WADUHMAS.COM

Mikir dulu baru bicara

Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]



Di lorong istana, ketika kursi lama ditarik dan foto-foto lama menkeu digeser, muncul satu kegelisahan publik: siapa yang akan memegang tombol anggaran ketika suara protes menuntut keadilan fiskal?

Nama Purbaya Yudhi Sadewa muncul, tak seperti politikus yang penuh hafalan pidato—ia datang seperti teknokrat yang suka membuka panel kontrol. Kita bertanya: bolehkah sebuah negara “diperbaiki” dengan logika teknik dan pola pikir insinyur-ekonom? Keganjilan inilah yang membuat kita menoleh. 




Bagian A — Latar Belakang

Purbaya bukan lahir dari panggung politik seremonial. Ia tumbuh dari lorong-lorong akademis dan koridor lembaga keuangan — latar yang menanamkan rasa waspada terhadap sistem yang bocor dan kesalahan desain. Seorang alumni Teknik Elektro ITB yang kemudian menambal dirinya dengan ilmu ekonomi hingga ke tingkat doktoral di Purdue, Purbaya melintasi dua dunia: dunia mesin yang tegas dan dunia ekonomi yang lembab oleh kepentingan. 

Masa kecilnya, apabila kita ikat menjadi sebuah metafora, lebih seperti merakit radio ketimbang menonton pidato: ia belajar menyetel frekuensi, bukan sekadar mengulang frekuensi orang lain. Di dalam pengalaman profesionalnya — dari perbankan, pasar modal, hingga menjadi ketua Lembaga Penjamin Simpanan — ia belajar bahwa institusi besar sering macet bukan karena niat jahat tunggal, melainkan karena sambungan yang longgar antara insentif dan akuntabilitas. Di sini, manusia yang dibentuk bukanlah politisi teatrikal, melainkan seorang problem-solver yang percaya pada desain kebijakan sebagai instrumen.

Gaya bicaranya: blak-blakan, kerap mengejutkan mereka yang terbiasa pada narasi berlapis-lapis. Ia bukan tukang percaya pada ritus birokrasi; ia lebih reseptif pada metrik dan outcome. Tidak perlu daftar panjang jabatan untuk menghabiskan paragraf—cukup lihat bagaimana seorang teknokrat meyakinkan bos dan pasar bahwa mesin ekonomi bisa di-reset. Dan bila itu terdengar arogan, ingat: setiap insinyur tahu risiko kerusakan ketika menekan tombol “start”. 


Purbaya adalah reklutan di masa presiden prabowo, baca juga Jejak Prabowo

Bagian B — Pergulatan Pemikiran

Purbaya tiba di kursi Menkeu di tengah badai: protes jalanan soal pajak, keresahan pasar, dan kritik terhadap kebijakan lama yang dianggap tak lagi sanggup menjawab ketimpangan. Penggantian Sri Mulyani — figur yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kredibilitas fiskal — memicu debat publik: apakah pergantian ini jawaban politik atau respons atas permintaan sosial? Bagi Purbaya, ini adalah titik di mana teori ekonomi bertabrak dengan urgensi sosial. 

Krisis batinnya bukan soal egonya; ia menghadapi dilema klasik teknokrat: apakah menjaga disiplin fiskal yang sudah terbukti membawa stabilitas, atau membuka ruang fiscal untuk solusi cepat yang dirasa perlu oleh eksekutif? Dalam beberapa pernyataan awalnya, Purbaya tampak memilih opsi “akselerasi” — ia berbicara tentang mendorong pertumbuhan ke angka yang sebelumnya terasa ambisius, bahkan menyebut 8% sebagai target yang mungkin dicapai jika kebijakan tepat sasaran. Janji ini bukan sekadar retorika—ia menandai konflik paradigmatik antara stabilitas jangka panjang dan kebutuhan kebutuhan politis jangka pendek. 

Konflik kedua: komunikasi publik. Purbaya dikenal tegas — tapi ketegasan yang tak dibalut empati politik bisa dipersepsikan sebagai meremehkan aspirasi rakyat. Beberapa pernyataannya menuai reaksi keras; publik yang marah ingin narasi yang peka, bukan sekadar spreadsheet yang disajikan di hadapan kamera. Tekanan untuk “bergerak cepat” membuatnya mengadopsi langkah-langkah yang dramatis di mata pasar — dan di sanalah ia diuji: dapatkah seorang pembuat kebijakan menyeimbangkan ketepatan teknis dan sensitivitas politik? 

Ia menghadapi juga dilema internal birokrasi: memotong anggaran transaksi yang tidak berdampak atau mengalirkan dana untuk program pro-rakyat yang tinggi visibilitasnya? Pilihannya memengaruhi reputasi, stabilitas pasar, dan—yang paling penting—kepercayaan publik. Inilah pergulatan yang tak tampak di lembar APBN: bagaimana membuat angka-angka menjadi cerita yang diterima oleh publik. Jika Purbaya memilih cepat dan besar, ia melangkah pada pisau ekonomis yang tajam; jika ia memilih hati-hati, ia mengundang kritik sebagai lamban. Tidak ada prosedur standar untuk pilihan ini. 

Bisakah menteri ini menahan diri, dan membuat dirinya tidak serakah?
Baca juga, Sirine Kaum Serakah


Bagian C — Gagasan

Purbaya membawa tiga gagasan sentral yang layak direnungkan:

1. Desain Kebijakan sebagai Insinyur:

Ia melihat anggaran sebagai mesin yang dapat dioptimalkan — komponen-komponennya harus sinkron, kebocoran diperbaiki, dan output diukur dengan KPI sosial-ekonomi. Ini bukan sekadar metafora; ia menuntut audit aliran dana yang lebih agresif dan optimalisasi cadangan negara untuk tujuan likuiditas. Ide ini relevan: negara memang butuh “maintenance” berkala, tetapi negara bukan pabrik—ia menyimpan kewajiban moral yang tak bisa hanya dinilai dari efisiensi. 


2. Akselerasi Pertumbuhan sebagai Obsesinya:

Purbaya cukup jelas: menumbuhkan ekonomi adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah fiskal dan sosial. Ia tak segan mendorong intervensi likuiditas besar untuk menghidupkan kembali kredit dan investasi — langkah yang terlihat ketika ia mengumumkan rencana penyaluran cadangan ke bank untuk memacu pemberian kredit. Ini adalah pendekatan pro-growth yang agresif; pro: menciptakan lapangan kerja cepat, kontra: risiko overheat dan penurunan kepercayaan investor jika tidak dikelola rapi. 


3. Fleksibilitas Aturan Fiskal (dengan catatan):

Ia menyatakan bahwa batasan seperti “defisit 3%” adalah indikator, bukan kitab suci — angka-angka itu bersifat arbitrarisme teknis untuk menilai kemampuan bayar negara. Ia memandang kebijakan fiskal sebagai soal konteks: kadang diperlukan pelonggaran terukur untuk mencapai tujuan sosial-ekonomi yang lebih besar. Pemikiran ini memicu debat: bagaimana menjaga investor institusional yang menghargai disiplin, sekaligus menanggapi urgensi politik domestik?



Dalam bahasa korporat: Purbaya menuntut rekalibrasi KPI makro tanpa mengorbankan governance. Di atas kertas, gagasan-gagasan ini berkilau seperti roadmap transformasi; di lapangan, mereka menuntut kemampuan manajemen risiko yang tajam—risk appetite terlalu besar bisa memicu shock pasar; terlalu kecil, maka program pro-rakyat tak berjalan.




Bagian D — Refleksi untuk Zaman Sekarang

Kita hidup di era di mana narasi fiskal berperang melawan narasi moral. Dari sudut pandang “Waduhmas”, Purbaya seperti manajer turnaround yang tiba di perusahaan besar yang nilainya terus menurun—publik adalah pemegang saham emosional. Pertanyaannya: apakah kita ingin CFO (finance minister) yang seperti CEO startup — cepat, eksperimental, dan terkadang sembrono — atau seorang steward lama yang menjaga reputasi jangka panjang?

Bagi pembaca yang kerjaannya melihat spreadsheet, Purbaya adalah kabar baik: ada yang berani memencet tombol likuiditas. Bagi mereka yang hidup di pinggiran kota yang menuntut subsidi, Purbaya harus membuktikan bahwa kebijakan “akselerasi” juga bisa merata, bukan hanya memompa angka GDP. Kita perlu bertanya: apakah cara cepat memperbesar kue ekonomi benar-benar sampai ke meja-meja kecil di kampung? 

Kritis lain: legitimasi. Pergantian figur berpengaruh seperti Sri Mulyani tidak pernah hanya soal teknis. Ia menyisakan luka kepercayaan bagi investor luar negeri sekaligus harapan bagi publik yang ingin perubahan. Purbaya harus mengoperasikan kebijakan seperti produk yang harus diuji A/B: jika satu program memperbesar sosial benefit tanpa merusak stabilitas, itu bisa menjadi blueprint. Jika tidak, kita harus siap mengoreksi cepat. Ini bukan soal kesalahan personal—melainkan soal desain institusional. 

Di level individu: pembuat kebijakan perlu belajar retorika empatik. Angka tanpa cerita tak pernah memenangkan hati rakyat. Putuskan kebijakan dengan data, komunikasikan dengan bahasa yang merangkul, dan pasang KPI yang bisa dipahami oleh warga sederhana. Kalau tidak, bahkan kebijakan terbaik pun akan berakhir sebagai slide PowerPoint yang tidak pernah dibaca.




Bagian E — Warisan

Warisan Purbaya akan tercatat dua arah:

Bila ia mampu menghidupkan kredit dan memacu pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas, jejaknya adalah sebagai arsitek akselerasi yang pragmatis. Jika kebijakan likuiditas masif menyebabkan ketidakpercayaan pasar atau inflasi, warisannya akan menjadi peringatan klasik tentang risiko “terlalu bernafsu” pada growth at any cost. Beberapa kontroversi awal—dari komentar publiknya hingga postingan media sosial pihak keluarga yang memancing kebisingan—sudah menempel seperti noda pada kemeja rapi.

Ada juga paradoks menarik: seorang teknokrat yang mengagungkan optimasi operasional harus berhadapan dengan hal terpenting dalam politik—legitimasi. Ia bisa menjadi figur yang memperkuat tata kelola fiskal modern dengan pendekatan engineering, atau menjadi katalisator ketidakpastian pasar jika komunikasi dan manajemen risiko gagal. Warisannya, pada akhirnya, tidak hanya ditimbang oleh angka GDP, tetapi oleh cerita keseharian: apakah rakyat merasa hidupnya membaik? Jika jawabannya “ya” dalam 3–5 tahun, namanya akan dipanggil dalam buku sejarah; jika “tidak”, maka ia hanya menjadi catatan kecil di sela-sela reshuffle kabinet. 




Penutup

Mungkin Purbaya bukan untuk disukai atau dibenci secara total—ia adalah eksperimen publik: seorang insinyur yang diberikan instrumen ekonomi. Kita tidak wajib menerima semua janji atau menolak semua perubahan; yang penting adalah menuntut akuntabilitas: KPI yang transparan, narasi yang manusiawi, dan koreksi cepat bila eksperimen melenceng. Tokoh-tokoh seperti Purbaya mengundang kita untuk bertanya ulang: apakah kita ingin birokrasi seperti museum atau seperti bengkel—rapi, tapi hidup? Jawaban itu, seperti anggaran negara, harus disusun bersama. 




Referensi

1. Reuters — Indonesia names Purbaya Yudhi Sadewa as new finance minister after Sri Mulyani removed.  


2. Kementerian Keuangan Republik Indonesia — Profil Purbaya Yudhi Sadewa (Menteri Keuangan).  


3. Bloomberg — Indonesia's New Finance Minister Aims to Spur Growth, Ease Unrest.  


4. Business-Indonesia / Media — Indonesia’s New Finance Minister Moves IDR 200 Trillion to Banks, Signals Budget Continuity. 


5. Financial Times — Indonesia markets rattled after Prabowo Subianto fires finance minister. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib