Aku meminta satu bulan penuh: serentak, seragam, sederhana—tidak membuang
sampah sembarangan. Bukan orasi besar, bukan demonstrasi jalanan, melainkan
ritme harian yang diulang oleh jutaan tangan yang menaruh bungkus, sisa
puntung, dan plastik pada tempatnya.
Gagasan ini merendah namun menantang: apakah perubahan besar di negeri yang
riuh ini bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang ditata serempak? Kita sering
menunggu hukum, kurikulum, atau kepala baru. Sekali lagi, mari pertanyakan
gagasan itu. Karena mungkin, terkadang, revolusi yang paling efektif tidaklah
heboh — melainkan rapi, sunyi, dan terukur.
BAGIAN A - Fenomena
Kota-kota kita berdenyut dengan aktivitas: pedagang, ojek, anak-anak yang
berlari, kiriman makanan yang tiba tiap menit. Namun di sela denyut itu ada
jejak yang tak enak dipandang — kantong plastik di selokan, puntung rokok di
trotoar, bungkus mie instan di pinggir sungai. Fenomena ini bukan sekadar soal
estetika; ia memantulkan sebuah moral publik yang rapuh.
Ketika lorong rumah, taman, atau pinggir jalan dipenuhi sampah, orang
cenderung membaca pesan sosial yang salah:
“Kalau banyak yang meninggalkan sampah sembarangan, maka membuang sampah
sembarangan itu wajar.”
Ini menjadi spiral deskriptif — perilaku mayoritas mengukuhkan kebiasaan
buruk, membuat norma kebersihan sulit hidup.
Pengalaman sehari-hari sering memperlihatkan kontras yang menyakitkan. Di satu
sisi, ada kampanye resmi bertajuk ‘bersih’ atau program penghijauan; di sisi
lain, pagi datang dengan sampah baru yang menumpuk karena kebiasaan belum
berubah. Kita terjebak antara niat baik institusional dan kemalasan kolektif.
Infrastruktur kerap disalahkan: tong sampah sedikit, pengangkutan
terbengkalai, TPS jauh dari rumah. Itu nyata dan perlu diselesaikan. Tetapi
ada juga yang lebih halus: rasa sulitnya menginternalisasi tanggung jawab
publik ketika lingkungan sekitar memberi sinyal bahwa tanggung jawab itu bukan
milik kita. Penelitian lapangan di Indonesia menunjukkan pola-pola ini —
masalahnya bukan hanya teknologi atau regulasi, melainkan juga kultur dan
praktik sosial.
Kemudian ada dampak ekonomi dan ekologis: sampah yang menumpuk merusak saluran
air, memicu banjir kecil, menambah beban biaya pembersihan publik, dan
menurunkan kesehatan lingkungan yang pada akhirnya menambah biaya masyarakat.
Perilaku individual membentuk biaya kolektif. Kita mengeluh tentang kualitas
layanan publik, tapi jarang bertanya: berapa banyak uang negara yang terbuang
untuk membersihkan pola perilaku yang sebenarnya bisa dicegah? Data penelitian
lintas negara menunjukkan bahwa intervensi perilaku yang sederhana —
pengaturan norma dan penguatan tanggung jawab — dapat menurunkan tingkat
pembuangan sampah secara signifikan. Itu berarti ada jalan di antara
“mengganti hukum” dan “menunggu perubahan struktural besar”: desain kebiasaan
bersama.
Tapi ada masalah psikologis lain: kognisi kita suka memecah masalah besar
menjadi penundaan. “Mengganti sistem pendidikan” terdengar heroik dan menjual
di forum diskusi; “menaruh sampah pada tempatnya tiap hari selama sebulan”
terasa remeh. Paradoksnya, masyarakat maju menunjukkan: bila kebiasaan dasar
seperti membuang sampah dengan benar bisa dikuasai kolektif, kapasitas untuk
tuntutan sosial dan policy reformasi lain cenderung lebih besar karena fondasi
kepercayaan publik membaik. Kalau hal sekecil itu saja belum bisa, bagaimana
kita berharap memperbaiki perkara kompleks tanpa melatih otot kebiasaan? Studi
spasial di perkotaan Indonesia memperlihatkan hubungan kuat antara distribusi
infrastruktur dan pola akumulasi sampah — artinya, perubahan kebiasaan dan
tata ruang harus berjalan bersamaan.
BAGIAN B - Analogi
Mari baca ulang fenomena tadi melalui kacamata norma sosial dan filsafat
tindakan. Konsep sederhana: norma injunktif (apa yang seharusnya dilakukan)
dan norma deskriptif (apa yang orang lakukan). Ketika deskriptif mendominasi —
banyak yang membuang sampah — injunktif kehilangan daya. Kebersihan menjadi
retorika kosong. Menggugah injunktif berarti menegaskan kembali: “tidak
membuang sampah itu yang benar.” Tetapi menegaskan saja tak cukup; kita perlu
membuat deskriptif baru: “lihat, orang-orang kini menaruh sampah pada
tempatnya.” Perilaku kolektif berubah ketika kedua norma ini serasi. Ini bukan
retorika akademis; ini strategi praktis: ubah persepsi tentang apa yang biasa
dilakukan.
Analogi: bayangkan sebuah perusahaan besar yang ingin mengubah budaya kerja.
Mereka tidak langsung mengganti visi perusahaan — mereka mulai dari ritual
harian: rapat yang dimulai tepat waktu, kebersihan meja kerja, cara mengirim
email. Perubahan besar lahir dari mikroritual yang diulang. Seorang tokoh yang
sering dikutip di birokrasi modern adalah “small wins” management — menangani
fragment kecil secara konsisten hingga menjadi modal kolektif. Begitu pula di
ruang publik: kampanye “sebulan tak buang sampah sembarangan” adalah
eksperimen industri kebiasaan — pendekatan produk minimal yang menguji apakah
masyarakat bisa menyepakati aturan sederhana, mengukurnya, dan men-deploy
perbaikan. Bila berhasil, efek jaringan dan reputasi membuat kebiasaan baru
menguat. Lihatlah bukti empiris: intervensi perilaku yang terstruktur memberi
hasil nyata pada pengurangan sampah dalam berbagai studi kontrol
lapangan.
Baca juga,
Hobi buang sampah cita cita kok sukses.
Filosofi moral juga menawarkan kunci: kebersihan sebagai praktik kebajikan
bukan karena paksaan, melainkan karena ia mengartikulasikan penghormatan
terhadap ruang bersama. Negara maju tak sekadar tentang pendapatan per kapita;
ia tentang kapital sosial — tingkat kepercayaan, tanggung jawab, dan kapasitas
warga melakukan tindakan kolektif tanpa harus diperintah seterusnya. Ketika
setiap orang menaruh sampah pada tempatnya, itu menandakan modal sosial yang
sehat. Sebaliknya, saat sampah bertebaran, tanda-tanda ketidakpercayaan hadir:
“siapa peduli?” Maka, membersihkan lingkungan bersama ialah latihan etis dan
politis — latihan menjadi warga yang bisa dipercaya, yang menepati janji kecil
setiap hari. Referensi lintas disiplin menunjukkan bahwa penguatan norma,
disertai infrastruktur yang memadai, menuntun pada perilaku
berkelanjutan.
Kita bisa pula membaca ini sebagai kritik terhadap budaya aksi spektakuler.
Demonstrasi penting saat institusi menindas, tapi demonstrasi tidak selalu
menggantikan rutinitas budaya. Ada saatnya aksi besar perlu diganti sebelah:
sebuah strategi bottom-up yang menuntun pada pembiasaan. Bayangkan 30 hari
kebersihan massal: bukan sekadar bersih-bersih, tapi pengumuman publik,
pembagian tong di kawasan, data harian yang ditampilkan, dan reward sederhana
bagi RT yang paling konsisten. Ini memakai mekanika gamifikasi dan signaling
sosial — kombinasi yang terbukti menurunkan perilaku antisosial. Hasilnya
bukan hanya jalan yang lebih bersih, tetapi pengalaman kolektif yang membangun
kepercayaan.
Namun kritik harus jujur: ide ini tidak menggantikan kebutuhan reformasi
sistemik—pendidikan, hukum, tata kelola sampah yang modern, dan penegakan
hukum anti-korupsi. Ide “sebulan tidak buang sampah sembarangan” adalah
komplementer, bukan substitusi. Ia memperbaiki modal sosial dan mengurangi
beban kecil yang memungkinkan ruang publik lebih layak untuk perbaikan
struktural. Jika kita menuntut hukuman bagi koruptor tanpa mampu menepati
janji kecil terhadap ruang umum, tuntutan itu kehilangan kredibilitas di mata
banyak orang. Perubahan kecil sekaligus terukur memberi legitimasi moral saat
kita menuntut perubahan besar. Itu persyaratan kewibawaan kolektif.
BAGIAN C - Pertanyaan Terbuka
Jika Anda membaca ini sambil menaruh plastik minuman bekas di atas meja, tarik
napas. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak jujur: apakah kita
benar-benar ingin tinggal di lingkungan strategis yang rapi, atau kita hanya
ingin berargumen soal siapa yang salah? Banyak dari kita adalah pekerja yang
lelah, orang tua yang sibuk, pelajar yang tak punya waktu; ada pula yang tidak
punya akses mudah ke fasilitas pembuangan. Empati adalah pintu pertama. Namun
empati harus diiringi oleh aksi yang bisa dijalankan: satu tindakan kecil —
memasukkan sampah ke kantong, menunggu tong yang kosong diganti, menata sisa
makanan agar tidak dibuang sembarangan — adalah modal moral yang konkret.
Mari ajukan pertanyaan yang lebih tajam: apakah kita rela mengubah rutinitas
untuk bukti sosial yang lebih baik? Apakah kita mau menyetop kebiasaan mencari
kambing hitam — pemerintah, tetangga, atau sistem— dan memulai eksperimen
kolektif? Eksperimen itu sederhana: selama 30 hari, setiap warga satu
komplek/RT berkomitmen untuk tidak membuang sampah sembarangan; setiap hari
ada laporan singkat—foto singkat, jumlah pelanggaran, tindakan perbaikan.
Transparansi ini memicu mekanisme reputasi dan tanggung jawab. Jika sukses,
kegiatan ini bisa diskalakan. Jika gagal, kita belajar sebabnya: apakah karena
fasilitas, karena norma, atau karena pilihan politis yang lebih besar?
Refleksi batin juga menantang kebanggaan kita. Negara maju tak hadir karena
kebijakan saja; ia hadir ketika warga menjalankan ritual kewargaan tanpa harus
dimaksa. Bagian dari kemajuan adalah kemampuan mengerjakan hal-hal yang
membosankan tetapi esensial: membayar pajak, antre dengan tertib, membuang
sampah pada tempatnya. Ini bukan romantisisme moral — ini pragmatisme sosial:
bila tidak dimulai dari tanggung jawab kecil, klaim kita pada kesejahteraan
kolektif menjadi mimpi tanpa dasar. Perlahan, kita harus mengalihkan energi
dari saling menyalahkan ke menyusun mekanisme yang memudahkan tindakan benar.
Bukankah lebih mudah menaruh sampah pada tempatnya daripada menunggu perubahan
besar yang tak kunjung datang?
Akhirnya, ada unsur estetis dan hati: ruang yang bersih membuat kita lebih
mudah melihat wajah anak yang bermain, melihat air mengalir tanpa sampah,
bahkan mengurangi rasa jijik dan kemarahan sehari-hari. Ini efek psikologis
yang mengalir balik ke produktivitas, kesehatan, dan solidaritas. Jadi, inilah
tawaran: uji diri selama tiga puluh hari. Jika kita menang, bukan hanya
trotoar yang lebih bersih; kita membangun narasi baru tentang siapa kita —
warga yang mampu tanggung jawab bersama. Jika kalah, kita mendapat data untuk
memperbaiki strategi. Mana yang lebih pantas: menunggu megahnya perubahan atau
memulai yang kecil tapi bisa diukur?
Penutup
Kebiasaan kecil bukanlah obat mujarab untuk semua penyakit negeri, tetapi ia
adalah bahan bakar. Sebuah negara yang berniat maju tak hanya mengubah
undang-undang; ia menukar ritual-ritual hariannya. Membuang sampah pada
tempatnya selama sebulan bukanlah pengganti pendidikan atau hukum yang adil —
itu latihan. Latihan menjadi warga yang tidak menunggu perintah, yang merawat
ruang bersama tanpa tepuk tangan publik. Bayangkan, pada akhir bulan, jalanan
lebih bersih, selokan mengalir, dan reputasi RT meningkat. Apa yang berubah
sesungguhnya? Sebuah otot moral: kapasitas kita untuk melakukan janji kecil,
lagi dan lagi. Pertanyaannya tidak lagi “siapa yang salah?”, melainkan: apakah
kita siap memulai gerakan kebiasaan yang sunyi tapi berdaya?
Referensi
1. Wilson, B.M., et al. (2025).Behavioral interventions for waste reduction: a
systematic review. Frontiers in Psychology.
Studi ini mensintesis puluhan eksperimen yang menilai intervensi perilaku
untuk mengurangi sampah dan menemukan efek positif untuk pendekatan
berorientasi norma dan desain konteks.
2. Ai, P., et al. (2024). The model of norm-regulated responsibility for
littering prevention behaviour. Scientific Reports.
Menjelaskan pengaruh norma deskriptif dan injunktif terhadap tanggung jawab
personal dalam pencegahan pembuangan sampah.
3. Fenitra, R.M. (2023). Explaining littering prevention among park visitors
(Universitas Airlangga repository).
Studi lokal yang mengkaji motivasi pengunjung taman untuk mencegah pembuangan
sampah.
4. Kolodko, J. & Read, D. (2018). Using behavioural science to reduce
littering (WRAP/Journal of Litter and Environmental Quality).
Laporan terapan yang merekomendasikan desain intervensi berbasis bukti.
5. Frigo, G., et al. (2025). Explaining the spatial variation of litter and
dumpsites in Bandung, Indonesia.
Analisis spasial yang menghubungkan infrastruktur dan akumulasi sampah di kota
besar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar