Mengintip layar hijau mesin, mendengar derit kartu, atau menatap angka-angka
yang berputar — ada sesuatu yang bergetar di sana selain koin. Kita tergoda
untuk memberi jawaban tunggal: uang.
Tetapi pengalaman manusia jarang sesederhana itu. Di balik taruhan ada
kelaparan yang berbeda-beda: hasrat untuk cepat kaya, pelarian dari
hari yang pecah, penghiburan dari kebosanan, rasa komunitas palsu, atau
sekadar kegembiraan yang membakar.
Artikel ini mencoba mengurai apa yang sebenarnya dikejar pemain judi — bukan
untuk menghakimi, melainkan agar kita memahami peta batin di balik meja,
sehingga strategi publik dan empati sosial bisa menyasar sumber masalah, bukan
hanya gejala.
BAGIAN A - Fenomena
Di lantai kasino, di warung taruhan, atau pada tombol aplikasi judi online:
pemandangan berulang adalah manusia yang mengejar sesuatu yang lebih besar
dari taruhan itu sendiri. Banyak pemain memberi narasi —
“ingin cepat kaya”, “mencoba sekali saja”, “teman ngajak” — namun
pengalaman harian menunjukkan mozaik motif.
Untuk sebagian, judi adalah instrumen ekonomi: peluang, kalkulasi
risiko—mencari ROI dengan cara yang amatir. Untuk lainnya, judi adalah mesin
waktu singkat yang menenggelamkan kecemasan dan membuat masa lalu atau masa
depan terasa menunda; mereka membayar ‘biaya masuk’ agar saat ini terasa tidak
menyakitkan. Ada pula mereka yang bercari sensasi: pulsa adrenalin, kemenangan
kecil yang memberi sambungan listrik ke pusat penghargaan di otak, membuat
hari-hari datar menjadi berwarna.
Konteks sosial memperbesar atau memperkecil intensitas ini. Di komunitas yang
ekonomi resesif atau di antara orang-orang yang merasa mobilitas sosialnya
tertutup, janji “jackpot” berfungsi seperti narasi mitos: sebuah jalan
pintas, legitimasi cepat untuk keluar dari ketidakpastian. Di kota, di warung
kopi, dalam obrolan kantor—judi bisa menjadi topik bonding, sebuah ritual
kecil yang menyalurkan rasa ‘kita vs nasib’. Sementara di ranah online,
algoritma dan desain antarmuka mempercepat ulang-alik antara klik dan hadiah,
sehingga impuls yang dulunya tertahan kini mendapat jalur cepat menuju
tindakan.
Namun ada lapisan lain yang lebih halus:
pelarian. Ketika kehidupan memberi tekanan emosional — kehilangan,
pengangguran, rasa malu — judi menyediakan skenario di mana seseorang bisa
pada satu sisi kehilangan dan pada sisi lain menaruh harap akan “kemenangan”
yang membetulkan segalanya. Pelarian bukan sama dengan pengejaran uang semata;
pelarian adalah strategi coping, kadang adaptif sesaat tetapi destruktif bila
diulang. Meta-analisis dan tinjauan empiris modern menunjukkan bahwa
motif-motif ini tidak saling eksklusif; mereka sering menumpuk, berinteraksi,
dan memicu lintasan menuju masalah perjudian yang lebih serius.
Ekonomi perhatian juga memainkan peran. Aplikasi judi modern mendesain
hook—reward variabel, notifikasi yang memanggil kembali, serta akses
24/7—hingga alasan lama untuk “hanya coba” berubah menjadi kebiasaan yang
menuntut perhatian berulang. Ketika hidup
kerja-lembur-duduk-dengan-penghasilan-plateau menjadi norma, perjudian
menawarkan KPI emosional yang sederhana: hit, rekap, dan janji ROI yang sering
kali hanya ilusi.
BAGIAN B - Analogi
Mari membaca ulang fenomena ini lewat lensa filosofi: apa artinya ketika
manusia menukar waktu dan kehendak untuk peluang probabilistik? Jean-Jacques
Rousseau pernah bicara tentang kebebasan dan kebutuhan; hari ini, kebebasan
individu sering dipaksa bertaruh pada ketidakpastian karena kebutuhan material
atau kebutuhan emosional yang tidak dipenuhi. Dalam konteks itu, judi adalah
bahasa: ia berkata,
“Aku mau risiko karena sistem memberi sedikit pilihan lain.”
Itu bukan pembenaran, melainkan diagnosis.
Dari perspektif psikologi evolusi, otak kita dirancang untuk merespons reward
variabel. Peristiwa menang-lose yang tidak pasti memicu sirkuit yang sama yang
membuat predator rela berkambing untuk mangsa yang tidak selalu mudah didapat.
Tetapi dalam ekonomi modern, reward variabel diubah menjadi produk—slot,
taruhan olahraga, pasaran—yang memberi sinyal palsu tentang kemungkinan menang
besar.
Neurobiologi mendukung klaim ini: penelitian mengidentifikasi peran kuat
sistem dopaminergik dan jaringan reward dalam reaktivitas saat antisipasi
hadiah, bukan hanya saat menerima hadiah itu sendiri. Ilmu saraf menegaskan
bahwa perilaku judi sering kali dimotori oleh sensitivitas terhadap
ketidakpastian dan antisipasi—bukan semata-mata evaluasi rasional
peluang.
Para penjudi sulit kita pahami mengapa mereka berani keluar uang, pahami
soal uang dengan memebaca buku,
Psychology Of Money karya Morga Housel
Di ranah teori masalah perjudian, ada model yang berguna sebagai kerangka
kerja—Pathways Model—yang membagi pemain bermasalah ke dalam tipe berbeda:
mereka yang lebih banyak mengalami masalah karena kondisi biologis/impulsif,
mereka yang rentan emosional (menggunakan judi sebagai pelarian atau
pengobatan), dan mereka yang awalnya normal tapi menurun karena faktor
pembelajaran dan lingkungan.
Model ini menawarkan cara berpikir berbasis segmentasi: solusi
“one-size-fits-all” akan selalu underperform karena tidak menargetkan root
causes layaknya strategi pemasaran yang menargetkan segmen demografis
berbeda.
Analogi perusahaan: bayangkan perjudian sebagai sebuah produk disruptif dalam
portofolio sosial—ia menawarkan value proposition yang jelas (hiburan, potensi
keuntungan cepat) namun juga eksternalitas besar (kecanduan, kerugian
keluarga, penurunan produktivitas). Stakeholder—pemerintah, operator,
organisasi kesehatan masyarakat—memiliki peran untuk mengatur product-market
fit itu: kebijakan harus mengoptimalkan consumer protection dan mengurangi
negative externalities, bukan sekadar menimbang pajak atau pendapatan negara.
Dari sisi individu, pendekatan yang lebih bijak adalah “due diligence
emosional”: audit internal sebelum klik “bet”—apakah saya sedang mengejar
uang, pelarian, atau hanya boredom? Laporan empiris menunjukkan korelasi yang
cukup kuat antara motif pelarian dan risiko berkembangnya problem
gambling—informasi yang harus menjadi KPI dalam desain intervensi.
Kembali ke tokoh-tokoh kecil dalam cerita ini: ada pemain yang—seperti manajer
yang over-leveraged—menginvestasikan lebih dari yang ia punya, berharap pada
leverage yang menyelamatkan; ada pula pemain yang seperti consultant yang
terus mencari optimasi cepat (strategi sistem), dan ada pemain yang seperti
karyawan yang kelelahan; mereka menekan tombol sebagai bentuk rekreasi yang
degeneratif. Penafsiran ini mengundang kebijakan multi-level: edukasi
finansial, batasan produk (cool-down, pengecekan identitas, limit), dan
program kesehatan mental yang mengakui bahwa masalah sering bermula bukan dari
rak-rak kasino tetapi dari ruang batin yang rapuh.
BAGIAN C — Pertanyaan Terbuka
Mari turun dari abstraksi ke ranah yang lebih personal. Jika Anda pernah duduk
di depan layar taruhan pada jam-jam sepi, apa yang Anda rasakan tepat sebelum
menekan tombol? Adakah rasa kosong yang ingin diisi, atau kegembiraan yang
ingin dinikmati, atau ketakutan yang ingin ditutup? Ini bukan retorika moral;
ini undangan untuk audit batin tanpa drama.
Banyak orang yang kemudian menyesal bukan karena kalah, melainkan karena
mereka sadar telah menggunakan judi sebagai obat sementara untuk masalah yang
jauh lebih besar—kesepian, kebosanan, kegagalan struktur kerja, atau harapan
ekonomi yang remuk.
Refleksi ini juga menuntut empati: kita cenderung memvonis pemain bermasalah
sebagai “bodoh” atau “tidak disiplin”. Padahal data menunjukkan kombinasi
faktor risiko—sejarah trauma, disposisi impulsif, akses mudah ke produk judi,
serta desain produk yang memanfaatkan kelemahan psikologis—membentuk lintasan
itu. Dengan bahasa perusahaan: kita harus shift dari blame culture ke
root-cause analysis. Ketika intervensi hanya berupa penalti atau stigma, kita
kehilangan peluang untuk memperbaiki sistem.
Baca juga, Apakah kerja keras sia sia?
Ada pula aspek moral yang tak mudah dipreteli: kebebasan individu kontra
perlindungan publik. Negara yang memperbolehkan judi sebagai pendapatan pajak
sedang bermain dengan trade-off. Apakah pajak itu worth the social cost?
Sejauh ini, bukti menyarankan perlunya mitigasi—bukan pelarangan total—karena
permintaan akan permainan ini tidak akan hilang dengan larangan semata; ia
akan pindah ke pasar gelap yang lebih berbahaya. Jadi strategi yang lebih
bernalar adalah pengaturan yang keras pada desain produk, shared
responsibility operator, dan akses mudah ke layanan bantuan.
Secara pribadi (dan sedikit frontal), berharap pada edukasi singkat untuk
diberikan ke para pemain tidak cukup. Kita perlu desain lingkungan yang
meminimalkan kesempatan untuk over-commitment: fitur yang memaksa jeda,
transparansi probabilitas, serta mekanisme untuk memudahkan orang keluar
sebelum mereka kehilangan segalanya. Di level kolektif, ini mirip manajemen
risiko korporasi: Anda tidak hanya mengandalkan moral hazard individu; Anda
mengubah arsitektur produk agar risiko sistemik tidak menumpuk.
Penutup
Permainan itu mengajarkan kita sesuatu tentang harapan: betapa rapuhnya
hubungan antara mengharap dan nyata; betapa mudahnya menjual mimpi ‘keluar
dari kesulitan’ dengan probabilitas kecil. Para pemain judi mencari campuran
hal—kekayaan, pelarian, kegembiraan, bahkan komunitas. Tidak ada jawaban
tunggal karena manusia bukan mesin hitung. Yang bisa kita lakukan: mengakui
kompleksitas, mendesain kebijakan yang peka, dan menyediakan jalan keluar yang
hormat—bukan memojokkan mereka yang terperangkap. Akhirnya, pertanyaan yang
menggantung seperti gema KPI yang tidak pernah tertutup: bagaimana kita ingin
menata pasar, hukum, dan hati agar perjudian menjadi hiburan yang tidak
berubah menjadi jurang?
Referensi
1. Nower, L., & Blaszczynski, A. (2021). The revised pathways model of
problem gambling.
2. Potenza, M. N. (2013). Neurobiology of Gambling Behaviors.
3. Kayser, A. (2019). Dopamine and Gambling Disorder.
4. Hagfors, H. (2022). How gambling motives are associated with
socio-demographics and gambling involvement.
5. Alaba-Ekpo, O., et al. (2024). Examining the Strength of the Association
Between Problem Gambling and Gambling to Escape.
life is gamble
BalasHapus