah?”, melainkan “apakah kemudahan itu berbiaya diam-diam: kemunduran kemampuan yang kita anggap aman?” Tulisan ini membaca sebuah seruan akademik penting yang menaruh curiga pada kenyamanan itu, lalu menabrakkannya ke realitas sehari-hari kita. 




Perkenalan


Nama Peneliti: Brooke N. Macnamara et al. (2024).

Judul: Does using artificial intelligence assistance accelerate skill decay and hinder skill development without performers’ awareness?

Fokus utama: Sebuah perspektif teoretis yang mengeksplorasi bagaimana bantuan AI—dari fitur auto-complete sampai alat interpretasi gambar medis—bisa mempercepat ‘skill decay’ (kemunduran keterampilan) pada para ahli dan menghambat akuisisi keterampilan bagi pemula; yang mengkhawatirkan, pengguna mungkin tidak menyadari pelemahan kemampuan itu. Makalah ini bukan eksperimen laboratorium penuh; ia mengumpulkan bukti konseptual, contoh domain, dan agenda penelitian untuk menilai risiko dan cara mendeteksinya. Relevansi: saat organisasi cepat mengadopsi AI untuk efisiensi, implikasi jangka panjang pada modal manusia — pengasah pemikiran kritis dan keterampilan teknis — menjadi isu strategis. 



Bagian Inti

Bagian - A. Temuan dan Ide Kunci

Macnamara dan kolega menyodorkan sebuah argumen struktural: AI bukan sekadar alat; ia dapat menjadi penyapu tugas-cognitive yang, ketika dipakai terus-menerus, mengurangi frekuensi latihan mental yang membentuk keahlian. Mereka menyoroti tiga jalur utama menuju “atrofi keterampilan”:

1. Pengurangan Praktek Aktif

Ketika AI mengerjakan bagian penting dari tugas, peluang untuk latihan deliberate practice berkurang. Tanpa repetisi yang menantang, memori prosedural dan pola pengambilan keputusan melemah.


2. Ketergantungan Pengakuan

AI sering memberi umpan balik instan tanpa memaksa pengguna mempertanyakan atau memverifikasi proses, sehingga kemampuan metakognitif (menilai kapan dan bagaimana solusi dibuat) tidak berkembang.


3. Blind Spot Kognitif

AI yang ‘baik’ menutupi kesalahan kecil sampai menjadi pola; para pelaku mungkin merasakan performa tinggi, tetapi kualitas internal (kecepatan berpikir, fleksibilitas strategi) menurun tanpa terdeteksi.



Intinya: keuntungan jangka pendek — akurasi dan efisiensi — berpotensi menimbulkan kerugian jangka panjang pada modal kognitif individu. Namun, penting dicatat bahwa makalah ini bersifat teoretis: ia menyusun argumen, bukti anekdot, dan agenda penelitian, bukan menyajikan satu studi eksperimental definitif. Penulis mengakhiri dengan panggilan untuk penelitian multidisipliner agar hipotesis ini diuji dalam domain nyata (mis. radiologi, penulisan profesional, pemrograman). 

Persaingan antara manusia dan AI alias robot semakin sengit di masa depan  baca juga Kemajuan AI Kemunduran Manusia



Bagian - B. Tafsir dan Kritik

Mari bersikap brutal dan lembut sekaligus. Argumen Macnamara terasa seperti alarm etis yang diperlukan: ketika organisasi memakai AI sebagai KPI—“lebih cepat, lebih sedikit human error”—maka human capital sering dianggap variabel biaya yang bisa dipangkas. Dari sudut pandang penulis, ada beberapa ruang terang dan beberapa kekelaman yang perlu ditandai.

Pertama, kekuatan makalah adalah menyatukan kecemasan yang banyak profesional rasakan sebagai intuisi: ada sensasi “kaku” pada kemampuan setelah bertahun-tahun bergantung pada autopilot. Itu nyata, dan Macnamara memberi kerangka bahasa untuk mengatakannya tanpa terdengar puritan anti-teknologi. Ia memaksa organisasi untuk menimbang metrik produktivitas melawan metrik pembelajaran.

Kedua, kritiknya: makalah ini relatif konservatif dalam alternative narratives. Misalnya, ada bukti empiris yang mulai muncul bahwa AI—jika didesain sebagai scaffold edukasional—bisa mempercepat pembelajaran dengan memberikan contoh berkualitas atau feedback terpersonalisasi (lihat studi yang menunjukkan peningkatan performa menulis setelah latihan dengan AI). Artinya, AI bukan takdir tunggal; ia platform yang bisa dikonfigurasi untuk membentuk bukan menggantikan kemampuan. 

Ketiga, soal epistemologi: tesis Macnamara berisiko menjadi self-fulfilling prophecy kalau diinterpretasikan secara dogmatis—perusahaan menghentikan penggunaan AI karena takut atrophy, lalu kinerja stagnan karena kehilangan efisiensi yang sebenarnya memungkinkan pekerja fokus pada tugas bernilai tinggi. Solusinya bukan penolakan, melainkan desain kebijakan penggunaan. Misalnya: progressive fading—AI memberi dukungan awal, lalu secara bertahap mengurangi bantuan sehingga pengguna harus menginternalisasi proses. Atau dual-run systems: tugas tetap dijalankan manusia secara periodik tanpa bantuan untuk menjaga ‘muscle memory’ kognitif.

Keempat, budaya dan nilai: catatan paling menarik adalah bagaimana atrophy mungkin tidak merata. Profesi yang sudah mengalami deskilling historis (mis. beberapa pekerjaan administratif) lebih rentan, sementara bidang yang menuntut improvisasi dan pengalaman empiris (mis. seni klinis, negosiasi politik) mungkin mempertahankan bentengnya karena latihan situasional sulit diotomasi. Ini menimbulkan dilema etis dan politik: siapa yang mendapatkan pelatihan ulang? Siapa yang kehilangan status profesional karena ‘automasi halus’?

Singkatnya: saya condong pada posisi pragmatis dan waspada—mengakui potensi produktivitas AI tanpa menjadi apologist. Kita harus meminimalkan risiko atrophy dengan kebijakan HR, kurikulum pelatihan yang cerdas, dan desain AI yang memprioritaskan scaffolding pembelajaran, bukan penggantian tugas sepenuhnya.




Bagian - C. Tabrakkan dengan Realitas Kita

Tarik napas: bagaimana ini menyentuh kehidupan kita di Indonesia?

1. Di tempat kerja — Banyak start-up dan korporasi di kota besar mengadopsi AI untuk otomatisasi customer service, analitik penjualan, dan pembuatan dokumen. Di kantor kecil, kadang “AI” berarti template ChatGPT dipakai untuk semua proposal. Ketergantungan seperti ini berbahaya: junior staff mungkin tidak pernah belajar menulis argumen yang koheren dari nol—mereka hanya belajar mengedit output AI. Hasilnya: kemampuan berpikir struktural melemah, padahal itu penting untuk kenaikan karier jangka panjang. Masalah ini bukan hanya teknis; ini soal talent pipeline nasional. 


2. Di pendidikan — Guru dan dosen sudah menghadapi dilema: tugas siswa yang dikerjakan oleh AI vs kebutuhan siswa untuk berpikir. Jika sistem pendidikan hanya mengejar nilai dan kuantitas penugasan, AI menjadi jalan pintas; jika pendidikan menekankan proses dan refleksi, AI bisa jadi alat bantu yang memperkaya. Pendekatan ‘AI-as-scaffold’ harus diintegrasikan: misalnya, minta siswa menjelaskan alasan perubahan yang dilakukan terhadap teks AI—supaya metakognisi tetap terlatih.


3. Media sosial & identitas — Di media sosial, kemampuan retorika, narasi, dan persuasif sering didorong oleh template yang viral. Influencer yang mengandalkan konten “AI-polished” bisa kehilangan suara otentik. Lebih jauh: politik identitas bisa diperkaya atau dipermudah oleh AI—tools yang menghasilkan pidato retoris instan memungkinkan aktor politik meniru gaya tertentu tanpa memahami substansi. Di sini atrophy bukan hanya teknis tapi etis: kehilangan kapasitas untuk mengartikulasikan narasi kolektif yang bernas.


4. Relasi manusia — Hubungan kerja dan interpersonal juga dipengaruhi. Ketika asisten menulis email empatik, bisakah seseorang lagi-lagi merasakan empati itu? Empati bukan hanya kata; ia terasah lewat latihan mendengarkan dan respons yang tak langsung terotomasi. Jika kita memoutsource “kepekaan” ke AI, kita mungkin merosot dalam keterampilan emosional yang membuat komunitas berfungsi.


5. Politik & kebijakan — Di ranah kebijakan publik, pemerintah perlu memikirkan regulasi yang lebih halus daripada larangan total. Misalnya: persyaratan “periodic unaided practice” untuk profesi kritis (dokter, pengacara, auditor), pengaturan sertifikasi ulang yang memasukkan tugas tanpa bantuan AI, atau insentif bagi industri untuk mengembangkan explainable AI yang mendukung pembelajaran pengguna.



Pada akhirnya, konteks Indonesia — dengan ketimpangan akses teknologi dan disparitas pendidikan — menambah lapisan kompleks: beberapa kelompok berisiko mengalami deskilling sementara yang lain mendapatkan peningkatan kapabilitas. Kebijakan tanpa kepekaan pada distribusi ini akan memperburuk ketimpangan.



Penutup

Kita mendapat janji: AI akan membebaskan kita dari pekerjaan yang membosankan. Kita juga menerima risiko: pembebasan itu mungkin mengandung amnesia keterampilan. Pertanyaan yang mengganggu adalah bukan apakah AI “buruk” atau “baik”, tetapi: bagaimana kita merancang hubungan manusia-AI agar produktivitas hari ini tidak mengorbankan kapasitas esensial untuk esok hari? Jika kita gagal menjawabnya, generasi berikutnya mungkin mewarisi dunia yang lebih cepat — tapi lebih rapuh di dalamnya.




Referensi

Macnamara, B. N., Berber, I., ÇavuÅŸoÄŸlu, M. C., Krupinski, E. A., Nallapareddy, N., Nelson, N. E., Smith, P. J., Wilson-Delfosse, A. L., & Ray, S. (2024). Does using artificial intelligence assistance accelerate skill decay and hinder skill development without performers’ awareness? Cognitive Research: Principles and Implications. 

Tambahan : Lira, B., Rogers, T., Goldstein, D. G., Ungar, L., & Duckworth, A. L. (2025). Learning not cheating: AI assistance can enhance rather than hinder skill development (preprint).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib